Penculikan ! benarkah ??
Oleh : Risma Fitriyana
Didalam kamar berukuran 4x3 meter berwarna biru
terang itu seorang gadis masih sibuk menata kerudung sekolahnya didepan cermin.
“kacu, topi, baju, kerudung. Oke semuanya lengkap”
gumamnya sambil memperhatikan dirinya didepan cermin , setelah itu ia segera
mengambil ransel besar yang ia letakkan diatas tempat tidurnya. Kemudian
beranjak pergi keluar kamarnya.
Riana, nama gadis berusia 17 tahunan itu. Ia
sekarang duduk di bangku kelas XII IPA 3 MAN SELAT TENGAH KUALA KAPUAS, salah satu kota yang ada dikalimantan tengah
indonesia. Hari ini sekolahnya akan mengadakan pengukuhan pramuka untuk murid
baru dan Riana menjadi salah seorang panitia acara tersebut. Setelah berpamitan
dengan kedua orang tuanya ia segera berangkat kesekolah yang berjarak sekitar 2
km dari rumahnya bersama tetangga sekaligus sahabatnya bernama Lia yang juga
menjadi panitia pada pengukuhan itu.
MAN SELAT TENGAH
Gedung bertingkat dua yang berwarna hijau itu segera
menyambut kedatangan mereka, tidak banyak orang disana. Itu dikarenakan mereka
berangkat lebih awal dari para peserta dan mereka harus menyiapkan beberapa hal
sebelum peserta datang. Digedung samping dekat parkiran sepeda hanya ada
beberapa kuli bangunan yang masih asyik merenovasi gedung,kuli yang mereka
lihat sejak mereka pulang sekolah tadi hingga sekarang mereka kembali lagi
kesekolah.
Beberapa anak laki-laki seumuran dengan mereka
terlihat sedang sibuk ditengah lapangan menyusun dan mengumpulkan kayu bakar yang
nantinya akan digunakan untuk menyalakan api unggun. Didalam ruang kelas XII
IPA 2 Riana melihat beberapa teman perempuannya sedang sibuk mengangkat
perabotan memasak yang mereka bawa dari rumah menuju ruang aula sekolah. Segera
saja Riana dan Lia menghampiri teman-temannya untuk ikut membantu.
“yuli, ada yang
bisa kubantu ? sepertinya kalian kerepotan.”
Kata Riana memegang pundak Yuli.
“banyak, tuh
lihat kompor-kompor itu masih belum dibawa ke aula. Sepertinya kau bisa
diandalkan” ucap Yuli sambil
menunjuk kearah kompor-kompor yang ada di depan kelas.
“siap bos” ucap Riana “lia, bisa bawakan tasku. Aku mau langsung
keaula” tambahnya lagi sambil menyerahkan ranselnya pada Lia. Setelah itu
Riana dan Yuli segera mengangkat kompor besar itu bersama-sama. Dan Lia masuk
kedalam kelas untuk meletakkan tas dan bersih-bersih.
Semua persiapan telah mereka persiapkan dan para
peserta pun sudah banyak yang datang tinggal menunggu upacara pembukaan.
Sekitar pukul 15.00 wib upacara pembukaan dimulai yang kemudian dilanjutkan
dengan permainan dan pengarahan yang diberikan oleh guru pendamping. Begitulah
tradisi yang selama ini dijalankan di MAN SELAT, setiap tahun selalu diadakan
pengukuhan pramuka yang harus diikuti seluruh murid kelas X.
Kali ini Riana dan Lia kebagian tugas untuk
mendampingi regu dua putri yang terdiri dari 10 orang. Ditengah asyiknya para
peserta dan panita melakukan berbagai macam kegiatan Riana dan Lia memilih
duduk dan beristirahat sambil berbincang-bincang didepan gedung yang masih direnovasi
yang tak jauh dari lingkaran teman-temannya
“sepertinya
malam ini akan turun hujan” ucap
Riana sambil mengangkat wajahnya keatas menatap awan hitam yang mulai menutup
cahaya terang matahari.
