Jumat, 08 Januari 2016

ketika aku jatuh cinta

Jatuh Cinta,
bukankah itu kata yang sering kita dengar. bukankah jatuh cinta itu sangat indah ? kali aku akan bercerita tentang perasaanku pada seseorang, mungkin kau bisa menyebutnya sebagai jatuh cinta.

jatuh cinta, terlalu dangkal pikiran kalian jika mengatakan jatuh cinta itu indah. Nyatanya tidak untukku, mungkin awalnya memang indah selalu membuatmu berdebar saat namanya disebut, membuat wajahmu bersemu merah saat dia melihat kearahmu dan selalu membuatmu melayang ketika ia mengirimkan pesan walau pendek padamu.
 aku jatuh cinta pada seniorku di Fakultas kedokteran. inisialnya FR (sengaja nggak dikasih tau nama aslinya) dia kuliah diprogram study kedokteran gigi sedangkan aku di jurusan Psikolog.

entahlah aku bingung menceritakannya seperti apa. sudah enam bulan sejak kami P2B (biasanya disebut OSPEK) aku sadar aku menaruh hati padanya. awalnya aku tidak menyukainya karena gara-gara dia aku harus membuat esay sebanyak 6 lembar double polio bolak balik, benar-benar menyebalkan. tapi entah kenapa aku bisa begitu meyukainya. ya aku jatuh cinta diam-diam dan sakitnya pun diam-diam.

setelah selesai P2B aku dan dia masih sering berkirim-kirim pesan bbm dan line. sayangnya dia hanya mengaggapku sebagai adik. dan akhirnya disinilah aku merasakan sakitnya mencintai seseorang. aku memang tidak mengatakan pd nya bahwa aku meyukainya tapi aku yakin dia tau.

meski begitu aku tidak apa-apa. hubunganku dengannya masih baik-baik saja. tapi dia tidak pernah menghungiku lagi sejak teman kostku mengirimkan pesan bbm pd nya yang intinya gini "ka riyana itu sama kaka" (sebnernya panjang aku ambil intinya aja) trus ka FR nya ngebalas yg bikin aku nyesek itu gini "trus kenapa kamu yg bilang, kenpa nggak dia aja" nah awalnya aku itu nggak tau kelakuan teman aku itu kalau kaka FR itu nggak ngirim capture-an dri bbmnya dia sama temanku. nah gara2 itu aku taku ngechat dia lagi kalaupun ngechat balasannya jua singkat pake banget udah beda dari dulu.

tapi sampai sekarang aku masih tetap suka sama dia. tak apalah mungkin ini yang namanya cinta yg menyakitkan. toh nanti kalau misalnya aku sudah mulai menyukai orang lain (belum ada tanda2 nya sekarang) aku bisa melupakanya pelan-pelan. elah aku curhatnya nggak asik yah.
ceritain juga dong pengalaman kamu....

Sabtu, 31 Oktober 2015

Cahaya di PALESTINA




Oleh : Riss_Fitr

            Palestina masih dilanda dengan berbagai serangan. Mulai dari darat, udara bahkan Laut jika ada. Semakin hari semakin banyak yang menjadi korban peperangan perebutan wilayah yang tak pernah usai. Tidak ada kata tenang untuk sebuah negara islam yang hampir lenyap dari peradaban. Meskipun sudah banyak yang menentang peperangan, demo oleh warga israel sendiri bahkan PBB yang selalu mengelu-elukan perdamaian tak dapat menghentikan serangan. Mungkin sekarang PBB sudah mulai tidak peduli dan mulai kehilangan rasa kemanusiannya. 

            Allah SWT.  tidak akan pernah diam. Meskipun mati dengan serangan bom, tembakan dan kekerasan Palestina tidak akan kehilangan semangat dan cita-cita kemerdekaannya. Walaupun sudah sangat keras orang-orang yahudi itu mencoba mengusir kami dari tanah palestina ini, jika Allah tidak menghendakinya apalah daya mereka. Meskipun berkali-kali mereka mencoba melenyapkan penduduk tapi masih ada yang diselamatkan dan dibiarkan meneruskan generasi agar tidak ada kepunahan. Inilah kehidupan, bertahun-tahun aku hidup dalam gonjang-ganjing kekacauan dan ketakutan . 19 tahun telah berlalu, peperangan tak juga usai.

            Bulan bersinar terang dengan angkuhnya berhiaskan bintang yang terhampar diseluruh penjuru langit seolah ingin mengabaikan rasa was-was dan takut dari wajah-wajah polos anak-anak palestina yang kehilangan keluarga dan masa indah mereka.

            Malam ini kubiarkan diriku sejenak menikmati malam yang dingin dan sunyi yang sudah sangat langka terjadi disini, kurasakan hembusan lembut angin malam yang masuk menerobos melalui jendela kamarku.  Mataku tertuju pada seorang gadis kecil diujung perempatan jalan tak jauh dari tempat kediamanku, ia terdiam sambil memeluk lututnya kupikir mungkin ia sedang menangis tapi kenapa ?. takkan terjawab jika aku masih berdiri disini, dikamarku dan mengamatinya dari jendela aku tidak akan tahu apa yang terjadi padanya.Aku segera keluar dari kediamanku, menembus hawa dingin yang masuk kesum-sum tulang.

“kau mau kemana Shaba ?” seseorang memanggilku saat aku didepan pintu

“ada yang ingin aku lakukan, tidak akan lama” ucapku pada temanku Zainab

“ini sudah Malam, bahaya” ucapnya melarangku

“tidak apa-apa, hanya sebentar” aku meyakinkannya.

“ya sudah, cepat kembali ya” ucap Zainab lagi dengan wajah khawatir

“iya, assalamualaikum” sahutku kemudian segera berlari menuju posisi gadis kecil yang aku lihat dari kamarku dilantai dua. Hanya ada beberapa lampu jalan yang menyala seadanya, cahayanya samar hampir redup namun cukup kalau hanya untuk menerangi jalan setapak diantara gedung-gedung usang yang menjadi perumahan kami.

            Ia sigadis kecil yang aku lihat tadi masih disana, tetap dengan posisnya. Memeluk kedua lututnya. Kucoba menghampirinya ia tak menghiraukan kedatanganku, air matanya mengalir perlahan menuruni lekut wajahnya. Kulihat bibirnya terus bergerak, kuperhatikan dengan jeli ia sedang melapalkan beberapa ayat suci Al-qur’an. Kudekatkan lagi diriku padanya, tak salah pendengaranku ia memang sedang membaca ayat suci Al-Quran. “kenapa ditempat seperti ini” batinku, aku terus bertanya pada diriku sendiri. Aku semakin medekat kearahnya ia berhenti kemudian menatap tajam kearahku, sesaat tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan pengharapan. Air matanya masih berguguran membasahi baju biru muda yang sudah kotor dipenuhi noda-noda lumpur dan  darah, rambutnya acak-acakan tak beraturan.

            Ada perasaan sedih bercampur marah dalam diriku, perlahan air mataku mengalir kurasakan sesak didadaku. Luka yang dulu sempat aku simpan kembali terbuka, gadis kecil didepanku ini  membuatku merasa bercermin pada masa laluku. Kurengkuh ia kurasakan dingin disekujur tubuhnya, ia tersenyum mulutnya kembali melapalkan ayat suci Al-Qur’am yang sempat terhenti.

“apa yang terjadi padamu ?” tanyaku padanya

Ia hanya menatapku, bibirnya tak berkata apa-apa selain ayat-ayat suci yang terus ia bacakan. Kulepaskan jaket yang menghangatkan ku dan kuberikan pada gadis kecil yang berada dipangkuanku.

            Kuperhatikan sekelilingnya tak ada apa-apa kecuali sesosok mayat perempuan yang terbujur kaku dengan kondisi sangat mengenaskan. Kakiku lemah tak kuasa untuk bergerak, kurasakan tubuhku hampir tumbang, dadaku terasa semakin sesak dan kurasakan pusing dikepalaku. Malam ini aku telah menemukan kemabali mozaik kelam hidupku 19 tahun yang lalu. Kepingan ingatan yang selama ini telah kucoba untuk kuhilangkan kembali terulang.

“apa ibu akan bahagia ?” gadis kecil itu bertanya, matanya berkaca-kaca penuh harap

“tentu, Allah akan memberikan tempat yang layak untuknya” ucapku, kulihat sebuah senyum kembali merekah diwajahnya. Aku bergerak mendekati mayat perempuan tanpa busana dengan wajah biru lebam dan penuh darah itu, kututup seadanya dengan beberapa helai baju dan kerudung miliknya yang terlapas tak jauh darinya. Aku tak kuasa melihat wajahnya yang sudah tak bisa dikenali lagi.

            Gadis ini mengingatkanku kembali pada kenangan kelam yang kualami dulu. Kenangan yang hampir membuatku kehilangan semangat hidupku dan telah berhasil merenggut keluargaku.

            Malam itu 19 tahun yang lalu, bulan dan bintang ikut bersembunyi dibalik kabut pekat yang menyelimuti malam. Aku masih berusia 8 tahun hanya bisa menangis melihat kekejaman Zionis Israel yang menerobos masuk kedalam rumahku, kemudian memperlakukan kedua orang tuaku seperti binatang. Mereka menyeret-nyeret ayah dan ibuku, menendang dan memukul mereka tanpa belas kasihan. Tidak peduli dengan ayah dan ibuku yang terus berontak.

“bunuh saja kami, tapi tolong lepaskan kedua putriku” ibuku memohon.

“untuk apa, kau sudah melakukan penghianatan. Inilah balasan untukmu” ucap salah seorang tentara israel kemudian menendang perut ibuku dengan sangat keras. Jika aku sedik lebih berani waktu itu ingin rasa aku mencakar-cakar wajahnya yang angkuh itu.

“tolong lepaskan mereka” ayahku kembali memohon, tangan yang biasanya terlihat kuat dan kokoh saat itu terlihat kerkulai lemah tanpa tenaga untuk melawan.

“seharusnya kau tidak menghianati kami, jadi ini tak perlu terjadi” kata laki-laki lainnya sambil menginjak perut ayahku dengan sangat keras hingga darah seger keluar dari mulutnya. Rasanya rasa sakit itu menjalar ketubuhku. 

“baiklah satu penawaran lagi, apa kau menyesal sekarang. Masih ada waktu untukmu merubah pikiran” pria berbadan paling besar itu memberikan sebuah penawaran,

“tidak kami tidak menyesal. Kami tidak akan menyesal memilih ISLAM sebagai agama kami” ibu bersuara dengan terbata-bata namun lantang. Dapat kulihat sebuah kekuatan dan keyakinan terpancar dari matanya yang lembab oleh air mata.

“keparat, akan segera kubunuh kalian” pria berbadan besar itu sangat marah, ia mengambil pistolnya yang mengarahkan pelatuknya kepelipis kedua orang tuaku. Kakakku Yohana memelukku erat saat itu, badannya dingin tangan gemetar hebat tak ada jalan lari untuk kami. ia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sakit yang sama seperti yang dirasakan kedua orang tuaku.

“kau mungkin bisa menghancurkan dan membunuh kami. Tapi percayalah kalian tidakan akan bisa merampas keimanan kami” ucap ayahku, tak ada keraguan dari setiap kata-katanya. 

            Dengan satu kali tembakan mereka membunuh ayah dan ibuku, suara tembakan pistol itu seakan suara kembang api yang biasanya dimainkan di tahun baru. Mereka terlihat senang, tidak sangat senang setelah melakukannya, percikan darah segar muncrat hingga kearahku. kemudian menendang mayatnya seenak hati mereka didepanku dan kakakku. Tak ada yang bisa kami lakukan saat itu selain menangis dan terus berdo’aa agar Tuhan masih  memberi kami kesempatan untuk hidup. Entah apa yang terjadi saat itu tiba-tiba kakakku berdiri dan berteriak dengan lantang didepan para tentara Zionis Israel. 

“Asshaduallailahaillallah wa ashaduannamuhammadarasulullah” berulang kali ia meneriakkan kalimat syahadat itu di depan para tentara Zionis Israel. 

            Mereka sangat marah mendengar kalimat-kalimat yang di teriakan ka Yohana. Mereka menyeretnya dan berlaku lebih keji padanya. Mereka, Zionis israel biadab itu membunuhnya secara perlahan, menyiksanya tanpa perasaan dan memeperlakukannya seperti bukan seorang manusia. Bagiku mereka adalah setan berwujud manusia karena itu tak ada rasa kasihan dalam diri mereka. Dengan nafsu setannya mereka merenggut kehormatan kakak perempuanku. Kemudian tidak puas dengan itu mereka menendang, memukul dan menyobek-nyobek kulinya sedikit demi sedikit mereka memainkan pisau kecil disekujur tubuhnya, seolah ia adalah kanvas hidup yang dapat dengan sesuka hati mereka lukis dengan ujung pisau yang selalu mereka bawa. Semakin keras kakakku mengucapkan Takbir semakin jadi ulah mereka. Setelah memastikan korbannya sudah tak bernyawa lagi, mereka meninggalkannya seperti sampah dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Tanpa perasaan takut akan dosa mereka pergi meninggalkan jejak luka yang sangat dalam untuk seorang anak. Shaba Kecil, ya itu aku. Aku telah mengalami banyak luka, tekanan dan penderitaan siksaan yang mereka buat menjadi sebuah memory menyakitkan bukan untuk fisikku tapi dijiwaku.

Kini kejadian itu terjadi lagi pada Shaba lainnya, luka itu terpatri lagi dalam hati gadis kecil di pangkuanku. Mungkin kejadiannya tidak sama, tapi luka dan kesedihannya tetaplah sama. Ada hal yang membuatku lebih baik dengan kejadian itu, sejak itu aku memilih menjadi seorang Muslimah seperti kedua orang tuaku dan kakak perempuanku. Karena kejadian itu, keinginanku dan keyakinanku meninggalkan agama Yahudi dan memeluk islam semakin kuat dan besar. 

            Aku masih tak bergerak dari posisiku, kurasakan tubuh kecil gadis malang ini kembali menghangat matanya sudah terpejam, ia tertidur dengan lelap dan tenang. Tak ada wajah takut padanya, yang ada hanya sebuah senyum kemenangan. Ku bawa ia menuju rumahku agar dapat tidur dengan tenang dan nyaman.

            Ada satu hal yang membuatku senang, saat para Zionis itu bisa membuat kami merasa tertekan aku percaya seperti yang ayahku katakan Mereka tidak akan pernah menang. Meskipun mereka berhasil membunuh seluruh keluarga kami, merampas keindahan masa kecil kami dan menghancurkan kedamaian dan ketentraman yang pernah kami miliki. Mereka tidak akan pernah dapat mengusir kami dari tanah ini, tanah kelahiran kami walaupun aku tidak dilahirkan disini, Palestina akan selalu merindukan kedamaian dan kemerdekaanya. Mereka tidak akan pernah bisa merebut tanah ini karena cita-cita anak palestina sudah mengakar disini. Pengeboman, serangan, kekerasan, dan ancaman mungkin bisa membuat kami ketakutan tapi tidak bisa membuat kami menjauh. Kami mungkin akan kehilangan keluarga, tempat tinggal bahkan nyawa tapi mereka Zionis israel itu tidak akan pernah menang sampai kapanpun kerena kami pera penduduk palestina tidak akan pernah kehilangan sisi kemanusian, cinta, kasih sayang, dan Keimanan. 

            Karena aku percaya Palestina tidak akan Malam selamanya, Matahari pasti akan muncul setelah malam yang gelap dan panjang berlalu. Cahaya tidak akan selamanya redup,  masih ada lampu yang tersisa dari semangat anak-anak Palestina yang akan segera menyala dan terus bercahaya sepanjang masa.

~END~

Sabtu, 28 Februari 2015

I Miss You Brother- Sehun Version


 Ficlet


Title : I Miss You Brother- Sehun Version

Cast : Oh Sehun - XiLuhan 

Genre : brothership, 

Author : RisMee Park 


----Summary-------



~ aku merindukannya. Tapi tak ada hal yang bisa kulakukan, setidaknya mengetahui ia baik-baik saja pun sudah cukup bagiku~



____




aku menarik nafasku dalam. Mencoba mengurangi sedikit perasaan yang membebaniku. Aku lupa sudah berapa lama setelah ia meninggalkan kami disini. Ya , dia telah menemukan jalannya sekarang.

kami memang sudah memiliki jalan yang berbeda sekarang, tapi kami akan selalu memiliki kenangan yang sama. Aku sudah cukup terbiasa dengan ketidak hadirannya sekarang. ya, awalnya memang sulit untuk menerima kenyataan. Tapi sekarang, aku sudah bisa sedikit demi sedikit menepis nya dari ingatanku. Sulit memang bagiku menerima ia telah meninggalkan kami- Aku khususnya. Pria mandarin yang selalu ku panggil Hyung itu, sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Sejak masa Trinee aku sudah dekat dengannya, aku yang masih sangat muda saat itu belum mengerti seperti apa dunia yang akan aku jalani kelak. 

Ia begitu baik padaku, ia terus-terusan mendorong semangatku saat aku sudah merasa lelah menjalani rutinitas Trinee yang berat. Awalnya aku mengira ini semua akan berjalan mulus. Kebahagian tak terperikan untukku saat itu, saat kami didebutkan didalam grup yang sama. Bagiku tak ada berita yang lebih menggembirakan untukku saat itu. Dimana diantara banyaknya Trinee kami bisa debut dalam satu grup yang sama, sangat sulit untuk mendapatkan keberuntungan seperti itu. Tapi aku sadar itu hanya sisa-sisa kenangan yang masih menempel disudut-sudut ingatanku, pada kenyataannya sekarang ia telah memilih jalan yang berbeda. Aku memang mendukung pilihannya, aku tahu sesulit apa untuknya berada jauh dari orang tuanya. Yang tidak bisa aku terima hanyalah, kenapa ini terjadi begitu cepat. 

sehun-ah makanlah dengan baik dan jaga kesehatanmu” 

Aku ingat dengan jelas apa yang dikatakannya padaku sehari sebelum ia kembali kenegeri tirai bambu saat itu. Tapi tak kusangka hari itulah terakhir kalinya aku bisa bermain-main dan bermanja-manja dengannnya. Sekarang, bukannya tidak boleh. Hubungan kami masih baik-baik saja, tapi akan sangat sulit untukku bisa bertemu dengannya. Managementku tidak akan membiarkan aku bertemu dengannya. Itulah sebabnya. 

Dia-XI LUHAN- hyung yang selalu mengerti aku. Satu-satunya orang yang bisa meredam kemarahanku. Satu-satunya orang yang bisa membuatku bercerita tentang masalahku. Bukannya aku tidak dekat dengan member yang lain tapi Luhan-hyung berbeda. Aku merasa sangat sangat nyaman setelah menceritakan masalahku dengannya. 

Membuka lembaran kenangan saat kami bersama hanya akan lebih menyakitiku. Bagaimana tidak, biasanya saat kami mengadakan tour keberbagai negara aku pasti hanya akan berbagi kamar dengannya. Dan di bandara, biasanya hyung-ku itu  sangat ceroboh. Ia selalu hampir terjatuh, dan para pengawal kami selalu tidak bisa diandalkan, itulah kenapa aku selalu berada disampingnya.
Aku benar-benar sangat merindukannya sekarang, setiap kali aku mengingatnya aku malah terlihat seperti anak kecil yang cengeng. Tanpa seizinku air matanya merembes dengan cepat dari sudut mataku. Mendengar cerita tentangnya sedikit membuatku lebih baik, setidaknya untuk sesaat. 

“kring..kring..” aku bergerak menghampiri ponselku. 


“----Luhan Hyung---“


Mataku membulat. Aku tidak percaya, setelah sekian lama kami kehilangan kontak. Sekarang, aku menerima sebuah pesan darinya. Aku menahan nafasku dalam, berharap ini bukanlah sebuah mimpi seperti yang sudah-sudah. Kurasakan air mataku turun dari sudut mataku, bukan karena sedih. Aku hanya terharu, selama ini aku berharap ia menghubungiku. Sudah puluhan pesan yang kukirim secara rahasia dari managerku untukku tapi ia bahkan tak membalas satupun. Jujur aku sempat membencinya karena itu, tapi kebencian itu hanya sesaat. Aku tetap tidak akan bisa menepis kerinduanku pada Hyung-ku itu.


----Luhan Hyung---

12.00 KST

Sehun-ah , maaf hanya bisa membalas pesanmu sekarang. apa kau baik-baik saja. Senang rasa aku mendengar kalian mendapat banyak penghargaan. Aku tahu kau tak punya banyak waktu untuk bersantai, tapi kau tidak boleh terlalu lelah. Makanlah dengan baik dan jaga kesehatanmu. Sehun-ah bogoshipo-yo.



Lahi-lagi air mataku menetes, aku menangis merindukannya. Tapi tak ada yang bisa aku lakukakan sekarang, berharap ia kembali itu satu-satunya hal yang bisa aku lakukan walaupun itu mustahil. Mengingat mediasinya dan manangementku selalu mengahasilkan keputusan yang membuatku muak berharap. 

Aku merindukanya, tapi tak ada yang bisa aku lakukan. Mengetahui ia baik-baik saja itu sudah cukup untuku.

Mungkin ceritanya akan berbeda jika sejak awal kami tidak saling mengenal satu sama lain. Atau setidaknya aku tidak pernah menganggapnya orang yang penting dalam hidupku. Tapi tak ada gunanya aku menyesali masa lalu, yang terpenting sekarang aku hanya berharap Tuhan akan mempertemukan kita lagi, dipanggung yang sama dengan keadaan yang berbeda. Aku hanya berharap kami dan juga hyung akan terus bersinar. Aku tahu ada banyak cinta yang mengharapkannya kembali tapi, aku tidak ingin itu terjadi jika akan membuat Hyung-ku tersiksa. Kami akan bersinar bersama-sama walau dengan jalan yang berbeda.


Bogoshipo-yo Hyung...


--HunHan Shiper--

Rabu, 14 Januari 2015

The Last Snow



 Ficlet !

TITLE: The Last Snow

Author : RisMee Park
 
Cast : Yee-Ri (OC)- D.O Kyung Soo

Rated : PG17

Genre : sad

Recomanded song : T-ara Day and Nigh

Alur : maju mundur ( campuran) yang italic itu flash back + percakapan. Di pahami aja ya.

Summary :

Aku sudah terbiasa dengan semuanya.
Terbiasa dengan tangis, luka, dan kesepian. ...
Aku bisa mengatasi lukaku sendiri tanpamu aku masih bisa hidup. Walaupun kebencian, cinta,
amarah dan dendam masih membucah didadaku. Seperti gumpalan putih yang dingin.
Perlahan mencair memenuhi ruang hatiku yang selama ini telah gersang dan kering diantara
reruntuhan salju terakhir  ditahun-tahun yang lalu.


***
Memory itu kembali terulang.

Kenangan dari butiran-butiran salju diantara langit kelabu kembali muncul. Saat aku mencoba
 menutup semua lukaku.

Pertemuan itu terjadi, ia kembali datang setelah sekian lama.

Saat kaki-kakiku mulai layu dan rapuh, saat butir-butir air mata telah membeku bersamaan dengan
bekunya salju ditanah basah. Setelah sekian lama, dia kembali.

Tujuh tahun sudah berlalu, ditempat yang sama, dilangit yang sama dan di salju yang sama. Dia
kembali. Dengan senyum sama. Entah apakah ini karena hanya aku yang merasa bahwa waktu tidak
pernah bermetamorfosa menjadi lebih maju.

Semuanya tetap pada keadaan yang sama.  Dibawah langit kelabu yang tak pernah berubah menjadi
terang.

Pada pertemuan yang tak pernah diharapkan bisakah dia kembali dengan tatapan yang sama.

Setelah sekian lama menghilang bersama angin.

“aku masih menyimpan lukamu”Bibirku bergetar, kurasakan dingin disekujur tubuhku yang telah membeku. Dia tak bergeming.

Menatap kosong bayangan kelam didepannya.

“pergilah dari kehidupanku. Aku bisa menjalani hidupku sendiri” aku berteriak mencoba
mengusirnya. Walaupun pada kenyataannya aku tetap tidak akan bisa melupakannya. Tapi aku juga
tak bisa memaafkannya.

Walau aku terus berharap dia akan kembali, tapi tidak akan lagi sekarang. Aku sudah terbiasa
dengan semua lukaku, walaupun kenyataanya aku merasakan luka itu karena  merindukannya.

Pemuda yang telah meninggalkanku, membuatku menderita di tujuh tahun terakhir.

“D.O Kyung Soo, aku membencimu”

Ia masih tak bergeming. Bibirnya kembali tersenyum .

“kubilang aku membencimu....”

Sesaat ia menghilang, bersamaan dengan padamnya lampu-lampu temaram secara bergantian.
Semuanya kembali gelap, angin dingin perlahan berhembus melewati tubuhku.

“disaat kau menghilangpun kau masih bisa membuatku menderita, kenapa....”

Nafasku terasa lebih berat, kurasakan tubuhku melayang perlahan. Pandanganku menjadi samar tapi
aku masih bisa melanjutkan kata-kataku.

“kenapa,, kau melakukanya....”
___

Tempat yang berbeda, aku kembali ketempat yang berbeda.

Aku lupa apa yang telah terjadi padaku. Diruang dengan nuansa putih terang, aku mencoba
bertanya.  “apa yang terjadi padaku..”

Tak seorangpun menjawabnya. Kucoba untuk bangun, membuka horden berwarna terang
disampingku. Lagi-lagi langit masih kusam dan kelabu. Tak bisakah ia berubah menjadi lebih terang,
menjadi lebih baik sehingga aku takkan pernah mengingat-ingat mimpi buruk itu lagi.

Angin dingin berhebus membuat tubuhku yang hanya dibalut dengan kain satin tipis meringkuk
kedinginan. Perlahan kurasakan tubuhku kembali melemah. Seseorang memegang pundakku,
mencoba menahan tubuh rapuhku.

“berhentilah bergerak dan menghilang Yee-Ri”

Perempuan berambut panjang yang mengaku sebagai sahabatku ini terus bersamaku. Ia terus
mengkhawatirkanku. Bahkan aku lupa sedekat apa dulu aku dengannya.

“kemana kemarin aku pergi, Jhena”

“kau lupa lagi ?, sudahlah lupakan saja kau harus istrirahat” tangannya dengan lembut membantuku
kembali keranjang putih yang hangat.“salju masih turun ?”

Ia mengangguk perlahan, matanya ikut menerawang kelangit kelabu dibalik kaca transparan
disampingku.

“kapan salju terakhir turun”

“kau masih mencintainya kan ?”

“ini bukan tentangnya..” namun kenyataannya ini memang tentang pemuda itu, tentang  masa lalu
yang tak pernah bisa aku lupakan walaupun aku berkali-kali mencoba melupakannya.

Meskipun aku bersikeras mencoba mengatakan aku tak lagi mencintainya dan tidak merindukanya,
kenyataannya aku terus saja terluka karena kehilangannya. Terlalu banyak kenangan yang telah ia
berikan padaku, terlalu banyak hal yang kami lalui bersama.  Dan ia terlanjur membuatku tak bisa
melupakannya. Peranannya terlalu besar dalam kehidupanku, ia terlalu banyak bermain dalam
kehidupanku.

“Yeeri, aku harap sekarang kau bisa hidup lebih baik”

“apa aku terlihat buruk dimatamu ?” cukup aku mendengarnya, aku tahu selama ini aku hidup
dengan buruk. Tapi itu dulu, tujuh tahun yang lalu. Aku akan berubah sekarang, takkan kubiarkan
pemuda itu datang dan melihatku dalam keadaan seperti ini.

Wanita itu menggeleng, dengan lembut tangannya membelai surai pirangku. Jujur aku tak menyukai
perlakuannya, bukan hanya dia yang memperlakukanku seperti itu tapi hampir semua orang mereka
bertingkah seolah aku adalah orang yang sekarat dan menderita. Meskipun kenyataannya memang
begitu tapi tak bisakah mereka memperlakukanku dengan manusiawi.

“dia tidak akan kembali Yeeri, kau harus sembuh”

Ingin rasanya aku menghardik dan mengumpat perempuan yang  ada dihadapanku ini.

“kau harus Sembuh”
 
Begitukah mereka  menganggapku, sakit apa memangnya aku selama ini. Sehingga dengan kejam
mereka mengurungku dalam penjara membosankan ini. Semua warna didominasi warna putih.  Cat
ruangan, ranjang, meja, horden bahkan pakaianpun semuanya putih,  seolah ingin menandingi
gumpalan salju yang turun dengan pelan. Namun kenapa, langit masih abu-abu dan kusam. Kenapa
kehidupanku masih kelam tak bisakah berubah menjadi lebih terang.

Pemuda itu, dialah penyebah semua penderitaanku selama ini. Dia membuatku kehilangan akal
sehatku bahkan ia membuatku kehilangan jiwaku. Ia membuatku hidup bagai wanita sakit jiwa yang
terus berharap ia kembali meringkuk dan memohon agar meminta maaf padaku, disaat yang lain aku
akan berharap ia takkan pernah kembali. Aku memang sudah gila, itu semua karena ulahnya.
Pemuda yang tak bisa dibilang istimewa, namun bisa membuatku jatuh cinta. Ia tidak bisa tampan
namun juga tidak buruk. Jika aku mau aku bahkan bisa mendapatkan sepuluh orang yang sepertinya.

Tapi kenapa.Ia terus saja menggerogoti kehidupanku, bahkan saat ia menghilang ia masih bisa mengusai diriku.

Apa yang sebenarnya dia punya.

Kemampuannya dalam membuat lirik dan nada yang indah ? .

Itu hanya akan menjadi hal yang sia-sia, meskipun ia punya ribuan lirik dan nada yang buat untukku
ia takkan pernah bisa menyanyikannya untuk. Bahkan sampai ia kehilangan nyawanya.

“mengertilah Kyung Soo, tak ada apapun yang istimewa darimu. Jadi kau kau harus segera pergi.
Tolong lepaskan aku”

“kau yang tak pernah melepasku Yee-Ri”

Kejam, kehidupan hanya bisa bisa mempermainkanku. Dia jelas tahu kalau akulah yang tak pernah
bisa melepasnya jadi untuk alasan apa ia meninggalkanku sendirian.

Setelah sekian lama, setelah bersusah payah aku mencoba untuk mengeringkan semua luka ku, aku
berjuang untuk melupakan semuanya. Tapi kenyataannya aku bahkan tak pernah melupakan nya
walau hanya satu detik dari bagian hidupku, kehidupan terlalu enggan memberikan ketenangan
untukku.

Bahkan langitpun tak pernah ingin bersahabat denganku.

Hanya gumpalan putih dimusim dingin yang bisa menjadi temanku, ia tak pernah berubah padaku.
Tetap dingin dan putih. Cukup dengan itu, aku merasa lebih baik. Walaupun aku tak pernah merasa
lebih baik.

Seharusnya tidak seperti ini akhir yang aku inginkan dari hidupku. Tak bisakah waktu berputar untuk
kali ini saja, jika bisa beri aku kesempatan untuk merubah semuanya. Semua yang ada dalam
hidupku.


27 desember 2006

Diantara deretan temaram lampu jalan yang keemasan.  Disini aku masih mencoba menunggu.
Bukan seseorang, tapi janji.

Janji yang telah aku pertautkan untuk seseorang.  Pemuda pendiam yang telah lama membuatku
menjadi wanita yang benar-benar mengerti tentang artinya sebuah cinta.

Menunggu di bawah pohon mample yang telah kehilangan daunnya.  Meringkuk kedingingan dalam
balutan jaket berwarna cream yang tebal. Meski begitu aku Terus tersenyum seperti perempuan idiot
yang baru mendapatkan mainannya. Kado yang aku persiapkan untuknya sangatlah spesial.

Dan ini adalah kado yang benar-benar diinginkannya dan akan kuberikan hari ini. Kenapa hari ini ?

Bukan karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Juga bukan karena ini adalah hari ke-100 atau ke-1000 jadian kami.Bahkan juga bukan karena hari ini hari ia memenangkan sesesuatu.

Karena hari ini adalah hari dimana kami akan menyaksikan salju terakhir.

Siang itu, dalam balutan putih sang putri salju aku terus bercerita tentang mitos gembok cinta abadi di
namsan tower.  Dengan tenang ia terus mendengarkan semua ocehan bodohku.

“jadi apa kau mau kesana ?”

Aku menggeleng. Bagiku ada satu tempat dan satu momen yang percaya dimana keabadian benar-
benar terjadi saat itu.

“kenapa ?”

“karena, ada hal yang lebih baik kita lakukan bersama selain memasang gembok dinamsan tower”

Ia mengerutkan keningnya.
 
“apa itu ?”

“salju terakhir”

Matanya semakin menyiratkan kebingungan.

“nenekku bilang, jika ada yang bertemu seseorang disaat salju terakhir turun dan saling memberi
hadiah mereka akan mendapatkan anugrah dari Tuhan. Jika itu tentang cinta, cinta mereka akan
abadi sampai orang-orang itu mati cinta itu akan tetap hidup, tumbuh dan membesar”

“ayo kita bertemu saat Salju terakhir”

“kau percaya tentang mitos itu”  aku ragu dengan ucapannya, banyak diantara teman-temanku
yang tidak menpercai mitos salju terakhir. Mereka selalu bilang.

“orang bodoh mana yang percaya tentang hal itu. Lagipula siapa yang tahu kapan salju terakhir
akan turun”

“ya, aku akan menyiapkan hadian paling istimewa untukmu”

Sesaat kutatap ratusan kunang-kunang yang terus terbang mengitariku. Cukup untuk mengurangi
rasa bosanku dalam menunggunya.

Malam semakin larut, gumpalan putih itu mulai menipis. Tapi sosok itu tak juga datang, aku
mencoba  menunggunya sebentar lagi. Setidaknya lima menit.

Aku terus begitu.

Mencoba terus berpikir kalau dia akan datang.

Dia hanya terlambat.

Mungkin dia sedang dijalan.

Mungkin mobil yang dipakainya mogok, jadi mungkin dia menunggu bus atau taxi untuk kesini.Atau bisa jadi dia berlari kesini.

Ya aku terus berusaha untuk berpikir positif dan mencari alasan agar tetap menunggu. Walaupun
hingga semua alasan-alasan tak masuk akalpun sudah aku pikirkan.

Hingga sampai dingin sudah menembus tulang rusukku. Aku masih tetap menunggunya, kakiku
semakin beku dan tetimbun didalam salju dingin yang terus berjatuhan dengan pelan.

Kudengar langkah pelan diantara rerumputan yang basah, langkah yang semakin mendekat
kearahku.

Seseorang dibalik jalan gelap dibelakang terus berjalan mendekat.

“Kyung Soo” kucoba memanggilnya. Ia tak bersuara.

Kucoba menghilangkan keraguan dan ketegangan didalam diriku. Sebelum akhirnya, aku benar-
 benar melihat dengan jelas sosok orang yang datang kearahku.

Bukan kyung soo.

Tapi orang asing yang tak pernah kukenali, dia tak sendiri ada beberapa orang dibelakangnya.

Tubuhku bergetar.

Aku bergetar ketakutan, kakiku terasa berat mencoba untuk menghindar.Aku mencoba berlari. Aku
tak tahu kenapa aku ingin berlari.Tapi hatiku berkata kalau mereka adalah orang jahat. Mereka
mengerjarku. Tumpukan salju membuat langkahku melambat.

“kyung Soo, tolong aku” suaraku serak. Tubuhku dingin saat satu dari mereka menarik kakiku hingga
aku tenggelam didalam gundukan putih yang lembut.

“kyung Soo” satu-satunya kata yang dapat aku ucapkan saat itu.

Satu-satunya orang yang aku ingat dan kuharap dapat menolongku disaat orang-orang itu bergerak
merampas semua yang aku punya.

Mereka pergi  dengan meninggalkan terlalu banyak luka padaku.

Sebelum akhirnya aku membuka  mataku kembali.

Aku berharap aku akan berada didunia yang berbeda, tapi Tuhan memberiku kehidupan. Hidup yang
tak pernah aku inginkan. Aku terkurung dalam dunia gelap ketakutan.

Terperangkap dalam trauma psikis yang mendalam. Dan bahkan setelah itu, pemuda yang aku
tunggu tak pernah datang. Ia meninggalkanku.

Kesalahannya karena ia tak memenuhi janjinya, kesalahannya membuatku menunggu dan
membuatku diganggu oleh orang-orang asing yang mungkin sudah membusuk dipenjara.


***
Dan hari ini tepat 7 tahun, 27 desember 2014.

Aku kembali ketempat yang sama, disini. Tempat ini aku disini bukan untuk menunggunya.

Tapi untuk menyaksikan salju terakhir.

Ratusan kunang-kunang kembali bermain disekitarku. Kilau keemasan nya menyala diantara
permadani putih yang terhampar.

Angin bergerak mengitari tubuhku dengan lembut, salju mulai mencair diatara kaki-kaki kurusku
yang telanjang. Aku tak merasakan dinginnya salju walaupun tak memakai jaket ataupun mantel
bulu.

Jika aku diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani. Aku
hanya ingin memilih menjadi salju. Putih, bersih, dan tetap akan terus dingin dan juga karena salju
bisa menutup semuanya. Aku hanya ingin menutup masa lalu, membiarkan semua hanya menatap
masa depan. Membuat semuanya kembali menjadi putih seperti kertas tanpa noda.

Jantungku bergerak lebih cepat, mataku memunculkan kembali bayangan pemuda itu. Aku kembali
berhalusinasi, berpikir ia benar-benar datang dan muncul didepanku. Aku menyesali diriku sendiri
yang tak pernah melepaskan bayangannya pergi.

“kau masih menungguku”

“bukan,,,aku hanya menunggu salju terakhirku”

“kau membenciku... ?”

Mataku memicing, menatap tajam sosok didepanku. Muak rasanya aku dengan semuanya. Untuk
apa dia datang kembali disaat-saat aku sudah bosan dengan kehidupan. Kenpa baru sekarang ia
memenuhi janji untuk menemuiku.

“maaf kan aku..?”

“untuk apa ?, semuanya telah berlalu” walaupun seribu kali dia meminta maaf. Takkan ada yang
berubah dari semuanya. Semuanya akan tetap sama, meskipun berlutut dan memohon waktu
takkan bisa kembali. Kenangan kelam itu takkan pernah menghilang dari ingatanku. Bahkan sampai
akhirpun aku akan tetap seperti ini. Terperosok dalam jurang masa lalu yang terus-terusan
menghantui setiap hembusan nafasku.

“beri aku kesempatan untuk menjelaskan padamu ?”

“penjelasan untuk apa ?, kurasa itu sudah tidak diperlukan lagi sekarang”

Ia bercanda, sekerang aku tak butuh penjelasan. Penjelasan pun tak pernah merubah segalanya, ia
tetaplah telah melupakan janjinya.

“ketahuilah YeeRi, aku tidak pernah melupakan janji itu”

“berhentilah bicara Kyung Soo, tak bisakah kau biarkan aku sendirian sekarang. Bisakah kau
 menjauh dari kedupanku. Biasakah kau tak muncul lagi dalam setiap detik hidupku”Semuanya akan percuma. Setidaknya biarkan aku mengeringkan lukaku dulu sekarang. Sudah cukup
banyak ia membuatku menderita.

“kau yang pernah melupakanku Yeeri”

“kau tau itu kyung Soo, tapi kau malah membuatku menunggumu. Hingga aku diganggu oleh
bajingan-bajingan itu, dan membuatku benar-benar menjadi wanita sakit jiwa”

Pemuda macam apa dia, jelas kau tahu akulah yang tak pernah bisa melupakannya. Jadi kenapa dulu
di meninggalkanku, membuatku benar- benar menjadi wanita sakit jiwa yang terus menangis dan
ketakutan. Wanita yang terkurung dalam penjara masa lalu yang menyedihkan, wanita yang terus-
terusan mengharapkan salju akan berakhir dan ikut mengakhiri semua penderitaanku.

“maafkan aku, , ,itu kesalahanku. Ijinkan aku memenuhi janjiku itu, biarkan aku bersamamu saat ini.
Menyaksikan salju terakhir seperti  janji tujuh tahun yang lalu”

“tidak, aku ingin sendirian. Biarkan aku menyaksikannya sendirian. Jika aku bersamamu, ini takkan
pernah adil. Sudah cukup aku menderita sendirian sekarang giliranmu, rasakanlah bagaimana
rasanya ditinggalkan. Kau harus menderita, itu akan membuat semuanya menjadi adil”

“aku sudah merasakan penderitaan itu Yeeri, penderitaan karena kau tak pernah bisa melepaskanku
hingga aku tak pernah pergi dengan tenang. Dan ketahuilah Yee-Ri aku sudah mendapatkan salju
terakhir ku. Tepat di tujuh tahun yang lalu”

Perlahan kurasan salju-salju itu mencair, aku masih menatap tajam bayang-bayang pemuda
didepanku. “aku sudah mendapatkan salju terakhirku” apa maksudnya itu, apakah dia ingin
memamerkannya padaku. Dia tahu aku tak melepaskannya jadi apa penderitaan dari itu semua. Apa
di berpikir dia sudah mati.

Dan itu lah yang terjadi, aku baru menyadarinya. Itukah alasannya yang tak pernah datang
menemuiku, dia sudah mati.

Aku tersenyum getir, selama ini membenci dia yang telah tiada. Wanita idiot yang kehilangan akal
sehatnya yang terus-terusan berharap dia yang telah mati datang dan merengkek minta maaf
padaku.

Mengharapkan dia yang sudah pergi jauh untuk memenuhi janjinya.

Berharap agar ia juga mengalami penderitaan sama sepetiku. Jelas aku yang terlalu bodoh, membuat
diriku sendiri menderita dalam lamunan sepi dan harapan yang pernah abadi.

“lalu, , ,  kenapa kau datang sekarang. Jika kau sudah melihat salju terakhirmu. Untuk apa kau
kembali.....”

“Karena aku mencintaimu,,, dan untuk memenuhi janjiku..”

Karena cinta, di bilang dia mencintaiku. Lalu apakah aku juga mencintainya ?

Tentu saja, seberapa besarpun kesalahannya aku akan tetap mencintainya. Sebodoh dan seidiot
apapun aku, tetaplah dia yang selalu aku ingat. Meskipun bayangan sosok tentangnya telahmembuat hidupku kelabu, suatu saat salju akan menutupnya. Sebanyak apapun air mataku dan
 sebesar apapun luka yang aku punya.

Sekarang dia benar-benar hadir, berdiri tepat didepanku. Walau hanya sesosok bayangan samar
yang aku ciptakan sendiri. Aku hanyalah wanita yang dianggap sakit jiwa yang terus meronta untuk
dunia yang lebih baik. Untuk kehidupan yang terang, seperti salju yang terus putih menutup semua
celah kelabu diantara deretan cahaya temaram yang memudar .

Kurasakan jantungku melemah. Salju terakhir ku aku sudah mendapatkannya dan hari ini tepat
mengulang janji tujuh tahun yang lalu. Dan langit kehidupanku tidak akan lagi menjadi abu-abu dan
kusam.  Aku rasakan tubuhku ikut berterbangan seperti salju. Aku sudah menjadi salju, aku wanita
salju bukan lagi wanita idiot yang sakit jiwa tapi wanita salju yang putih, bersih dan tetap dingin
 sampai kapanpun.

“salju terakhir adalah milikku..............”
______

Bukan seperti  ini akhir yang aku inginkan.

Seharusnya cinta kitapun abadi. Menua bersama dan memiliki banyak keturunan. Terus bersama
dalam balutan hangat  cinta dan kehidupan. Bukan malah berakhir seperti ini.

“oppa lihatlah, salju sudah berakhir. Kita sudah mendapatkan salju terakhir”

“ya, kuharap cinta kita benar-benar abadi seperti yang nenekmu bilang”

“tentu saja. Kita akan terus bersama selamanya, berjanjilah tak boleh ada yang meninggalkan. Jika
 salah satu dari kita mengingkari janji itu Tuhan akan akan menghukumnya”

“jadi dimana hadiahku...”

“tenang aku membawanya..”

“aku mencintaimu..”

“aku juga....”

Seharusnya kehidupan yang aku inginkan seperti itu. Terus bersama selamanya. Tapi pada akhirnya
cinta kami memang abadi, tapi dengan cerita yang berbeda.

Cerita yang lebih dramatis, penuh lika-liku, dan pengorbanan yang tak pernah ada habisnya.

Tidak seperti salju yang segera berakhir saat musim semi datang membawa sejuta warna. Bukan
hanya putih tapi ribuan warnah indah yang akan membuat kanvas putih menjadi penuh dengan warna.

“salju Terakhir. Bukan milikku tapi milik kita berdua... D.O Kyung Soo”

Tamat