Kamis, 16 Oktober 2014

Penculikan ! benarkah ?


Penculikan ! benarkah ??
Oleh : Risma Fitriyana

Didalam kamar berukuran 4x3 meter berwarna biru terang itu seorang gadis masih sibuk menata kerudung sekolahnya didepan cermin. 

“kacu, topi, baju, kerudung. Oke semuanya lengkap” gumamnya sambil memperhatikan dirinya didepan cermin , setelah itu ia segera mengambil ransel besar yang ia letakkan diatas tempat tidurnya. Kemudian beranjak pergi keluar kamarnya. 

Riana, nama gadis berusia 17 tahunan itu. Ia sekarang duduk di bangku kelas XII IPA 3 MAN SELAT TENGAH KUALA KAPUAS,  salah satu kota yang ada dikalimantan tengah indonesia. Hari ini sekolahnya akan mengadakan pengukuhan pramuka untuk murid baru dan Riana menjadi salah seorang panitia acara tersebut. Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya ia segera berangkat kesekolah yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya bersama tetangga sekaligus sahabatnya bernama Lia yang juga menjadi panitia pada pengukuhan itu.

MAN SELAT TENGAH

Gedung bertingkat dua yang berwarna hijau itu segera menyambut kedatangan mereka, tidak banyak orang disana. Itu dikarenakan mereka berangkat lebih awal dari para peserta dan mereka harus menyiapkan beberapa hal sebelum peserta datang. Digedung samping dekat parkiran sepeda hanya ada beberapa kuli bangunan yang masih asyik merenovasi gedung,kuli yang mereka lihat sejak mereka pulang sekolah tadi hingga sekarang mereka kembali lagi kesekolah.

Beberapa anak laki-laki seumuran dengan mereka terlihat sedang sibuk ditengah lapangan menyusun dan mengumpulkan kayu bakar yang nantinya akan digunakan untuk menyalakan api unggun. Didalam ruang kelas XII IPA 2 Riana melihat beberapa teman perempuannya sedang sibuk mengangkat perabotan memasak yang mereka bawa dari rumah menuju ruang aula sekolah. Segera saja Riana dan Lia menghampiri teman-temannya untuk ikut membantu. 

“yuli, ada yang bisa kubantu ? sepertinya kalian kerepotan.” Kata Riana memegang pundak Yuli.

“banyak, tuh lihat kompor-kompor itu masih belum dibawa ke aula. Sepertinya kau bisa diandalkan” ucap Yuli sambil menunjuk kearah kompor-kompor yang ada di depan kelas.

“siap bos  ucap Riana “lia, bisa bawakan tasku. Aku mau langsung keaula” tambahnya lagi sambil menyerahkan ranselnya pada Lia. Setelah itu Riana dan Yuli segera mengangkat kompor besar itu bersama-sama. Dan Lia masuk kedalam kelas untuk meletakkan tas dan bersih-bersih.

Semua persiapan telah mereka persiapkan dan para peserta pun sudah banyak yang datang tinggal menunggu upacara pembukaan. Sekitar pukul 15.00 wib upacara pembukaan dimulai yang kemudian dilanjutkan dengan permainan dan pengarahan yang diberikan oleh guru pendamping. Begitulah tradisi yang selama ini dijalankan di MAN SELAT, setiap tahun selalu diadakan pengukuhan pramuka yang harus diikuti seluruh murid kelas X. 

Kali ini Riana dan Lia kebagian tugas untuk mendampingi regu dua putri yang terdiri dari 10 orang. Ditengah asyiknya para peserta dan panita melakukan berbagai macam kegiatan Riana dan Lia memilih duduk dan beristirahat sambil berbincang-bincang didepan gedung yang masih direnovasi yang tak jauh dari lingkaran teman-temannya

“sepertinya malam ini akan turun hujan” ucap Riana sambil mengangkat wajahnya keatas menatap awan hitam yang mulai menutup cahaya terang matahari.