“semoga saja
tidak, kalau sampai hujan api unggun tidak bisa dinyalakan dilapangan” kata Lia sambil mengikuti Riana mengangkat wajahnya untuk melihat langit yang
tadi cerah berubah menjadi mendung. Keduanya mungkin berdo’a ditengah-tengah
permainan yang sedang dilakukan, kemudian kembali bergabung dengan
rekan-rekannya yang lain.
Benar seperti dugaan Riana, hujan
turun dengan lebatnya sehingga mereka hanya dapat melakukan berbagai kegiatan
didalam ruang aula. Para teman-temannya yang laki-laki segera bergerak
kelapangan untuk menutup kayu bakar yang telah mereka persiapkan. Sejenak
berbagai acara terpaksa diundur dan diganti dengan acara lain sampai menunggu
hujan benar-benar telah reda.
Dan syukurlah hujan datang hanya
sebentar, selepas magrib hujan sudah benar-benar berhenti meski begitu acara api
unggun yang seharusnya dilaksanakan setelah sholat isya terpaksa diundur ke jam
19.30 malam.
Pukul 17.30 (waktu istirahat makan)
Semuanya perserta sedang makan di ruangnya
masih-masing, Riana dan Lia lebih memilih untuk jalan-jalan sambil mengawasi kalau-kalau
ada siswa/siswi yang sedang keluyuran dijam makan itu. Namun tiba-tiba saat
mereka asyik jalan-jalan lampu mati.
“huh, kenapa harus mati lampu
disaat-saat begini sih. Kita kedepan saja yuk, mungkin di pos keaman ada
penerangan darurat” ucap Riana
mengajak Lia kedepan gerbang
“ehm, yuk. Lagipula aku kurang suka gelap
seperti ini. Diruang peserta sudah ada yang menjaga juga kan ?” kata lia
bertanya tanpa berhenti berjalan.
“ya, tadi kalau salah diruang putri
ada Yuli dan Nisa yang menjaga. Dan diruang putra sudah ada Anto dan Rizal.
Jadi kita bisa kedepan” kata Riana
menyakinkan Lia. Kemudian mereka segera
menuju pos keamanan disana hanya dijaga oleh Yusuf seorang yang juga sibuk dengan ponselnya yang
sejak tadi dipelototinya.
“Suf, kenapa lampunya mati ?. Kasihan kan
pesertanya mereka sedang makan” kata Riana sambil duduk disamping Yusuf
yang sedang berjaga.
“entahlah ka, aku juga tidak tahu.
Mungkin sebentar lagi lampunya nyala”
kata Yusuf menjawab pertanyaan Riana dengan mata terus mengarah keponselnya.
“eh, yusuf orang-orang itu siapa sih”
kata Lia sambil menunjuk dua orang laki-laki dewasa yang berdiri didepan aula.
“
oh, itu tadi orang tuanya Wulan murid
kelas X Ips 2 yang datang untuk mengantar makanan” kata yusuf menjelaskan,
kini ia melepaskan pandangannya dari ponselnya.
“ooh gitu ya, kalau yang satunya lagi siapa?”
tanya Lia lagi , namun belum sempat Yusuf menjawab lampunya kembali meyala.
“alhamdulillah, lampunya udah
nyala. Lia kita kasih tahu yang lain untuk persiapan api unggun udah jam 8
lewat nih” kata Riana berdiri,
yang kemudian dibalas anggukan oleh lia. Mereka pun segera pergi menuju tempat
panitia-panita yang lain untuk mempersiapkan acara api unggun.
Acara api unggun pun dapat dilakukan
dengan lancar meskipun tertunda dan api nya tidak menyala sebesar harapan
dikarenakan ada beberapa kayu yang masih basah karena hujan tadi. Setelah
selesai, sekitar jam 22.00 lewat semua peserta akhirnya kembali keruangnya untuk
tidur, tapi sebelum itu mereka diabsen dulu untuk memastikan bahwa semuanya
sudah lengkap. Namun sesuatu terjadi dengan regu 2 putri, jumlah anggotanya
berkurang satu orang. Riana yang waktu itu menjadi pendamping panik karena
salah satu anggotanya hilang, setelah ditanyakan kepada teman-temannya tidak ada
yang melihatnya sejak acara api unggun .
