Jatuh Cinta,
bukankah itu kata yang sering kita dengar. bukankah jatuh cinta itu sangat indah ? kali aku akan bercerita tentang perasaanku pada seseorang, mungkin kau bisa menyebutnya sebagai jatuh cinta.
jatuh cinta, terlalu dangkal pikiran kalian jika mengatakan jatuh cinta itu indah. Nyatanya tidak untukku, mungkin awalnya memang indah selalu membuatmu berdebar saat namanya disebut, membuat wajahmu bersemu merah saat dia melihat kearahmu dan selalu membuatmu melayang ketika ia mengirimkan pesan walau pendek padamu.
aku jatuh cinta pada seniorku di Fakultas kedokteran. inisialnya FR (sengaja nggak dikasih tau nama aslinya) dia kuliah diprogram study kedokteran gigi sedangkan aku di jurusan Psikolog.
entahlah aku bingung menceritakannya seperti apa. sudah enam bulan sejak kami P2B (biasanya disebut OSPEK) aku sadar aku menaruh hati padanya. awalnya aku tidak menyukainya karena gara-gara dia aku harus membuat esay sebanyak 6 lembar double polio bolak balik, benar-benar menyebalkan. tapi entah kenapa aku bisa begitu meyukainya. ya aku jatuh cinta diam-diam dan sakitnya pun diam-diam.
setelah selesai P2B aku dan dia masih sering berkirim-kirim pesan bbm dan line. sayangnya dia hanya mengaggapku sebagai adik. dan akhirnya disinilah aku merasakan sakitnya mencintai seseorang. aku memang tidak mengatakan pd nya bahwa aku meyukainya tapi aku yakin dia tau.
meski begitu aku tidak apa-apa. hubunganku dengannya masih baik-baik saja. tapi dia tidak pernah menghungiku lagi sejak teman kostku mengirimkan pesan bbm pd nya yang intinya gini "ka riyana itu sama kaka" (sebnernya panjang aku ambil intinya aja) trus ka FR nya ngebalas yg bikin aku nyesek itu gini "trus kenapa kamu yg bilang, kenpa nggak dia aja" nah awalnya aku itu nggak tau kelakuan teman aku itu kalau kaka FR itu nggak ngirim capture-an dri bbmnya dia sama temanku. nah gara2 itu aku taku ngechat dia lagi kalaupun ngechat balasannya jua singkat pake banget udah beda dari dulu.
tapi sampai sekarang aku masih tetap suka sama dia. tak apalah mungkin ini yang namanya cinta yg menyakitkan. toh nanti kalau misalnya aku sudah mulai menyukai orang lain (belum ada tanda2 nya sekarang) aku bisa melupakanya pelan-pelan. elah aku curhatnya nggak asik yah.
ceritain juga dong pengalaman kamu....
T E N T A N G
Bukan sekadar cerita juga bukan kisah yang indah. tapi hanya sedikit coretan sederhana tentang mimpi, imajinasi dan perasaan yang tak terlihat oleh orang lain. karena di sini bukan hanya sekadar kisah nyata, tapi tentang mimpi yang akan menjadi nyata.
Jumat, 08 Januari 2016
Sabtu, 31 Oktober 2015
Cahaya di PALESTINA
Oleh
: Riss_Fitr
Palestina masih dilanda dengan berbagai serangan. Mulai
dari darat, udara bahkan Laut jika ada. Semakin hari semakin banyak yang
menjadi korban peperangan perebutan wilayah yang tak pernah usai. Tidak ada
kata tenang untuk sebuah negara islam yang hampir lenyap dari peradaban.
Meskipun sudah banyak yang menentang peperangan, demo oleh warga israel sendiri
bahkan PBB yang selalu mengelu-elukan perdamaian tak dapat menghentikan
serangan. Mungkin sekarang PBB sudah mulai tidak peduli dan mulai kehilangan
rasa kemanusiannya.
Allah SWT. tidak
akan pernah diam. Meskipun mati dengan serangan bom, tembakan dan kekerasan
Palestina tidak akan kehilangan semangat dan cita-cita kemerdekaannya. Walaupun
sudah sangat keras orang-orang yahudi itu mencoba mengusir kami dari tanah
palestina ini, jika Allah tidak menghendakinya apalah daya mereka. Meskipun
berkali-kali mereka mencoba melenyapkan penduduk tapi masih ada yang
diselamatkan dan dibiarkan meneruskan generasi agar tidak ada kepunahan. Inilah
kehidupan, bertahun-tahun aku hidup dalam gonjang-ganjing kekacauan dan
ketakutan . 19 tahun telah berlalu, peperangan tak juga usai.
Bulan bersinar terang dengan angkuhnya berhiaskan bintang
yang terhampar diseluruh penjuru langit seolah ingin mengabaikan rasa was-was
dan takut dari wajah-wajah polos anak-anak palestina yang kehilangan keluarga
dan masa indah mereka.
Malam ini kubiarkan diriku sejenak menikmati malam yang
dingin dan sunyi yang sudah sangat langka terjadi disini, kurasakan hembusan
lembut angin malam yang masuk menerobos melalui jendela kamarku. Mataku tertuju pada seorang gadis kecil
diujung perempatan jalan tak jauh dari tempat kediamanku, ia terdiam sambil
memeluk lututnya kupikir mungkin ia sedang menangis tapi kenapa ?. takkan
terjawab jika aku masih berdiri disini, dikamarku dan mengamatinya dari jendela
aku tidak akan tahu apa yang terjadi padanya.Aku segera keluar dari kediamanku,
menembus hawa dingin yang masuk kesum-sum tulang.
“kau mau kemana Shaba
?” seseorang memanggilku saat aku didepan pintu
“ada yang ingin aku
lakukan, tidak akan lama” ucapku pada temanku Zainab
“ini sudah Malam,
bahaya” ucapnya melarangku
“tidak apa-apa, hanya
sebentar” aku meyakinkannya.