“semoga saja tidak, kalau sampai hujan api unggun tidak bisa dinyalakan dilapangan” kata Lia sambil mengikuti Riana  mengangkat wajahnya untuk melihat langit yang tadi cerah berubah menjadi mendung. Keduanya mungkin berdo’a ditengah-tengah permainan yang sedang dilakukan, kemudian kembali bergabung dengan rekan-rekannya yang lain.

            Benar seperti dugaan Riana, hujan turun dengan lebatnya sehingga mereka hanya dapat melakukan berbagai kegiatan didalam ruang aula. Para teman-temannya yang laki-laki segera bergerak kelapangan untuk menutup kayu bakar yang telah mereka persiapkan. Sejenak berbagai acara terpaksa diundur dan diganti dengan acara lain sampai menunggu hujan benar-benar telah reda.

            Dan syukurlah hujan datang hanya sebentar, selepas magrib hujan sudah benar-benar berhenti meski begitu acara api unggun yang seharusnya dilaksanakan setelah sholat isya terpaksa diundur ke jam 19.30 malam.

            Pukul 17.30 (waktu istirahat makan)

Semuanya perserta sedang makan di ruangnya masih-masing, Riana dan Lia lebih memilih untuk jalan-jalan sambil mengawasi kalau-kalau ada siswa/siswi yang sedang keluyuran dijam makan itu. Namun tiba-tiba saat mereka asyik jalan-jalan lampu mati.

“huh, kenapa harus mati lampu disaat-saat begini sih. Kita kedepan saja yuk, mungkin di pos keaman ada penerangan darurat” ucap Riana mengajak Lia kedepan gerbang

“ehm, yuk. Lagipula aku kurang suka gelap seperti ini. Diruang peserta sudah ada yang menjaga juga kan ?” kata lia bertanya tanpa berhenti berjalan.

“ya, tadi kalau salah diruang putri ada Yuli dan Nisa yang menjaga. Dan diruang putra sudah ada Anto dan Rizal. Jadi kita bisa kedepan” kata Riana menyakinkan Lia. Kemudian  mereka segera menuju pos keamanan disana hanya dijaga oleh Yusuf  seorang yang juga sibuk dengan ponselnya yang sejak tadi dipelototinya.

Suf, kenapa lampunya mati ?. Kasihan kan pesertanya mereka sedang makan” kata Riana sambil duduk disamping Yusuf yang sedang berjaga.

“entahlah ka, aku juga tidak tahu. Mungkin sebentar lagi lampunya nyala” kata Yusuf menjawab pertanyaan Riana dengan mata terus mengarah keponselnya.

eh, yusuf orang-orang itu siapa sih” kata Lia sambil menunjuk dua orang laki-laki dewasa yang berdiri didepan aula.

oh, itu tadi orang tuanya Wulan murid kelas X Ips 2 yang datang untuk mengantar makanan” kata yusuf menjelaskan, kini ia melepaskan pandangannya dari ponselnya.

ooh gitu ya, kalau yang satunya lagi siapa?” tanya Lia lagi , namun belum sempat Yusuf menjawab lampunya kembali meyala.

“alhamdulillah, lampunya udah nyala. Lia kita kasih tahu yang lain untuk persiapan api unggun udah jam 8 lewat nih” kata Riana berdiri, yang kemudian dibalas anggukan oleh lia. Mereka pun segera pergi menuju tempat panitia-panita yang lain untuk mempersiapkan acara api unggun.


            Acara api unggun pun dapat dilakukan dengan lancar meskipun tertunda dan api nya tidak menyala sebesar harapan dikarenakan ada beberapa kayu yang masih basah karena hujan tadi. Setelah selesai, sekitar jam 22.00 lewat semua peserta akhirnya kembali keruangnya untuk tidur, tapi sebelum itu mereka diabsen dulu untuk memastikan bahwa semuanya sudah lengkap. Namun sesuatu terjadi dengan regu 2 putri, jumlah anggotanya berkurang satu orang. Riana yang waktu itu menjadi pendamping panik karena salah satu anggotanya hilang, setelah ditanyakan kepada teman-temannya tidak ada yang melihatnya sejak acara api unggun .