“bagaimana bisa dia hilang, apa
kalian tidak ingat kapan dia hilang ?”
tanya Riana panik
“maaf kak, sebenarnya saat jam
makan Bunga keluar katanya ada yang ingin dilakukan. Setelah itu aku tidak
melihatnya lagi, aku pikir dia bersama teman-temannya yang ada di regu 4” kata salah seorang teman Bunga yang hilang.
“sudah kutanyakan pada
teman-temannya yang ada diregu empat tapi mereka bilang tidak ada yang melihat
bunga” kata Yuli yang
kebetulan adalah pendamping regu 4
putri.
“apa jangan-jangan dia pulang ya ?,
Nisa tolong kamu hubungi orang tuanya”
kata Akbar selaku ketua pramuka di Man selat.
Nisa mencoba menghubungi orang tua
bunga, tapi kata orang tuanya bunga tidak pulang kerumah. Riana semakin panik
setelah mengetahui bahwa bunga ditadak pulang kerumah. “ lalu kamu dimana sekarang bunga ?” ucap Riana dalam hati.
Dengan hilangnya bunga acara
pengukuhan menjadi kacau, para peserta dan panitia bersama-sama berkeliling
gedung sekolah. Setelah hampir satu jam mencari bunga tidak juga ditemukan.
Riana mencoba berpikir, ia mencoba
mengingat-ingat adakah hal yang janggal sebelum hilangnya Bunga. “jangan-jangan..” batinnya kemudian
berlari menuju kantin, teman-temannya heran melihat riana tiba-tiba berlari
kearah kantin karena penasaran dengan apa yang akan dilakaukan Riana, Lia,
Akbar dan Nisa mengikuti nya sedangkan Yuli tetap bersama para peserta dan
membimbing mereka menuju ruang aula.
“ada apa Ri ?, kenapa berlari
kesini ?” tanya Akbar saat
sudah bisa menyusul Riana.
“huh, kupikir Bunga keluar dari Man
lewat pintu ini ?” katanya
menunjuk pintu belakang yang biasanya digunakan oleh ibu-ibu penjaga kantin.
“tapi sepertinya tidak mungkin,
pintu ini terlalu tinggi kalau dipanjat dan tidak mungkin dibuka kuncinyakan
ada pada Yusuf” terang lia.
“Yusuf ??, jangan-jangan...” belum selesai riana mengucapkan kata-katanya, ia
kembali berlari kedepan sekolah untuk menemui yusup.
“kenapa sih riana, dari tadi lari
melulu” tanya Lia heran
kemudian mengikuti sahabatnya itu berlari.
Terjadi percakapan panjang antara
Yusup dan Riana, mereka terus berpikir kemana hilangnya Bunga. Saat itu semua
peserta setelah berkeliling mencari bunga yang tidak juga ditemukan dikumpulkan
diruang aula sekolah.
“oh ya suf, tadikan kamu jaga
disini. Apa tidak lihat,mungkin saja Bunga pergi keluar”kata Riana serius.
“rasanya tidak mungkin deh Ka,
soalnya sejak tadi aku menjaga tidak ada yang keluar masuk
kecuali..” kata Yusuf sambil berpikir untuk melanjutkan
kata-katanya.
“kecuali apa Suf ?”kata Riana penasaran
“kecuali dua orang bapak-bapak yang
tadi saat mati lampu kamu tanyakan itu Ka”
kata Yusuf
“trus kemana dua orang itu ?” tanya riana tak sabar dengan jawaban Yusup
“yang satu ayahnya Wulan sudah
pulang saat upacara api unggun dimulai, tapi satu orang lagi
belum pulang” kata Yusup sambil memeriksa buku tamu yang ada
didepannya.
“hah, belum pulang ? sekarang
dimana orang itu ? siapa namanya ? trus kesini mau ketemu siapa?” tanya Riana sambil menatap tajam Yusuf.