“ya sudah, cepat
kembali ya” ucap Zainab lagi dengan wajah khawatir
“iya, assalamualaikum”
sahutku kemudian segera berlari menuju posisi gadis kecil yang aku lihat dari
kamarku dilantai dua. Hanya ada beberapa lampu jalan yang menyala seadanya,
cahayanya samar hampir redup namun cukup kalau hanya untuk menerangi jalan
setapak diantara gedung-gedung usang yang menjadi perumahan kami.
Ia sigadis kecil yang aku lihat tadi masih disana, tetap
dengan posisnya. Memeluk kedua lututnya. Kucoba menghampirinya ia tak
menghiraukan kedatanganku, air matanya mengalir perlahan menuruni lekut
wajahnya. Kulihat bibirnya terus bergerak, kuperhatikan dengan jeli ia sedang
melapalkan beberapa ayat suci Al-qur’an. Kudekatkan lagi diriku padanya, tak
salah pendengaranku ia memang sedang membaca ayat suci Al-Quran. “kenapa
ditempat seperti ini” batinku, aku terus bertanya pada diriku sendiri. Aku
semakin medekat kearahnya ia berhenti kemudian menatap tajam kearahku, sesaat
tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan pengharapan. Air matanya masih
berguguran membasahi baju biru muda yang sudah kotor dipenuhi noda-noda lumpur
dan darah, rambutnya acak-acakan tak
beraturan.
Ada perasaan sedih bercampur marah dalam diriku, perlahan
air mataku mengalir kurasakan sesak didadaku. Luka yang dulu sempat aku simpan
kembali terbuka, gadis kecil didepanku ini
membuatku merasa bercermin pada masa laluku. Kurengkuh ia kurasakan
dingin disekujur tubuhnya, ia tersenyum mulutnya kembali melapalkan ayat suci
Al-Qur’am yang sempat terhenti.
“apa yang terjadi
padamu ?” tanyaku padanya
Ia hanya menatapku,
bibirnya tak berkata apa-apa selain ayat-ayat suci yang terus ia bacakan.
Kulepaskan jaket yang menghangatkan ku dan kuberikan pada gadis kecil yang
berada dipangkuanku.
Kuperhatikan sekelilingnya tak ada apa-apa kecuali
sesosok mayat perempuan yang terbujur kaku dengan kondisi sangat mengenaskan.
Kakiku lemah tak kuasa untuk bergerak, kurasakan tubuhku hampir tumbang, dadaku
terasa semakin sesak dan kurasakan pusing dikepalaku. Malam ini aku telah
menemukan kemabali mozaik kelam hidupku 19 tahun yang lalu. Kepingan ingatan
yang selama ini telah kucoba untuk kuhilangkan kembali terulang.
“apa ibu akan bahagia ?”
gadis kecil itu bertanya, matanya berkaca-kaca penuh harap
“tentu, Allah akan
memberikan tempat yang layak untuknya” ucapku, kulihat sebuah senyum kembali
merekah diwajahnya. Aku bergerak mendekati mayat perempuan tanpa busana dengan
wajah biru lebam dan penuh darah itu, kututup seadanya dengan beberapa helai
baju dan kerudung miliknya yang terlapas tak jauh darinya. Aku tak kuasa
melihat wajahnya yang sudah tak bisa dikenali lagi.
Gadis ini mengingatkanku kembali pada kenangan kelam yang
kualami dulu. Kenangan yang hampir membuatku kehilangan semangat hidupku dan
telah berhasil merenggut keluargaku.
Malam itu 19 tahun yang lalu, bulan dan bintang ikut
bersembunyi dibalik kabut pekat yang menyelimuti malam. Aku masih berusia 8
tahun hanya bisa menangis melihat kekejaman Zionis Israel yang menerobos masuk
kedalam rumahku, kemudian memperlakukan kedua orang tuaku seperti binatang.
Mereka menyeret-nyeret ayah dan ibuku, menendang dan memukul mereka tanpa belas
kasihan. Tidak peduli dengan ayah dan ibuku yang terus berontak.
“bunuh saja kami, tapi
tolong lepaskan kedua putriku” ibuku memohon.
“untuk apa, kau sudah
melakukan penghianatan. Inilah balasan untukmu” ucap salah seorang tentara israel
kemudian menendang perut ibuku dengan sangat keras. Jika aku sedik lebih berani
waktu itu ingin rasa aku mencakar-cakar wajahnya yang angkuh itu.
“tolong lepaskan
mereka” ayahku kembali memohon, tangan yang biasanya terlihat kuat dan kokoh saat
itu terlihat kerkulai lemah tanpa tenaga untuk melawan.
“seharusnya kau tidak
menghianati kami, jadi ini tak perlu terjadi” kata laki-laki lainnya sambil
menginjak perut ayahku dengan sangat keras hingga darah seger keluar dari
mulutnya. Rasanya rasa sakit itu menjalar ketubuhku.
“baiklah satu penawaran
lagi, apa kau menyesal sekarang. Masih ada waktu untukmu merubah pikiran” pria
berbadan paling besar itu memberikan sebuah penawaran,
“tidak kami tidak
menyesal. Kami tidak akan menyesal memilih ISLAM sebagai agama kami” ibu
bersuara dengan terbata-bata namun lantang. Dapat kulihat sebuah kekuatan dan
keyakinan terpancar dari matanya yang lembab oleh air mata.
“keparat, akan segera
kubunuh kalian” pria berbadan besar itu sangat marah, ia mengambil pistolnya
yang mengarahkan pelatuknya kepelipis kedua orang tuaku. Kakakku Yohana
memelukku erat saat itu, badannya dingin tangan gemetar hebat tak ada jalan
lari untuk kami. ia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sakit yang
sama seperti yang dirasakan kedua orang tuaku.
“kau mungkin bisa
menghancurkan dan membunuh kami. Tapi percayalah kalian tidakan akan bisa
merampas keimanan kami” ucap ayahku, tak ada keraguan dari setiap kata-katanya.