“bagaimana bisa dia hilang, apa kalian tidak ingat kapan dia hilang ?” tanya Riana panik

“maaf kak, sebenarnya saat jam makan Bunga keluar katanya ada yang ingin dilakukan. Setelah itu aku tidak melihatnya lagi, aku pikir dia bersama teman-temannya yang ada di regu 4” kata salah seorang teman Bunga yang hilang.

“sudah kutanyakan pada teman-temannya yang ada diregu empat tapi mereka bilang tidak ada yang melihat bunga” kata Yuli yang kebetulan adalah pendamping regu  4 putri.

“apa jangan-jangan dia pulang ya ?, Nisa tolong kamu hubungi orang tuanya” kata Akbar selaku ketua pramuka di Man selat.

            Nisa mencoba menghubungi orang tua bunga, tapi kata orang tuanya bunga tidak pulang kerumah. Riana semakin panik setelah mengetahui bahwa bunga ditadak pulang kerumah. “ lalu kamu dimana sekarang bunga ?” ucap Riana dalam hati.

            Dengan hilangnya bunga acara pengukuhan menjadi kacau, para peserta dan panitia bersama-sama berkeliling gedung sekolah. Setelah hampir satu jam mencari bunga tidak juga ditemukan.

            Riana mencoba berpikir, ia mencoba mengingat-ingat adakah hal yang janggal sebelum hilangnya Bunga. “jangan-jangan..” batinnya kemudian berlari menuju kantin, teman-temannya heran melihat riana tiba-tiba berlari kearah kantin karena penasaran dengan apa yang akan dilakaukan Riana, Lia, Akbar dan Nisa mengikuti nya sedangkan Yuli tetap bersama para peserta dan membimbing mereka menuju ruang aula.

“ada apa Ri ?, kenapa berlari kesini ?” tanya Akbar saat sudah bisa menyusul Riana.

“huh, kupikir Bunga keluar dari Man lewat pintu ini ?” katanya menunjuk pintu belakang yang biasanya digunakan oleh ibu-ibu penjaga kantin.

“tapi sepertinya tidak mungkin, pintu ini terlalu tinggi kalau dipanjat dan tidak mungkin dibuka kuncinyakan ada pada Yusuf” terang lia.

“Yusuf ??, jangan-jangan...” belum selesai riana mengucapkan kata-katanya, ia kembali berlari kedepan sekolah untuk menemui yusup.

“kenapa sih riana, dari tadi lari melulu” tanya Lia heran kemudian mengikuti sahabatnya itu berlari.

            Terjadi percakapan panjang antara Yusup dan Riana, mereka terus berpikir kemana hilangnya Bunga. Saat itu semua peserta setelah berkeliling mencari bunga yang tidak juga ditemukan dikumpulkan diruang aula sekolah.

“oh ya suf, tadikan kamu jaga disini. Apa tidak lihat,mungkin saja Bunga pergi keluar”kata Riana serius.

“rasanya tidak mungkin deh Ka, soalnya sejak tadi aku menjaga tidak ada yang keluar masuk 
kecuali..” kata Yusuf sambil berpikir untuk melanjutkan kata-katanya.

“kecuali apa Suf ?”kata Riana penasaran

“kecuali dua orang bapak-bapak yang tadi saat mati lampu kamu tanyakan itu Ka” kata Yusuf

“trus kemana dua orang itu ?” tanya riana tak sabar dengan jawaban Yusup

“yang satu ayahnya Wulan sudah pulang saat upacara api unggun dimulai, tapi satu orang lagi 
belum pulang” kata Yusup sambil memeriksa buku tamu yang ada didepannya.

“hah, belum pulang ? sekarang dimana orang itu ? siapa namanya ? trus kesini mau ketemu siapa?” tanya Riana sambil menatap tajam Yusuf.