“sabar donk Ri, nanya tuh
satu-satu. tuh lihat yusuf sampai kaget gitu”
kata Lia sambil menepuk-nepuk pundak Riana
“bener tuh ka, sabar donk. Ehm nih
aku jawab. Iya orang itu belum pulang, tadi aku lupa nanya namanya, trus waktu
aku tanya mau ketemu siapa dia cuman bilang kayak gini SAYA MAU KETEMU SESEORANG
! KENAPA TIDAK BOLEH “ kata yusuf
menjelaskan sambil menirukan gaya bicara orang yang misterius yang sekarang
mulai dicurigai Riana.
“harusnya kamu tanya lebih jelas
donk, siapa yang mau dia temuin “
kata Riana mulai menyalahkan Yusuf.
“yah Ka, mana berani aku
tanya-tanya lagi. Pertanyaan pertama aku aja dingejawab sambil marah-marah” kata Yusuf membela diri.
Riana berpikir sejenak , kasus
hilangnya Bunga di acara pengukuhan ini membuat naluri detective nya keluar.
Riana yang sejak awal sangat menyukai cerita Detectiv pun akhirnya mulai
menganalisis kejadian ini dengan seksama, wajahnya masih belum menampakkan
senyum yang artinya ia masih belum bisa memecahkan kasus hilangnya Bunga.
“apa jangan-jangan Bunga diculik
oleh orang misterius itu“ kata Riana
setelah berpikir cukup panjang.
“ah itu tidak mungkin Ri” kata Lia menyanggah pemikiran Riana
“apanya yang tidak mungkin, bukankah Bunga
menghilang saat mati lampu dan orang itu datang kan. Dan sekarang Bunga
menghilang,serta orang itu tidak ada keluar lewat gerbang depan “ kata
mulai menjelaskan pemikirannya.
“benar juga, berarti ini kasus
penculikan kita harus melaporkannya ke polisi”
kata Lia mulai panik setelah mendengar penjelasan Riana
“percuma, polisi juga tidak akan
menganggapnya hilang sebelun 2x24 jam”
kata Riana
“tapi inikan penculikan” kata Yusup sambil mengambil ponselnya dari saku
baujunya.
”tenanglah, kalau analisa ku ini
benar. aku yakin pelakunya masih ada didalam sekolah ini dan belum bergerak
dari pesembunyiannya” kata Riana
sambil menatap Lia dan Yusuf bergantian.
“kenapa ?, diakan bisa kabur lewat
pintu belakang. Disanakan tidak ada yang menjaga, walaupun dikunci kalau orang
dewasa pasti bisa memanjatnya”
kata Yusuf heran
“tadi kami sudah kesana, aku sudah
memastikannya walaupun bisa dipanjat tapi pelaku membawa korban yang
kemungkinan dibuat pingsan itu akan membuatnya sulit memanjat. Kalaupun pelaku
nekat memanjat pasti ditembok gerbang akan ada jejak sipelaku” kata Riana
“jejak maksudnya ?” tanya Lia tak mengerti
“ya, bukankah disamping pagar
belakang dikeliling dengan tanah berumput dan hari ini hujan itu akan
menyebabkan tanah becek sehingga kalau ia memanjat tanah yang menempel disepatu
atau sendal pelaku pasti akan menempel ditembok gerbang yang berwarna biru itu” kata Riana menjelaskan dengan jelas analisisnya.
“benar juga, jadi tadi kamu sudah
memastiakannya ya ?” tanya Yusuf
“ya, yang aku heran sekarang
seluruh ruangan sudah kami periksa tapi tidak ditemukan siapapun pun” katanya mengingat-ingat saat mereka berkeliling
mencari bunga.
“kalau begitu aku akan melaporkan
ini dulu pada Akbar” kata Lia
kemudian berlari mencari akbar yang masih memeriksa seluruh gedung.
Setelah Lia berlari mencari akbar
tiba-tiba Yuli datang sambil berlari kegerbang depan tempat Riana dan Yusup
berada. Yuli terlihat senang, ia sepertinya sudah menemukan Bunga.