Dengan satu kali tembakan mereka membunuh ayah dan ibuku,
suara tembakan pistol itu seakan suara kembang api yang biasanya dimainkan di
tahun baru. Mereka terlihat senang, tidak sangat senang setelah melakukannya,
percikan darah segar muncrat hingga kearahku. kemudian menendang mayatnya
seenak hati mereka didepanku dan kakakku. Tak ada yang bisa kami lakukan saat
itu selain menangis dan terus berdo’aa agar Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk hidup. Entah
apa yang terjadi saat itu tiba-tiba kakakku berdiri dan berteriak dengan
lantang didepan para tentara Zionis Israel.
“Asshaduallailahaillallah
wa ashaduannamuhammadarasulullah” berulang kali ia meneriakkan kalimat syahadat
itu di depan para tentara Zionis Israel.
Mereka sangat marah mendengar kalimat-kalimat yang di
teriakan ka Yohana. Mereka menyeretnya dan berlaku lebih keji padanya. Mereka,
Zionis israel biadab itu membunuhnya secara perlahan, menyiksanya tanpa
perasaan dan memeperlakukannya seperti bukan seorang manusia. Bagiku mereka
adalah setan berwujud manusia karena itu tak ada rasa kasihan dalam diri
mereka. Dengan nafsu setannya mereka merenggut kehormatan kakak perempuanku.
Kemudian tidak puas dengan itu mereka menendang, memukul dan menyobek-nyobek
kulinya sedikit demi sedikit mereka memainkan pisau kecil disekujur tubuhnya,
seolah ia adalah kanvas hidup yang dapat dengan sesuka hati mereka lukis dengan
ujung pisau yang selalu mereka bawa. Semakin keras kakakku mengucapkan Takbir
semakin jadi ulah mereka. Setelah memastikan korbannya sudah tak bernyawa lagi,
mereka meninggalkannya seperti sampah dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
Tanpa perasaan takut akan dosa mereka pergi meninggalkan jejak luka yang sangat
dalam untuk seorang anak. Shaba Kecil, ya itu aku. Aku telah mengalami banyak
luka, tekanan dan penderitaan siksaan yang mereka buat menjadi sebuah memory
menyakitkan bukan untuk fisikku tapi dijiwaku.
Kini kejadian itu
terjadi lagi pada Shaba lainnya, luka itu terpatri lagi dalam hati gadis kecil
di pangkuanku. Mungkin kejadiannya tidak sama, tapi luka dan kesedihannya
tetaplah sama. Ada hal yang membuatku lebih baik dengan kejadian itu, sejak itu
aku memilih menjadi seorang Muslimah seperti kedua orang tuaku dan kakak
perempuanku. Karena kejadian itu, keinginanku dan keyakinanku meninggalkan
agama Yahudi dan memeluk islam semakin kuat dan besar.
Aku masih tak bergerak dari posisiku, kurasakan tubuh
kecil gadis malang ini kembali menghangat matanya sudah terpejam, ia tertidur
dengan lelap dan tenang. Tak ada wajah takut padanya, yang ada hanya sebuah
senyum kemenangan. Ku bawa ia menuju rumahku agar dapat tidur dengan tenang dan
nyaman.
Ada satu hal yang membuatku senang, saat para Zionis itu
bisa membuat kami merasa tertekan aku percaya seperti yang ayahku katakan
Mereka tidak akan pernah menang. Meskipun mereka berhasil membunuh seluruh
keluarga kami, merampas keindahan masa kecil kami dan menghancurkan kedamaian
dan ketentraman yang pernah kami miliki. Mereka tidak akan pernah dapat
mengusir kami dari tanah ini, tanah kelahiran kami walaupun aku tidak
dilahirkan disini, Palestina akan selalu merindukan kedamaian dan
kemerdekaanya. Mereka tidak akan pernah bisa merebut tanah ini karena cita-cita
anak palestina sudah mengakar disini. Pengeboman, serangan, kekerasan, dan
ancaman mungkin bisa membuat kami ketakutan tapi tidak bisa membuat kami
menjauh. Kami mungkin akan kehilangan keluarga, tempat tinggal bahkan nyawa
tapi mereka Zionis israel itu tidak akan pernah menang sampai kapanpun kerena
kami pera penduduk palestina tidak akan pernah kehilangan sisi kemanusian,
cinta, kasih sayang, dan Keimanan.
Karena aku percaya Palestina tidak akan Malam selamanya,
Matahari pasti akan muncul setelah malam yang gelap dan panjang berlalu. Cahaya
tidak akan selamanya redup, masih ada
lampu yang tersisa dari semangat anak-anak Palestina yang akan segera menyala
dan terus bercahaya sepanjang masa.
~END~
Sabtu, 28 Februari 2015
I Miss You Brother- Sehun Version
Ficlet
Title : I Miss You
Brother- Sehun Version
Cast : Oh Sehun -
XiLuhan
Genre : brothership,
Author : RisMee Park
----Summary-------
~ aku merindukannya.
Tapi tak ada hal yang bisa kulakukan, setidaknya mengetahui ia baik-baik saja
pun sudah cukup bagiku~
____
aku
menarik nafasku dalam. Mencoba mengurangi sedikit perasaan yang membebaniku.
Aku lupa sudah berapa lama setelah ia meninggalkan kami disini. Ya , dia telah
menemukan jalannya sekarang.
kami
memang sudah memiliki jalan yang berbeda sekarang, tapi kami akan selalu
memiliki kenangan yang sama. Aku sudah cukup terbiasa dengan ketidak hadirannya
sekarang. ya, awalnya memang sulit untuk menerima kenyataan. Tapi sekarang, aku
sudah bisa sedikit demi sedikit menepis nya dari ingatanku. Sulit memang bagiku
menerima ia telah meninggalkan kami- Aku khususnya. Pria mandarin yang selalu
ku panggil Hyung itu, sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Sejak masa Trinee
aku sudah dekat dengannya, aku yang masih sangat muda saat itu belum mengerti
seperti apa dunia yang akan aku jalani kelak.