“sabar donk Ri, nanya tuh satu-satu. tuh lihat yusuf sampai kaget gitu” kata Lia sambil menepuk-nepuk pundak Riana

“bener tuh ka, sabar donk. Ehm nih aku jawab. Iya orang itu belum pulang, tadi aku lupa nanya namanya, trus waktu aku tanya mau ketemu siapa dia cuman bilang kayak gini SAYA MAU KETEMU SESEORANG ! KENAPA TIDAK BOLEH “ kata yusuf menjelaskan sambil menirukan gaya bicara orang yang misterius yang sekarang mulai dicurigai Riana.

“harusnya kamu tanya lebih jelas donk, siapa yang mau dia temuin “ kata Riana mulai menyalahkan Yusuf.

“yah Ka, mana berani aku tanya-tanya lagi. Pertanyaan pertama aku aja dingejawab sambil marah-marah” kata Yusuf membela diri.

            Riana berpikir sejenak , kasus hilangnya Bunga di acara pengukuhan ini membuat naluri detective nya keluar. Riana yang sejak awal sangat menyukai cerita Detectiv pun akhirnya mulai menganalisis kejadian ini dengan seksama, wajahnya masih belum menampakkan senyum yang artinya ia masih belum bisa memecahkan kasus hilangnya Bunga.  

“apa jangan-jangan Bunga diculik oleh orang misterius itu“ kata Riana setelah berpikir cukup panjang.

“ah itu tidak mungkin Ri” kata Lia menyanggah pemikiran Riana

apanya yang tidak mungkin, bukankah Bunga menghilang saat mati lampu dan orang itu datang kan. Dan sekarang Bunga menghilang,serta orang itu tidak ada keluar lewat gerbang depan “ kata mulai menjelaskan pemikirannya.

“benar juga, berarti ini kasus penculikan kita harus melaporkannya ke polisi” kata Lia mulai panik setelah mendengar penjelasan Riana

“percuma, polisi juga tidak akan menganggapnya hilang sebelun 2x24 jam” kata Riana

“tapi inikan penculikan” kata Yusup sambil mengambil ponselnya dari saku baujunya.

”tenanglah, kalau analisa ku ini benar. aku yakin pelakunya masih ada didalam sekolah ini dan belum bergerak dari pesembunyiannya” kata Riana sambil menatap Lia dan Yusuf bergantian.

“kenapa ?, diakan bisa kabur lewat pintu belakang. Disanakan tidak ada yang menjaga, walaupun dikunci kalau orang dewasa pasti bisa memanjatnya” kata Yusuf heran

tadi kami sudah kesana, aku sudah memastikannya walaupun bisa dipanjat tapi pelaku membawa korban yang kemungkinan dibuat pingsan itu akan membuatnya sulit memanjat. Kalaupun pelaku nekat memanjat pasti ditembok gerbang akan ada jejak sipelaku” kata Riana

“jejak maksudnya ?” tanya Lia tak mengerti

“ya, bukankah disamping pagar belakang dikeliling dengan tanah berumput dan hari ini hujan itu akan menyebabkan tanah becek sehingga kalau ia memanjat tanah yang menempel disepatu atau sendal pelaku pasti akan menempel ditembok gerbang yang berwarna biru itu” kata Riana menjelaskan dengan jelas analisisnya.

“benar juga, jadi tadi kamu sudah memastiakannya ya ?” tanya Yusuf

“ya, yang aku heran sekarang seluruh ruangan sudah kami periksa tapi tidak ditemukan siapapun pun” katanya mengingat-ingat saat mereka berkeliling mencari bunga.

“kalau begitu aku akan melaporkan ini dulu pada Akbar” kata Lia kemudian berlari mencari akbar yang masih memeriksa seluruh gedung.

            Setelah Lia berlari mencari akbar tiba-tiba Yuli datang sambil berlari kegerbang depan tempat Riana dan Yusup berada. Yuli terlihat senang, ia sepertinya sudah menemukan Bunga.