“Ri, Sup bunga sudah ketemu” katanya sambil duduk disamping Riana.
Setelah Yuli datang memberitahu
Riana dan Yuli segera menemui bunga yang kata Yuli sudah ditemukan, dan Yusup
tetap ditempatnya sesuai perintah Riana agar pelaku tak bisa kabur.
Setelah mereka sampai ditempat Bunga
mereka melihat anak itu sedang terbaring didalam ruang kelas X Ipa 3 yang
bersebelahan dengan ruangan peserta putri. Dengan segera Riana mengecek anak
itu, napasnya terlihat normal dan tak ada tanda-tanda kekerasan ditubuhnya. Ketika
Riana melihat-lihat disekitar bunga ia menemukan beberapa macam obat dan
segelas minuman aqua 600 ml yang tumpah disamping korban. Setelah itu Bunga
segera diangkat menuju ruang UKS. Bunga tidak pingsan ia hanya tertidur.
Setelah diUKS Riana mencoba membangunkannya.
Setelah bunga bangun dia segera
menceritakan kenapa dia tertidur diruang sebelah. Ternyata saat itu salah
meminum obat, dia pikir obat yang dibawanya adalah obat sakit perut yang biasa
diminumnya ternyata malah obat tidur neneknya, selain itu ia bersembunyi
keruang sebelah juga untuk mengganti pakaian nya makanya ia menyusun kursi agar
tubuhnya tidak kelihatan saat berganti baju. Setelah mengganti baju, ia ingin
minum obat tapi saat itu lampu mati hingga ia tidak melihat obat apa yang diminumnya
dalam jumlah 5 biji itu adalah obat tidur hingga membuatnya sangat mengantuk
kemudian tertidur. Riana sangat jengkel dengan tindakan ceroboh Bunga yang
tiba-tiba menghilang sehingga membuat gempar seisi sekolah dan ternyata ia
malah tertidur dengan nyenyaknya hingga tak mendengar panggilan teman-temannya
yang mencarinya.
Setelah
itu suasana menjadi tenang kembali para peserta dan panitia pengukuhan tidak
khawatir lagi dengan pelaku penculikan yang di pikirkan Riana. Setelah
ditemukannya Bunga, riana tidak bernafsu lagi untuk tidur kantuknya telah
hilang jadi ia menghabiskan waktunya menunggu jurit malam sebentar lagi bersama
Yusup dan Lia dipos keamanan didepan gerbang.
“huh kupikir diculik ternyata malah
tertidur” kata Riana mengomel
pada Yusuf dan Lia.
“iya, bikin heboh aja tuh anak” kata Lia menyahut.
“hehehe, ka Riana marah kerena analisanya
salah ya” kata Yusuf mulai mengejek Riana
“huh, jangan ngejek kamu. Oh ya
sup, orang aneh itu sudah pulang belum. Aku pengen minta maaf nih, karena udah mikir
orang itu penculik” kata riana
mulai menanyakan laki-laki yang sempat dituduhnya menjadi pelaku.
“ooh, bapak-bapak itu ?, sudah tadi
pulang bareng kepala sekolah saat kalian masih ribut membangunkan bunga” kata Yusuf sambil membuka buku tamunya
“hah, kok sama kepala sekolah ?” kata Riana dan Lia serentak
“iya, aku juga keget waktu ngeliat
dia sama pak kepala sekolah. Ternyata dia sepupu kepala sekolah” kata Yusup menjelaskan.
Akhirya diketahuilah identitas
laki-laki misterius yang sempat dituduh sebagai pelaku
penculikan yang tidak
lain adalah sepupu dari kepala sekolah mereka. Rasa penasaran Riana terhadap
laki-laki itupun terjawab dan semua kegiatan pengukuhan berjalan dengan baik
dan lancar. Rianapun balajar dari kesalahannya yang telah menuduh orang lain
sebagai penculik. Ia juga berjanji Jika nanti ia sudah menjadi Detective ia
tidak akan mengulangi kesalahanya lagi.
~Selesai~
Terima kasih sudah membaca
cerita yang menarik
BalasHapus