Ia
begitu baik padaku, ia terus-terusan mendorong semangatku saat aku sudah merasa
lelah menjalani rutinitas Trinee yang berat. Awalnya aku mengira ini semua akan
berjalan mulus. Kebahagian tak terperikan untukku saat itu, saat kami didebutkan
didalam grup yang sama. Bagiku tak ada berita yang lebih menggembirakan untukku
saat itu. Dimana diantara banyaknya Trinee kami bisa debut dalam satu grup yang
sama, sangat sulit untuk mendapatkan keberuntungan seperti itu. Tapi aku sadar
itu hanya sisa-sisa kenangan yang masih menempel disudut-sudut ingatanku, pada
kenyataannya sekarang ia telah memilih jalan yang berbeda. Aku memang mendukung
pilihannya, aku tahu sesulit apa untuknya berada jauh dari orang tuanya. Yang
tidak bisa aku terima hanyalah, kenapa ini terjadi begitu cepat.
“sehun-ah makanlah dengan baik dan jaga kesehatanmu”
Aku ingat dengan jelas
apa yang dikatakannya padaku sehari sebelum ia kembali kenegeri tirai bambu
saat itu. Tapi tak kusangka hari itulah terakhir kalinya aku bisa bermain-main
dan bermanja-manja dengannnya. Sekarang, bukannya tidak boleh. Hubungan kami
masih baik-baik saja, tapi akan sangat sulit untukku bisa bertemu dengannya.
Managementku tidak akan membiarkan aku bertemu dengannya. Itulah sebabnya.
Dia-XI LUHAN- hyung
yang selalu mengerti aku. Satu-satunya orang yang bisa meredam kemarahanku.
Satu-satunya orang yang bisa membuatku bercerita tentang masalahku. Bukannya
aku tidak dekat dengan member yang lain tapi Luhan-hyung berbeda. Aku merasa
sangat sangat nyaman setelah menceritakan masalahku dengannya.
Membuka lembaran
kenangan saat kami bersama hanya akan lebih menyakitiku. Bagaimana tidak,
biasanya saat kami mengadakan tour keberbagai negara aku pasti hanya akan
berbagi kamar dengannya. Dan di bandara, biasanya hyung-ku itu sangat ceroboh.
Ia selalu hampir terjatuh, dan para pengawal kami selalu tidak bisa diandalkan,
itulah kenapa aku selalu berada disampingnya.
Aku benar-benar sangat
merindukannya sekarang, setiap kali aku mengingatnya aku malah terlihat seperti
anak kecil yang cengeng. Tanpa seizinku air matanya merembes dengan cepat dari
sudut mataku. Mendengar cerita tentangnya sedikit membuatku lebih baik,
setidaknya untuk sesaat.
“kring..kring..” aku
bergerak menghampiri ponselku.
“----Luhan Hyung---“
Mataku membulat. Aku
tidak percaya, setelah sekian lama kami kehilangan kontak. Sekarang, aku
menerima sebuah pesan darinya. Aku menahan nafasku dalam, berharap ini bukanlah
sebuah mimpi seperti yang sudah-sudah. Kurasakan air mataku turun dari sudut
mataku, bukan karena sedih. Aku hanya terharu, selama ini aku berharap ia
menghubungiku. Sudah puluhan pesan yang kukirim secara rahasia dari managerku
untukku tapi ia bahkan tak membalas satupun. Jujur aku sempat membencinya
karena itu, tapi kebencian itu hanya sesaat. Aku tetap tidak akan bisa menepis
kerinduanku pada Hyung-ku itu.
----Luhan Hyung---
12.00 KST
Sehun-ah
, maaf hanya bisa membalas pesanmu sekarang. apa kau baik-baik saja. Senang
rasa aku mendengar kalian mendapat banyak penghargaan. Aku tahu kau tak punya
banyak waktu untuk bersantai, tapi kau tidak boleh terlalu lelah. Makanlah
dengan baik dan jaga kesehatanmu. Sehun-ah
bogoshipo-yo.
Lahi-lagi air mataku
menetes, aku menangis merindukannya. Tapi tak ada yang bisa aku lakukakan
sekarang, berharap ia kembali itu satu-satunya hal yang bisa aku lakukan
walaupun itu mustahil. Mengingat mediasinya dan manangementku selalu
mengahasilkan keputusan yang membuatku muak berharap.
Aku merindukanya, tapi
tak ada yang bisa aku lakukan. Mengetahui ia baik-baik saja itu sudah cukup
untuku.
Mungkin ceritanya akan
berbeda jika sejak awal kami tidak saling mengenal satu sama lain. Atau
setidaknya aku tidak pernah menganggapnya orang yang penting dalam hidupku.
Tapi tak ada gunanya aku menyesali masa lalu, yang terpenting sekarang aku
hanya berharap Tuhan akan mempertemukan kita lagi, dipanggung yang sama dengan
keadaan yang berbeda. Aku hanya berharap kami dan juga hyung akan terus
bersinar. Aku tahu ada banyak cinta yang mengharapkannya kembali tapi, aku tidak
ingin itu terjadi jika akan membuat Hyung-ku tersiksa. Kami akan bersinar
bersama-sama walau dengan jalan yang berbeda.
Bogoshipo-yo Hyung...
--HunHan Shiper--
Rabu, 14 Januari 2015
The Last Snow
Ficlet !
TITLE: The Last Snow
Author : RisMee Park
Cast : Yee-Ri (OC)- D.O Kyung Soo
Rated : PG17
Genre : sad
Recomanded song : T-ara Day and Nigh
Alur : maju mundur ( campuran) yang italic itu flash back +
percakapan. Di pahami aja ya.
Summary :
Aku sudah terbiasa dengan semuanya.
Terbiasa dengan tangis, luka, dan kesepian. ...
Aku bisa mengatasi lukaku sendiri tanpamu aku masih bisa
hidup. Walaupun kebencian, cinta,
amarah dan dendam masih membucah didadaku. Seperti gumpalan
putih yang dingin.
Perlahan mencair memenuhi ruang hatiku yang selama ini telah
gersang dan kering diantara
reruntuhan salju terakhir
ditahun-tahun yang lalu.
***
Memory itu kembali terulang.
Kenangan dari butiran-butiran salju diantara langit kelabu
kembali muncul. Saat aku mencoba
menutup semua lukaku.
Pertemuan itu terjadi, ia kembali datang setelah sekian
lama.
Saat kaki-kakiku mulai layu dan rapuh, saat butir-butir air
mata telah membeku bersamaan dengan
bekunya salju ditanah basah. Setelah sekian lama, dia
kembali.
Tujuh tahun sudah berlalu, ditempat yang sama, dilangit yang
sama dan di salju yang sama. Dia
kembali. Dengan senyum sama. Entah apakah ini karena hanya
aku yang merasa bahwa waktu tidak
pernah bermetamorfosa menjadi lebih maju.
Semuanya tetap pada keadaan yang sama. Dibawah langit kelabu yang tak pernah berubah
menjadi
terang.
Pada pertemuan yang tak pernah diharapkan bisakah dia
kembali dengan tatapan yang sama.
Setelah sekian lama menghilang bersama angin.
“aku masih menyimpan lukamu”Bibirku bergetar, kurasakan
dingin disekujur tubuhku yang telah membeku. Dia tak bergeming.
Menatap kosong bayangan kelam didepannya.
“pergilah dari kehidupanku. Aku bisa menjalani hidupku
sendiri” aku berteriak mencoba
mengusirnya. Walaupun pada kenyataannya aku tetap tidak akan
bisa melupakannya. Tapi aku juga
tak bisa memaafkannya.
Walau aku terus berharap dia akan kembali, tapi tidak akan
lagi sekarang. Aku sudah terbiasa
dengan semua lukaku, walaupun kenyataanya aku merasakan luka
itu karena merindukannya.
Pemuda yang telah meninggalkanku, membuatku menderita di
tujuh tahun terakhir.
“D.O Kyung Soo, aku membencimu”
Ia masih tak bergeming. Bibirnya kembali tersenyum .
“kubilang aku membencimu....”
Sesaat ia menghilang, bersamaan dengan padamnya lampu-lampu
temaram secara bergantian.
Semuanya kembali gelap, angin dingin perlahan berhembus
melewati tubuhku.
“disaat kau menghilangpun kau masih bisa membuatku
menderita, kenapa....”
Nafasku terasa lebih berat, kurasakan tubuhku melayang
perlahan. Pandanganku menjadi samar tapi
aku masih bisa melanjutkan kata-kataku.
“kenapa,, kau melakukanya....”
___
Tempat yang berbeda, aku kembali ketempat yang berbeda.
Aku lupa apa yang telah terjadi padaku. Diruang dengan
nuansa putih terang, aku mencoba
bertanya. “apa yang
terjadi padaku..”
Tak seorangpun menjawabnya. Kucoba untuk bangun, membuka
horden berwarna terang
disampingku. Lagi-lagi langit masih kusam dan kelabu. Tak
bisakah ia berubah menjadi lebih terang,
menjadi lebih baik sehingga aku takkan pernah
mengingat-ingat mimpi buruk itu lagi.
Angin dingin berhebus membuat tubuhku yang hanya dibalut
dengan kain satin tipis meringkuk
kedinginan. Perlahan kurasakan tubuhku kembali melemah.
Seseorang memegang pundakku,
mencoba menahan tubuh rapuhku.
“berhentilah bergerak dan menghilang Yee-Ri”
Perempuan berambut panjang yang mengaku sebagai sahabatku
ini terus bersamaku. Ia terus
mengkhawatirkanku. Bahkan aku lupa sedekat apa dulu aku
dengannya.
“kemana kemarin aku pergi, Jhena”
“kau lupa lagi ?, sudahlah lupakan saja kau harus
istrirahat” tangannya dengan lembut membantuku
kembali keranjang putih yang hangat.“salju masih turun ?”
Ia mengangguk perlahan, matanya ikut menerawang kelangit
kelabu dibalik kaca transparan
disampingku.
“kapan salju terakhir turun”
“kau masih mencintainya kan ?”
“ini bukan tentangnya..” namun kenyataannya ini memang
tentang pemuda itu, tentang masa lalu
yang tak pernah bisa aku lupakan walaupun aku berkali-kali
mencoba melupakannya.
Meskipun aku bersikeras mencoba mengatakan aku tak lagi
mencintainya dan tidak merindukanya,
kenyataannya aku terus saja terluka karena kehilangannya.
Terlalu banyak kenangan yang telah ia
berikan padaku, terlalu banyak hal yang kami lalui
bersama. Dan ia terlanjur membuatku tak
bisa
melupakannya. Peranannya terlalu besar dalam kehidupanku, ia
terlalu banyak bermain dalam
kehidupanku.
“Yeeri, aku harap sekarang kau bisa hidup lebih baik”
“apa aku terlihat buruk dimatamu ?” cukup aku mendengarnya,
aku tahu selama ini aku hidup
dengan buruk. Tapi itu dulu, tujuh tahun yang lalu. Aku akan
berubah sekarang, takkan kubiarkan
pemuda itu datang dan melihatku dalam keadaan seperti ini.
Wanita itu menggeleng, dengan lembut tangannya membelai
surai pirangku. Jujur aku tak menyukai
perlakuannya, bukan hanya dia yang memperlakukanku seperti
itu tapi hampir semua orang mereka
bertingkah seolah aku adalah orang yang sekarat dan
menderita. Meskipun kenyataannya memang
begitu tapi tak bisakah mereka memperlakukanku dengan
manusiawi.
“dia tidak akan kembali Yeeri, kau harus sembuh”
Ingin rasanya aku menghardik dan mengumpat perempuan
yang ada dihadapanku ini.
“kau harus Sembuh”
Begitukah mereka
menganggapku, sakit apa memangnya aku selama ini. Sehingga dengan kejam
mereka mengurungku dalam penjara membosankan ini. Semua
warna didominasi warna putih. Cat
ruangan, ranjang, meja, horden bahkan pakaianpun semuanya
putih, seolah ingin menandingi
gumpalan salju yang turun dengan pelan. Namun kenapa, langit
masih abu-abu dan kusam. Kenapa
kehidupanku masih kelam tak bisakah berubah menjadi lebih
terang.
Pemuda itu, dialah penyebah semua penderitaanku selama ini.
Dia membuatku kehilangan akal
sehatku bahkan ia membuatku kehilangan jiwaku. Ia membuatku
hidup bagai wanita sakit jiwa yang
terus berharap ia kembali meringkuk dan memohon agar meminta
maaf padaku, disaat yang lain aku
akan berharap ia takkan pernah kembali. Aku memang sudah
gila, itu semua karena ulahnya.
Pemuda yang tak bisa dibilang istimewa, namun bisa membuatku
jatuh cinta. Ia tidak bisa tampan
namun juga tidak buruk. Jika aku mau aku bahkan bisa mendapatkan
sepuluh orang yang sepertinya.
Tapi kenapa.Ia terus saja menggerogoti kehidupanku, bahkan
saat ia menghilang ia masih bisa mengusai diriku.
Apa yang sebenarnya dia punya.
Kemampuannya dalam membuat lirik dan nada yang indah ? .
Itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia, meskipun ia punya
ribuan lirik dan nada yang buat untukku
ia takkan pernah bisa menyanyikannya untuk. Bahkan sampai ia
kehilangan nyawanya.
“mengertilah Kyung Soo, tak ada apapun yang istimewa darimu.
Jadi kau kau harus segera pergi.
Tolong lepaskan aku”
“kau yang tak pernah melepasku Yee-Ri”
Kejam, kehidupan hanya bisa bisa mempermainkanku. Dia jelas
tahu kalau akulah yang tak pernah
bisa melepasnya jadi untuk alasan apa ia meninggalkanku
sendirian.
Setelah sekian lama, setelah bersusah payah aku mencoba
untuk mengeringkan semua luka ku, aku
berjuang untuk melupakan semuanya. Tapi kenyataannya aku
bahkan tak pernah melupakan nya
walau hanya satu detik dari bagian hidupku, kehidupan
terlalu enggan memberikan ketenangan
untukku.
Bahkan langitpun tak pernah ingin bersahabat denganku.
Hanya gumpalan putih dimusim dingin yang bisa menjadi
temanku, ia tak pernah berubah padaku.
Tetap dingin dan putih. Cukup dengan itu, aku merasa lebih
baik. Walaupun aku tak pernah merasa
lebih baik.
Seharusnya tidak seperti ini akhir yang aku inginkan dari
hidupku. Tak bisakah waktu berputar untuk
kali ini saja, jika bisa beri aku kesempatan untuk merubah
semuanya. Semua yang ada dalam
hidupku.
27 desember 2006
Diantara deretan temaram lampu jalan yang keemasan. Disini aku masih mencoba menunggu.
Bukan seseorang, tapi janji.
Janji yang telah aku pertautkan untuk seseorang. Pemuda pendiam yang telah lama membuatku
menjadi wanita yang benar-benar mengerti tentang artinya
sebuah cinta.
Menunggu di bawah pohon mample yang telah kehilangan
daunnya. Meringkuk kedingingan dalam
balutan jaket berwarna cream yang tebal. Meski begitu aku
Terus tersenyum seperti perempuan idiot
yang baru mendapatkan mainannya. Kado yang aku persiapkan
untuknya sangatlah spesial.
Dan ini adalah kado yang benar-benar diinginkannya dan akan
kuberikan hari ini. Kenapa hari ini ?
Bukan karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Juga bukan karena ini adalah hari ke-100 atau ke-1000 jadian
kami.Bahkan juga bukan karena hari ini hari ia memenangkan sesesuatu.
Karena hari ini adalah hari dimana kami akan menyaksikan
salju terakhir.
Siang itu, dalam balutan putih sang putri salju aku terus
bercerita tentang mitos gembok cinta abadi di
namsan tower. Dengan
tenang ia terus mendengarkan semua ocehan bodohku.
“jadi apa kau mau kesana ?”
Aku menggeleng. Bagiku ada satu tempat dan satu momen yang
percaya dimana keabadian benar-
benar terjadi saat itu.
“kenapa ?”
“karena, ada hal yang lebih baik kita lakukan bersama selain
memasang gembok dinamsan tower”
Ia mengerutkan keningnya.
“apa itu ?”
“salju terakhir”
Matanya semakin menyiratkan kebingungan.
“nenekku bilang, jika ada yang bertemu seseorang disaat
salju terakhir turun dan saling memberi
hadiah mereka akan mendapatkan anugrah dari Tuhan. Jika itu
tentang cinta, cinta mereka akan
abadi sampai orang-orang itu mati cinta itu akan tetap
hidup, tumbuh dan membesar”
“ayo kita bertemu saat Salju terakhir”
“kau percaya tentang mitos itu” aku ragu dengan ucapannya, banyak diantara
teman-temanku
yang tidak menpercai mitos salju terakhir. Mereka selalu
bilang.
“orang bodoh mana yang percaya tentang hal itu. Lagipula
siapa yang tahu kapan salju terakhir
akan turun”
“ya, aku akan menyiapkan hadian paling istimewa untukmu”
Sesaat kutatap ratusan kunang-kunang yang terus terbang
mengitariku. Cukup untuk mengurangi
rasa bosanku dalam menunggunya.
Malam semakin larut, gumpalan putih itu mulai menipis. Tapi
sosok itu tak juga datang, aku
mencoba menunggunya
sebentar lagi. Setidaknya lima menit.
Aku terus begitu.
Mencoba terus berpikir kalau dia akan datang.
Dia hanya terlambat.
Mungkin dia sedang dijalan.
Mungkin mobil yang dipakainya mogok, jadi mungkin dia
menunggu bus atau taxi untuk kesini.Atau bisa jadi dia berlari kesini.
Ya aku terus berusaha untuk berpikir positif dan mencari
alasan agar tetap menunggu. Walaupun
hingga semua alasan-alasan tak masuk akalpun sudah aku
pikirkan.
Hingga sampai dingin sudah menembus tulang rusukku. Aku
masih tetap menunggunya, kakiku
semakin beku dan tetimbun didalam salju dingin yang terus
berjatuhan dengan pelan.
Kudengar langkah pelan diantara rerumputan yang basah,
langkah yang semakin mendekat
kearahku.
Seseorang dibalik jalan gelap dibelakang terus berjalan
mendekat.
“Kyung Soo” kucoba memanggilnya. Ia tak bersuara.
Kucoba menghilangkan keraguan dan ketegangan didalam diriku.
Sebelum akhirnya, aku benar-
benar melihat dengan jelas sosok orang yang datang kearahku.
Bukan kyung soo.
Tapi orang asing yang tak pernah kukenali, dia tak sendiri
ada beberapa orang dibelakangnya.
Tubuhku bergetar.
Aku bergetar ketakutan, kakiku terasa berat mencoba untuk
menghindar.Aku mencoba berlari. Aku
tak tahu kenapa aku ingin berlari.Tapi hatiku berkata kalau
mereka adalah orang jahat. Mereka
mengerjarku. Tumpukan salju membuat langkahku melambat.
“kyung Soo, tolong aku” suaraku serak. Tubuhku dingin saat
satu dari mereka menarik kakiku hingga
aku tenggelam didalam gundukan putih yang lembut.
“kyung Soo” satu-satunya kata yang dapat aku ucapkan saat
itu.
Satu-satunya orang yang aku ingat dan kuharap dapat
menolongku disaat orang-orang itu bergerak
merampas semua yang aku punya.
Mereka pergi dengan
meninggalkan terlalu banyak luka padaku.
Sebelum akhirnya aku membuka
mataku kembali.
Aku berharap aku akan berada didunia yang berbeda, tapi
Tuhan memberiku kehidupan. Hidup yang
tak pernah aku inginkan. Aku terkurung dalam dunia gelap
ketakutan.
Terperangkap dalam trauma psikis yang mendalam. Dan bahkan
setelah itu, pemuda yang aku
tunggu tak pernah datang. Ia meninggalkanku.
Kesalahannya karena ia tak memenuhi janjinya, kesalahannya
membuatku menunggu dan
membuatku diganggu oleh orang-orang asing yang mungkin sudah
membusuk dipenjara.
***
Dan hari ini tepat 7 tahun, 27 desember 2014.
Aku kembali ketempat yang sama, disini. Tempat ini aku
disini bukan untuk menunggunya.
Tapi untuk menyaksikan salju terakhir.
Ratusan kunang-kunang kembali bermain disekitarku. Kilau
keemasan nya menyala diantara
permadani putih yang terhampar.
Angin bergerak mengitari tubuhku dengan lembut, salju mulai
mencair diatara kaki-kaki kurusku
yang telanjang. Aku tak merasakan dinginnya salju walaupun
tak memakai jaket ataupun mantel
bulu.
Jika aku diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih
kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani. Aku
hanya ingin memilih menjadi salju. Putih, bersih, dan tetap
akan terus dingin dan juga karena salju
bisa menutup semuanya. Aku hanya ingin menutup masa lalu,
membiarkan semua hanya menatap
masa depan. Membuat semuanya kembali menjadi putih seperti
kertas tanpa noda.
Jantungku bergerak lebih cepat, mataku memunculkan kembali
bayangan pemuda itu. Aku kembali
berhalusinasi, berpikir ia benar-benar datang dan muncul
didepanku. Aku menyesali diriku sendiri
yang tak pernah melepaskan bayangannya pergi.
“kau masih menungguku”
“bukan,,,aku hanya menunggu salju terakhirku”
“kau membenciku... ?”
Mataku memicing, menatap tajam sosok didepanku. Muak rasanya
aku dengan semuanya. Untuk
apa dia datang kembali disaat-saat aku sudah bosan dengan
kehidupan. Kenpa baru sekarang ia
memenuhi janji untuk menemuiku.
“maaf kan aku..?”
“untuk apa ?, semuanya telah berlalu” walaupun seribu kali
dia meminta maaf. Takkan ada yang
berubah dari semuanya. Semuanya akan tetap sama, meskipun
berlutut dan memohon waktu
takkan bisa kembali. Kenangan kelam itu takkan pernah
menghilang dari ingatanku. Bahkan sampai
akhirpun aku akan tetap seperti ini. Terperosok dalam jurang
masa lalu yang terus-terusan
menghantui setiap hembusan nafasku.
“beri aku kesempatan untuk menjelaskan padamu ?”
“penjelasan untuk apa ?, kurasa itu sudah tidak diperlukan
lagi sekarang”
Ia bercanda, sekerang aku tak butuh penjelasan. Penjelasan
pun tak pernah merubah segalanya, ia
tetaplah telah melupakan janjinya.
“ketahuilah YeeRi, aku tidak pernah melupakan janji itu”
“berhentilah bicara Kyung Soo, tak bisakah kau biarkan aku
sendirian sekarang. Bisakah kau
menjauh dari kedupanku. Biasakah kau tak muncul lagi dalam
setiap detik hidupku”Semuanya akan percuma. Setidaknya biarkan aku mengeringkan
lukaku dulu sekarang. Sudah cukup
banyak ia membuatku menderita.
“kau yang pernah melupakanku Yeeri”
“kau tau itu kyung Soo, tapi kau malah membuatku menunggumu.
Hingga aku diganggu oleh
bajingan-bajingan itu, dan membuatku benar-benar menjadi
wanita sakit jiwa”
Pemuda macam apa dia, jelas kau tahu akulah yang tak pernah
bisa melupakannya. Jadi kenapa dulu
di meninggalkanku, membuatku benar- benar menjadi wanita
sakit jiwa yang terus menangis dan
ketakutan. Wanita yang terkurung dalam penjara masa lalu
yang menyedihkan, wanita yang terus-
terusan mengharapkan salju akan berakhir dan ikut mengakhiri
semua penderitaanku.
“maafkan aku, , ,itu kesalahanku. Ijinkan aku memenuhi
janjiku itu, biarkan aku bersamamu saat ini.
Menyaksikan salju terakhir seperti janji tujuh tahun yang lalu”
“tidak, aku ingin sendirian. Biarkan aku menyaksikannya
sendirian. Jika aku bersamamu, ini takkan
pernah adil. Sudah cukup aku menderita sendirian sekarang
giliranmu, rasakanlah bagaimana
rasanya ditinggalkan. Kau harus menderita, itu akan membuat
semuanya menjadi adil”
“aku sudah merasakan penderitaan itu Yeeri, penderitaan
karena kau tak pernah bisa melepaskanku
hingga aku tak pernah pergi dengan tenang. Dan ketahuilah
Yee-Ri aku sudah mendapatkan salju
terakhir ku. Tepat di tujuh tahun yang lalu”
Perlahan kurasan salju-salju itu mencair, aku masih menatap
tajam bayang-bayang pemuda
didepanku. “aku sudah mendapatkan salju terakhirku” apa
maksudnya itu, apakah dia ingin
memamerkannya padaku. Dia tahu aku tak melepaskannya jadi
apa penderitaan dari itu semua. Apa
di berpikir dia sudah mati.
Dan itu lah yang terjadi, aku baru menyadarinya. Itukah
alasannya yang tak pernah datang
menemuiku, dia sudah mati.
Aku tersenyum getir, selama ini membenci dia yang telah
tiada. Wanita idiot yang kehilangan akal
sehatnya yang terus-terusan berharap dia yang telah mati datang
dan merengkek minta maaf
padaku.
Mengharapkan dia yang sudah pergi jauh untuk memenuhi
janjinya.
Berharap agar ia juga mengalami penderitaan sama sepetiku.
Jelas aku yang terlalu bodoh, membuat
diriku sendiri menderita dalam lamunan sepi dan harapan yang
pernah abadi.
“lalu, , , kenapa kau
datang sekarang. Jika kau sudah melihat salju terakhirmu. Untuk apa kau
kembali.....”
“Karena aku mencintaimu,,, dan untuk memenuhi janjiku..”
Karena cinta, di bilang dia mencintaiku. Lalu apakah aku
juga mencintainya ?
Tentu saja, seberapa besarpun kesalahannya aku akan tetap
mencintainya. Sebodoh dan seidiot
apapun aku, tetaplah dia yang selalu aku ingat. Meskipun
bayangan sosok tentangnya telahmembuat hidupku kelabu, suatu saat salju akan
menutupnya. Sebanyak apapun air mataku dan
sebesar apapun luka yang aku punya.
Sekarang dia benar-benar hadir, berdiri tepat didepanku.
Walau hanya sesosok bayangan samar
yang aku ciptakan sendiri. Aku hanyalah wanita yang dianggap
sakit jiwa yang terus meronta untuk
dunia yang lebih baik. Untuk kehidupan yang terang, seperti
salju yang terus putih menutup semua
celah kelabu diantara deretan cahaya temaram yang memudar .
Kurasakan jantungku melemah. Salju terakhir ku aku sudah
mendapatkannya dan hari ini tepat
mengulang janji tujuh tahun yang lalu. Dan langit
kehidupanku tidak akan lagi menjadi abu-abu dan
kusam. Aku rasakan
tubuhku ikut berterbangan seperti salju. Aku sudah menjadi salju, aku wanita
salju bukan lagi wanita idiot yang sakit jiwa tapi wanita
salju yang putih, bersih dan tetap dingin
sampai kapanpun.
“salju terakhir adalah milikku..............”
______
Bukan seperti ini
akhir yang aku inginkan.
Seharusnya cinta kitapun abadi. Menua bersama dan memiliki
banyak keturunan. Terus bersama
dalam balutan hangat
cinta dan kehidupan. Bukan malah berakhir seperti ini.
“oppa lihatlah, salju sudah berakhir. Kita sudah mendapatkan
salju terakhir”
“ya, kuharap cinta kita benar-benar abadi seperti yang
nenekmu bilang”
“tentu saja. Kita akan terus bersama selamanya, berjanjilah
tak boleh ada yang meninggalkan. Jika
salah satu dari kita mengingkari janji itu Tuhan akan akan
menghukumnya”
“jadi dimana hadiahku...”
“tenang aku membawanya..”
“aku mencintaimu..”
“aku juga....”
Seharusnya kehidupan yang aku inginkan seperti itu. Terus
bersama selamanya. Tapi pada akhirnya
cinta kami memang abadi, tapi dengan cerita yang berbeda.
Cerita yang lebih dramatis, penuh lika-liku, dan pengorbanan
yang tak pernah ada habisnya.
Tidak seperti salju yang segera berakhir saat musim semi
datang membawa sejuta warna. Bukan
hanya putih tapi ribuan warnah indah yang akan membuat
kanvas putih menjadi penuh dengan warna.
“salju Terakhir. Bukan milikku tapi milik kita berdua... D.O
Kyung Soo”
Tamat
Langganan:
Komentar (Atom)