“Ri, Sup bunga sudah ketemu” katanya sambil duduk disamping Riana.

            Setelah Yuli datang memberitahu Riana dan Yuli segera menemui bunga yang kata Yuli sudah ditemukan, dan Yusup tetap ditempatnya sesuai perintah Riana agar pelaku tak bisa kabur.

            Setelah mereka sampai ditempat Bunga mereka melihat anak itu sedang terbaring didalam ruang kelas X Ipa 3 yang bersebelahan dengan ruangan peserta putri. Dengan segera Riana mengecek anak itu, napasnya terlihat normal dan tak ada tanda-tanda kekerasan ditubuhnya. Ketika Riana melihat-lihat disekitar bunga ia menemukan beberapa macam obat dan segelas minuman aqua 600 ml yang tumpah disamping korban. Setelah itu Bunga segera diangkat menuju ruang UKS. Bunga tidak pingsan ia hanya tertidur. Setelah diUKS Riana mencoba membangunkannya.

            Setelah bunga bangun dia segera menceritakan kenapa dia tertidur diruang sebelah. Ternyata saat itu salah meminum obat, dia pikir obat yang dibawanya adalah obat sakit perut yang biasa diminumnya ternyata malah obat tidur neneknya, selain itu ia bersembunyi keruang sebelah juga untuk mengganti pakaian nya makanya ia menyusun kursi agar tubuhnya tidak kelihatan saat berganti baju. Setelah mengganti baju, ia ingin minum obat tapi saat itu lampu mati hingga ia tidak melihat obat apa yang diminumnya dalam jumlah 5 biji itu adalah obat tidur hingga membuatnya sangat mengantuk kemudian tertidur. Riana sangat jengkel dengan tindakan ceroboh Bunga yang tiba-tiba menghilang sehingga membuat gempar seisi sekolah dan ternyata ia malah tertidur dengan nyenyaknya hingga tak mendengar panggilan teman-temannya yang mencarinya.

            Setelah itu suasana menjadi tenang kembali para peserta dan panitia pengukuhan tidak khawatir lagi dengan pelaku penculikan yang di pikirkan Riana. Setelah ditemukannya Bunga, riana tidak bernafsu lagi untuk tidur kantuknya telah hilang jadi ia menghabiskan waktunya menunggu jurit malam sebentar lagi bersama Yusup dan Lia dipos keamanan didepan gerbang.

“huh kupikir diculik ternyata malah tertidur” kata Riana mengomel pada Yusuf dan Lia.

“iya, bikin heboh aja tuh anak” kata Lia menyahut.

hehehe, ka Riana marah kerena analisanya salah ya” kata Yusuf mulai mengejek Riana

“huh, jangan ngejek kamu. Oh ya sup, orang aneh itu sudah pulang belum. Aku pengen minta maaf nih, karena udah mikir orang itu penculik” kata riana mulai menanyakan laki-laki yang sempat dituduhnya menjadi pelaku.

“ooh, bapak-bapak itu ?, sudah tadi pulang bareng kepala sekolah saat kalian masih ribut membangunkan bunga” kata Yusuf sambil membuka buku tamunya

“hah, kok sama kepala sekolah ?” kata Riana dan Lia serentak

“iya, aku juga keget waktu ngeliat dia sama pak kepala sekolah. Ternyata dia sepupu kepala sekolah” kata Yusup menjelaskan.
            Akhirya diketahuilah identitas laki-laki misterius yang sempat dituduh sebagai pelaku 
penculikan yang tidak lain adalah sepupu dari kepala sekolah mereka. Rasa penasaran Riana terhadap laki-laki itupun terjawab dan semua kegiatan pengukuhan berjalan dengan baik dan lancar. Rianapun balajar dari kesalahannya yang telah menuduh orang lain sebagai penculik. Ia juga berjanji Jika nanti ia sudah menjadi Detective ia tidak akan mengulangi kesalahanya lagi.

~Selesai~
Terima kasih sudah membaca

1 komentar: