oleh ; Risma Fitriyana
Angin
malam masih tidak berhenti bermain disekitar horden, sesekali menyusup ketubuh
layu yang masih berusaha tegak. Tangannya bergerak dengan cepat mengambil
selimut yang terjatuh disampingnya sebelum dingin membalut tubuhnya dan membuat
efek malas yang sejak tadi menggerogotinya. Diluar sedang gerimis, seharusnya
ini adalah saat yang pas untuk bermalas-malasan. Bahkan Laron-laronpun dengan
enggan terbang menuju sinar lampu yang temaran karena hawa dingin yang
mencekam.
Didalam sinaran lampu neon yang keemasan jari-jari lentik
itu masih lihai bermain di keyboart notebook yang sejak tadi dinyalakan. Beberapa
kali tangan-tangan itu mengucek mata yang sudah mulai lelah, sekali lagi angin
malam mendesir menerbangkan horden-horden berwarna terang hingga terlihat
seolah ada yang dengan sengaja menariknya. Suara jendela yang ikut berdecit,
ditambah lagi dengan suara-suara piring dan sendok yang jatuh karena ulah
tikus-tikus liar yang mencari makan dari dapur seolah menambah susana mistis
diruangan itu. Deretan buku-buku usang tertata rapi di atas rak besi berwarna
perak mengkilat disamping tempat tidur sedangkan beberapa yang lainnya terlihat
diletakkan begitu saja diatas meja kayu jati . Tiga pasang mata masih berusaha
menahan rasa kantuk, sesekali mengerjap kemudian menutup, lebih lama. Kemudian
segera membuka kembali. Ya mereka adalah Elena, Azura dan Victoria.
“bagaimana, apa sudah
temukan caranya ?” Victoria bertanya sambil memalingkan wajahnya hingga rambut
pirang panjangnya mengibas dengan cepat.
“sudah, tapi ini aneh”
“aneh kenapa ?”
“entahlah, hanya saja.
Aku rasa ini tidak seperti cara yang kemarin kita baca”
“bagaimana mungkin,
bagaimana menurutmu ini Elena”
Elena mengangguk pelan
kemudian menarik nafasnya berat, angin berhebus dengan peralahan dari
hidungnya. Tangannya bergerak mengambil coklat panas yang dibuat ibunya sejak
tadi. Kemudian ia bergerak malas menuju tempat tidurnya. Sejenak ia memejamkan
matanya kembali, hanyut dalam nyanyian malam yang sepi dan dingin.
“kita bisa melakukannya,
lagipula ini hanya permainan pikiran kan ?” suaranya terdengar tegas dan
meyakinkan.
“ya, kurasa tak ada salahnya
kita mencoba terlebih dahulu”
“bagaimana dengan Lilin
dan benang merahnya. Apa kalian memilikinya ?”
“jangan khawatirkan
tentang itu, semuanya ada didalam laci kayu”
Gadis berambut pirang
sebahu itu berjalan malas menuju laci kayu yang ada disebrang meja,
tangannya
menggapai dengan lembut beberapa batang lilin putih dan sepintal benar wol
merah.
“baiklah, Victoria bisa
kau bacakan langkah-langkannya”
“hanya dimerlukan 3
batang lilin putih dan meletakkannya di samping tangan kanan pastikan
lilin-lilin itu menyala. Gunakan selehai benang merah untuk mengikatnya
dipergelangan tangan kiri kalian. Dan pastikan juga hanya ada cahaya lilin yang
menjadi satu-satunya penerangan disana...”
“cukup Victori, sisanya
kita hanya perlu berbaring dan konsentrasikan ?”
Kedua pasang mata
saling berpandangan, kemudia mengangguk pelan bersamaan. Elena bergerak menuju
sakelar lampu yang ada di balik pintu, cahaya lampu neon keemasan yang menerangi
tempat itu padam dalam sekejap. Tangannya bergerak dengan cepat menyalakan
lilin-lilin putih yang berdiri tegak disamping mereka.
“bersiaplah, akan ada
banyak makhluk alam bunian yang akan mengganggu kita nantinya”
Ketiganya berbaring didalam sinaran lilin yang
samar, tubuh mereka menyatu dengan lantai kayu tua yang dibuat oleh kakek buyut
Elena pertengahan abab ke 18 belas. Cukup lama untuk bisa bertahan dari
kelapukan. Mata-mata itu sesekali mengerjap, kemudian kembali terpejam. Cukup
lama, genggaman tangan-tangan kurus dan layu itu terlihat kuat, bibir mereka
perlahan bergerak seolah membacakan sebuah mantra untuk menuju dunia baru yang
telah lama mereka bicarakan.
Perlahan
kepala mereka bergoyang seolah mencari sumber penerang yang menghilang, lilin-lilin
itu meleleh dengan lambat bergoyang saat semilir lembut angin menyentuh namun
tetap menyala. Mereka menyebut hal yang mereka lakukan adalah astral
projection, dimana seharusnya pikiran dan alam bawah sadar merekalah yang
bekerja menciptakan dan membentuk tubuh astral untuk mereka sendiri yang akan
digunakan menjelajahi tempat-tempat Fantasi yang mereka buat. Elena merasakan
tubuhnya semakin ringan dan perlahan melayang, matanya terasa semakin berat namun
ia dapat melihat tubuhnya dan kedua temannya serta benda disekitarnya dengan
detail, ia telah mencapai titik puncak sedetik kemudian dia sudah berada
ditempat gelap, tak ada cahaya, tak ada apa-apa yang ada hanya sebuah
kegelapan.
Dengan
pelan kaki kurusnya berjalan mundur , perlahan ia menemukan cahaya sejenak ia
menutup rapat matanya menghindari penyinaran
yang mendadak menyilaukannya. Keningnya berkerut, ia menapaki tanah
basah dan lembap sesekali kakinya tergores oleh ranting-ranting rapuh yang berjatuhan.
Matanya menyiratkan kekaguman deretan
pohon-pohon oak dengan berbagai jenis, salah satunya oak hitons setinggi 67
kaki berjejer rapi. oak Mayor yang biasanya hanya tumbuh dipotugis, spanyol dan
maroko tumbuh subur ditempat itu, batangnya kokoh, daun yang rindang dan anggun
serta untai
panjang cabang-cabangnya yang besar, benar-benar merupakan keindahan alam yang
amat mempesona. Keriap rerimbunan pohon oak adalah langgam harmoni
senar-senar gitar yang perlahan mendesir mengerluarkan bunyi-bunyi sakral
disaat angin menghembusnya perlahan, pohon-pohon willow dengan daun hijau
menjuntainya yang hampir meyentuh permukaan tanah yang basah menjadikan tempat
itu bak sebuah lukisan yang agung . Serta puluhan pohon mpingo yang tumbuh
subur ditempat itu ditambah lagi pohon-pohon maple yang menerbangkan daun-daun
jingganya ketanah. Tempat itu adalah keajaiban.
“kau lihat pohon mpingo
itu, butuh waktu 70-200 tahun untuk menjadi dewasa dan tingginya hanya mencapai
9 kaki, tapi disini tingginya hampir mencapai 20 kaki”
“benar, pohon-pohon
willow itu lebih indah dari yang kupikirkan Elena”
Elena menarik nafas
dengan cepat dadanya naik turun seolah ia baru saja berlari menuju tempat itu.
“kalian menciptakan
tempat yang tepat” ia berucap matanya tak berhenti membuka
“aku tidak memikirkan
tentang tempat ini sejak tadi”
“Aku juga tidak Azura,
kupikir kalian berdua yang memikirkannya”
Tatapan heran mereka
bertemu, kening mereka berkerut Elena menatap tajam Azura dan Victoria.
Tangannya dengan ringan menggapai daun-daun maple yang berjatuhan didepan mereka.
“ini Hutan yang
menakjubkan, apa kalian yakin kalau yang kita lakukan tadi adalah astral
projection ?”
“entahlah, kau juga
merasakan keanehannya Elena”
Ia mengangguk pelan, sejenak
ia ragu namun kemudian menghilang setelah setetes salju yang mencair mengenai
wajahnya.
“lupakan tentang
keanehan itu Elena, Victoria. Tempat apapun ini kita nikmati saja, tempat ini
adalah keajaiban teman”
Kaki-kaki kurus tanpa
alas itu berjalan perlahan meninggalkan tempat mereka berdiri, tetes salju yang
mencair sebelum mencapai tanah membuat suhu udara disana menjadi lembab dan
dingin. Tidak jauh mereka berjalan mereka sudah menemukan Sabana dan Steppa
yang menakjubkan, hamparan permadani hijau telah digelar di lapangan luas itu
disana hanya terdapat beberapa pohon akasia yang menjulang kelangit.
Lagi, mereka kembali
berdecak kagum. Deru napas mereka beradu dengan cepat, beberapa kali dada
mereka naik turun menarik dan membuang nafas secara bersamaan. Tangan-tangan
kecil mereka tak berhenti bermain dirumput-rumput setinggi pinggang mereka.
“bagaimana bisa Hutan
gugur dan Sabana bersebelahan seperti ini” bibir merah kecilnya kembali
menanyakan hal-hal yang meragukan.
“ini dunia Astral
Elena, ini hanya hayalan”
“tidak kurasa Azura,
ini real. Nyata. Kau bisa merasakannya Elena ?”
Ia mengangguk, sebuah
kebenaran bersanding dengan kebohongan apa jadinya. Mereka melakukan perjalanan
astral tapi tempat itu terlihat sangat nyata dan jelas.
“kau tau Victori, dalam
astral projection kita juga membawa kelima indra kita. Mereka ikut berperan
itulah yang membuatnya tampak nyata”
Elena diam meresapi
setiap kata-kata Azura mencerna dengan baik kemudian mengangguk ia mengerti,
tentang apa yang ada dipikiran temannya.
Cukup lama mereka
terdiam, berdiri, duduk kemudian berdiri lagi tak ada yang dapat mereka lakukan
lagi. Selain diam sambil menatap rumput-rumput hijau yang bergoyang disampu
oleh angin musim yang tidak jelas arah kedatangannya. Langkah mereka kembali
mundur, memasuki hutan gugur menakjubkan dengan deretan pohon-pohon yang mereka
kagumi.
Mereka terdiam,
ranting-ranting rapuh yang berjatuhan bagaikan jari-jemari penari bali yang
bergoyang memenuhi pijakan. Kaki mereka terluka dan tergores tapi tidak terasa
sakit, lembaran daun maple seolah menjadikan jalan mereka terasa nyaman dan hangat.
Gumpalan-gumpalan salju putih mulai berjatuhan perlahan, mereka merasakan
pergantian musim di dunia khayalan buatan itu. Genggaman tangan mereka semakin
erat, rasa dingin mulai menyelinap ketubuh-tubuh layu yang masih berdiri tegak
itu. Semilir angin membawa aroma bunga Gardenia yang memikat, bunga putih indah
yang menjadi lambang kesucian bagi bangsa Romawi pada masa silam.
“kita datang diwaktu
yang tepat, bahkan disini juga terjadi pergantian musim”
“bagaimana bisa
dibilang tepat, kita datang di saat musim dingin tiba”
Elena menarik nafasnya
dalam, kepalanya menggelang pelan melihat pertikaian kecil Victoria dan Azura.
Ia memicingkan matanya menatap tajam kebalik pohon oak jepang yang berada tak
jauh dari mereka, disaat bersamaan angin hangat mengalir lembut dari tempat itu
melewati mereka. Elena menatap semakin tajam, orang itu mulai berjalan
mendekat.
“kau yang memikirkannya
Azura”
“bukan, mungkin Elena”
Elena kembali
menggeleng, keningnya berkerut mengikuti langkah ringan orang dengan jubah
merah maroon yang mendekat kearah mereka. Lagi, ia menarik nafasnya dalam dan
menghembuskannya dengan keras.
“aku tidak pernah
memikirkan orang misterius itu teman-teman. Ini bukan tipe ku, sungguh”
Elena bicara sambil
menggeleng, bukan gayanya memikirkan orang-orang aneh yang tak membawa
keuntungan untuknya. Saat ini terutama. Orang itu kembali mendekat, semakin
dekat kakinya terasa ringan semakin dekat angin hangat semakin terasa, mengalir
disekeliling tubuh tiga gadis yang diam membisu.
“sudah berapa lama
kalian berada disini ?”
“untuk apa kau bertanya
orang berjubah ?”
“pulanglah, banyak yang
mengincar raga kalian”
Elena menyiritkan
keningnya, menatap tajam kaki orang asing dengan jubah merah maroon yang tak
juga memperlihatkan wajahnya. Kaki orang itu tidak benar-benar menginjak
ditanah, ia melayang sekitar beberapa centi dari tanah.
“apa maksudmu ?”
Elena bicara, orang itu
tak menjawab tangannya bergerak melepaskan jubah yang menutup wajahnya. Sesosok
pria dengan wajah perpaduan asia-eropa muncul
dengan senyum mengembang giginya berjejer rapi. Pria itu mengerutkan keningnya.
“kalian tak mengerti,
kalau kalian terlambat kembali kalian akan terperangkap disini”
“kami benar-benar tak
mengerti dengan apa yang kau bicarakan..”
“Chris, panggil aku Chris”
“ya oke, Chris. Kalau
kami terperangkap disini tidak masalah. Ini tempat yang bagus”
“Victori, jaga
bicaramu”
Azura angkat bicara,
matanya mengikuti Elena. Mentap tajam sosok yang ada didepannya. Takut, berubah
menjadi sebuah keraguan.
“Eldorado tidak seperti
yang kalian lihat, disini penuh tipuan”
Tempat itu, tempat
menakjubkan itu bernama Eldorado. Nama yang tepat menggambarkan sebuah tempat
yang penuh dengan keajaiban menakjubkan.
“kau sendiri kenapa tak
pulang”
“ini tempat tinggalku,
disana dibalik gunung disebelah barat sabana ada kerajaan disana”
“kerajaan ?, dimana
rakyat-rakyatnya tinggal. Sejak tadi aku tidak melihat seorang pun disini
selain kau Chris”
“Eldorado dalam
masalah. Sepertinya saudaraku memanggil orang yang salah”
“apa maksudmu”
“pulanglah, tak ada
gunanya aku bercerita pada kalian”
“tapi temanmu yang
memanggil kami kesini”
Elena mencengkram kuat
sebuat tangan dibalik jubah, keras dan egois. Elena tak terima, ia terjebak
dalam tempat menakjubkan benama Eldorado tapi tidak diberi kesempatan untuk
diberi tahu. Jelas itu bukan sebuah keadilan, jika tempat itu berbahaya maka
mereka bertigalah yang akan terluka.segera. Matanya menatap tajam, kepalanya
menggeleng tetes air berjatuhan dari rambut pirang sebahunya yang basah karena
salju. Sekali lagi, sebuah hembusan nafas kasar keluar dari hidungnya.
“ikuti aku, ada banyak
hal yang harus kalian ketahui tentang tempat ini”
Ketiga kepala itu
mengangguk bersamaan, melangkah pelan mengikuti intruksi. Mata mereka berjuang
tak berkedip agar tak menyapu bersih lukisan hidup di disamping mereka, puluhan
bahkan ratusan pohon cemara kipas melambai menyambut langkah kaki dan deru
napas yang terus beradu dipadukan dengan deretan pohon akasia menjulang
bagaikan tangan-tangan kurus mayat korban peperangan, ranting-ranting nya
menyeruak seperti jemari pemain gitar yang berusa memetik senar gitar yang
dibuat oleh angin membentuk sebuah harmoni musik kehidupan yang menakjubkan.
Ketiga pasang mata itu
semakin tercengan, bibir-bibir kecil itu diam seribu bahasa hanya kekaguman, ya
hanya kekaguman yang terlintas saat ratusan jenis bunga terhampar di depan
mereka. Menyeruak membentuk sebuah fondasi kehidupan dengan keindahannya yang tak
terperikan. Juataan warna terkumpul, kontras seharusnya. Tapi vibrasi-vibrasi
warna itu membentuk sebuah formasi keindahan tentang kenyamanan dan kesucian. Bunga
lily of the velly menampakan keindahannya,putih bersih menggantung diantara
batang-batang kurus yang menjadi tempatnya hidup. Serta oleander merah jambu
yang bermekaran seakan membuat siapa saja tertarik memetiknya. Dan puluhan
jenis rose, sweet pea, jasmine, frangifani, wisteria dan ratusan jenis bunga
yang lain bahkan bunga choclate cosmos yang telah dianggap punah ratusan tahun
lalu tumbuh subur disini.
“jangan pernah tertipu,
mereka memang cantik tapi menyimpan racun yang mematikan”
Suara itu, bukan sebuah
peringatan tapi kalimat penyadaran tentang keindahan yang mereka lihat bukanlah
satu-satunya yang akan mereka rasakan. Salah melangkah sedikit bunga-bunga
indah dan cantik itu akan membunuh mereka dengan kejam.
“tempat tinggalku,
masuklah” tangan putih kurus itu menunjukkan tempat tinggalnya, satu pohon oak
besar ditengah hamparan bunga.
“kau tinggal disini
Chris ?”
Sebuah pertanyaan
meragukan dari ketiga orang asing yang pertama kali menginjakkan kakinya di
Eldorado. Laki-laki berjubah itu mengangguk, sebuah senyum bangga terukir
diwajah putihnya. Tangannya bergerak menyentuh kulit pohon oak besar didepannya
bibirnya bergerak membaca sesuatu, sebuah mantra. Pintu terbuka langkah kaki
ringan masuk dengan tenang tanpa ketakutan, keraguan namun penuh kecanggungan.
Ketiga gadis remaja itu
mencoba menghirup udara dengan cepat lewat mulut mereka seolah mereka adalah
orang-orang yang telah kehilangan oksigen dan menghembuskannya dengan cepat,
berulang kali mereka melakukannya.
“ini menakjubkan”
Lagi sebuah kekaguman
menyelimuti mereka, deretan meja, kursi dan lemari yang terbuat dari kayu pohon
oak yang biasanya banyak ditemukan dirumah-rumah tua inggris yang megah dan
bergaya tudor dan Victoria tersusun disana. Deretan buku-buku usang berwarna
kuning tertata rapi disekeliling mereka serta lukisan-lukisan kuno terpajang
memenuhi ruangan.
“Chris simbol apa itu
?”
Elena memalingkan wajah
kearah salah satu gambar yang ditunjuk oleh Victoria, gambar 12 simbol yang
berjejer mengelilingi sebuah bunga Edelweis. Seperti deretan rapi planet-planet
yang mengelilingi matahari. 12 simbol yang terlukis didalam selembar kertas
kayu tua yang sudah menguning.
“itu simbol kekuatan
Eldorado, setiap simbol melambangkan satu kekuatan.”
Tangan laki-laki itu bergerak melepas gambar dari dinding dan meletakkannya diatas meja
kayu, langkahnya terhenti diantara deretan buku-buku tua miliknya. Jarinya
bermain diujung buku, bibirnya bergerak mengeja satu persatu judul buku-buku
itu. Tangannya terhenti disalah satu buku tua dengan sampul coklat kusam.
“ini
dia, 12 simbol kekuatan Eldorado. pertama Teleportation,
yaitu kekuatan untuk berpindah tempat dalam waktu yg ditentukan oleh pemilik
kekuatan. Pyrokinetis disimbolkan
dengan Phoenix identik degan api, yaitu
kekutan pikiran untuk mengendalikan api. Simbol dloplet/ tetes air disebut Hydrokinesis adalah kekuatan
mengendalikan air. Terrakinesis
disimbolkan dengan semut yaitu kemampuan pikiran untuk mengendalikan unsur
bumi. Simbol Matahari melambangkan cahaya. Yaitu pengendali cahaya disebut Lunarkinesis. Ini, lambang seorang
pengendali udara yang disebut Aerokinesis.
Kekutan mengendalikan suatu benda dengan mind power, disebutnya Telekinesis. Simbol selanjutnya Dragon
api kekuatannya bisa terbang/lawan
gravitasi nama kekuatannya Levitation.
Simbol pegasus ini nunjukkin kalau kekuatan itu kepulihan. Nama kekuatannya
disebut Vitakinesis. Maksud dari
kepulihan itu, kembali sehat, jadi pemilik lambang ini bisa menyembuhkan
apa-apa yang sakit/layu. Simbol Hourglass, itu jam pasir. Kekuatannya sendiri
adalah time controller, lebih tepatnya Chronokinesis.
Simbol Lighting (Scorpion) kekuatannya
adalah mengendalikan petir (lightning/thunder), disebutnya Electrokonesis. terakhir simbol Frost
menunjukan kalau pemiliknya memiliki kekuatan mengendalikan es, bisa membuat
sekitarnya beku. Disebutnya Cryokinesis”
Elena diam,
keningnya mengkerut. Pikirannya masih melayang, mencoba memahami maksud setiap
simbol-simbol yang di paparkan pria berjubah didepannya. matanya menatap tajam
kerah tangan putih yang tertutup jubah panjang pemiliknya.
“apa kau
pemilik kekuatan Levitation ?”
“darimana
kau tau ?”
“simbol
dipunggung tangan kirimu”
“ya kau
benar”
“lalu simbol
apa yang ada ditengah ini ?”
“itu simbol
perlindungan dan keabadian. Pemiliknya masih belum ditemukan”
“apa
maksudmu ?”
“sudah cukup. Dengar
tempat ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Disini banyak makhluk yang hidup
tanpa raga, kalian manusia akan menjadi incaran utama mereka. Jadi sekarang
pulanglah sebelum makhluk-makhluk itu mengambil tubuh kalian. Aku harus mencari
pemilik simbol bunga Edelweis itu”
“kau tidak bisa meminta
kami pulang begitu saja, sebenarnya ada apa dengan Eldorado”
Elene,Victoria dan
Azura menatap tajam pria didepannya.
“penguasa kami berada
didalam pengaruh mantra Hitam, 10 pemilik simbol masih terperangkap di penjara
Eldorado mereka terpaksa mengikuti perintah, sedangkan aku dan saudaraku
melarikan diri untuk mencari simbol terakhir agar kami bisa melawannya. Jadi
kalian pulanglah, satu lagi. Jangan pernah percaya pada siapapun di Eldorado”
“apa Eldorado sebahaya
itu ?”
“kau meragukannya. Pergilah”
Elena tersenyum.
Kakinya melangkah keluar meninggalkan rumah menakjubkan didalam pohon oak mayor
besar yang sempat menaunginya. tangannya bergerak cepat menarik kedua orang
disampingnya Azura dan Victoria.
Perlahan kaki-kaki itu
menjauh melewati deretan bunga-bunga indah yang membuat mereka terperangah,
mereka berjalan tanpa bicara. Masing-masing mata mencoba meresapi keindahan
yang mereka lihat dengan seksama. Terlalu banyak yang mereka lewatkan sejak
tadi, semilir angin hangat kembali berhembus. Bukan dari Chris tapi benar-benar
dari angin musim panas yang datang.
Kaki-kaki itu terhenti,
mata Elena mengerjap. Tangannya mencengkam kuat kedua orang disampingnya, puluhan
Dionaea
muscipul, tanaman herbivora dengan ukuran besar berada didepannya. tingginya
hampir menyamai tubuh mereka sepuluh kali lipat lebih tinggi dan besar dari
yang mereka ketahui.
“pelan-pelan mundur kebelakang”
Elena mengangguk mengikuti intruksi
Azura, berjalan pelan mundur kembali. Kemudian beralik dan mencoba untuk lari.
Ia merasakan sesuatu merayap dikakinya. Terlambat, tanaman pemakan daging itu
mengikat kakinya ia berontak Victoria dan Azura membantunya untuk lepas namun
mereka juga diserang. Ketiganya panik, tubuh mereka bermandikan keringat.
Mereka berusaha melepaskan tumbuhan-tumbuhan itu dari kaki kurus mereka.
“Victoria kakimu..”
“tak apa, sudah lepas.
Ayo lari lagi”
Nafas mereka tak
beraturan, berkali-kali mereka mencoba untuk berhenti sejenak sekedar untuk
menghirup oksigen. Cukup jauh mereka berlari, darah-darah segar mengalir dikaki
kiri Victoria. Ya, kakinya tergigit oleh tumbuhan itu. Tidak parah hanya bekas
yang cukup dalam akan segera terbentuk di kaki kurusnya.
“kau sungguh tak apa
Victori ?”
“tak apa, hanya sedikit
perih”
“kita kedanau itu dulu,
bersihkan lukamu”
Langkah mereka
beberiringan menuju danau besar berwarna bening, di dasarnya terlihat ratusan
ikan berenang bebas didanau itu. Elena dan Azura membantu Victoria membersihkan
kakinya yang terluka, kemudian membasuh wajah mereka dengan air didanau itu.
Hangat, mereka merasakan airnya hangat dan menenangkan. Ada perasaan aneh yang
Elena rasakan, bola matanya memutar seolah mencari sumber ketidak nyamanan yang
ia rasakan.
“apa kalian merasa
kalau kita sedang diawasi ?”
“entahlah, sepertinya”
Azura merasakan hal yang sama
“lihat itu”
Pandangan mereka
tertuju pada ribuan kupu-kupu hitam yang terbang melintas didepan mereka, tangan-tangan
lemah itu melambai seolah ingin ikut terbang dan merasakan keramaian dan
keakraban didalamnya. Seekor kupu-kupu mendekat, hinggap di jari-jari lentik
Elene, hanya sebentar kemudian jatuh keatas tanah dan memudar sendirian. Mata
mereka bertemu, heran. Apa yang terjadi dengan kupu-kupu hitam itu, tiba-tiba
mati dan menghilang seakan ia baru saja hinggap ditempat beracun mematikan.
Jari Elena. Nafas mereka kembali tak beraturan.
“kalian membunuhnya”
Suara itu datang, penuh
tuntutan dan kemarahan namun tetap tenang.
Elena, Azura dan
Victoria berbalik menghadap sang pemilik suara. Seorang wanita dengan rambut
panjang terurai mendekat, jubah putih panjangnya terhampar di tanah basah.
Pipinya tirus, hidungnya mancung bak nonik-nonik rusia yang mempesona. Matanya
menyiratkan ketidak sukaan.
“kami tak melakukan
apa-apa, kupu-kupu itu yang mendekat dan tiba-tiba mati. Bagaimana bisa kami
membunuhnya”
Elena mengangguk,
membenarkan pembelaan yang dituturkan Victoria.
“tapi ia mati didepan
kalian, tepat setelah hinggap ditanganmu”
Elena menyiritkan
keningnya, wajahnya merah tak terima dengan tuduhan tak masuk akal yang jelas
mengada-ada baginya.
“baiklah lupakan
tentang itu teman-teman, mungkin sebaiknya aku pergi dari sini”
Tatapan wanita itu
berubah menjadi bersahabat, tidak bukan bersahabat tapi lebih tepatnya
meremehkan. Seolah ia akan segera mendapatkan apa yang ia inginkan.
“jangan lepaskan benang
merah ditangan kalian. Jika kalian ingin terus disini teman”
Wanita itu menyeringai,
sangat mengerikan perlahan menghilang disapu oleh angin musim yang berhembus
lembut seperti hilangnya kupu-kupu hitam dijari Elena. Kebingungan, menyelimuti
ketiga gadis yang masih berdiri ditepian danau yang tenang.
“mungkin kita memang
harus kembali sekarang”
Elena mengangguk,
membenarkan saran Azura. Tangan-tangan layu itu kembali berpegangan sangat
erat. Mata mereka kembali terpejam, lama. Bibir itu terus bergerak bersuara
pelan menyadarkan diri mereka sendiri dari negeri buatan yang menakjubkan itu.
Lama, tak terjadi
apa-apa mata-mata itu kembali membuka. Saling berpandangan heran, mereka masih
berada ditempat itu ditepian danau kristal Eldorado. Rasa panik menyerang,
kekaguman berubah menjadi sebuah ketakutan. Ketakutan akan tidak bisa kembali.
Mata-mata itu menatap nanar, jari-jari itu berpegangan semakin kuat.
“apa yang terjadi”
“entahlah, kuharap kita
tidak terperangkap disini”
Elena diam, ia masih
tak bicara apa-apun, tangannya melepas genggaman dengan pelan. Kaki-kaki
kurusnya menyelinap diantara rerumputan yang masih basah, tangannya bergerak
mengambil sesuatu. ranting pohon blackwark berduri, kemudian kembali kebibir
danau.
“kau dengar wanita tadi
bicara apa ?”
“dia hanya bicara
menuduh kita”
“bukan, yang terakhir”
Mata-mata itu
berpandangan.
“ya, jangan lepaskan
benang merah itu jika kalian ingin tetap disini”
Tangannya bergerak,
mengayunkan ranting berduri untuk memutuskan benang merah ditangan Azura dan
Victoria. Cukup lama, perlahan benang ditangan Victoria putus. Kemudian
tangannya beralih ke benang pergelangan Azura, perlu perjuangan untuknya
melepaskan ikat-ikatan itu darah-darah segar mengalir dari telapak tangan
Elene. Ia menggenggam ranting berduri itu terlalu kuat, tidak sangat kuat.
Azura terbebas, benangnya putus bercampur darah Elena.
“milikmu, yang
terakhir”
Elena mengangguk,
mengarahkan ranting itu ketangan kirinya. Sama sulitnya seperti milik Azura dan
Victoria, matanya mengerjap menahan perih luka ditelapak tangannya. Darah
segara semakin banyak mengalir, ikatannya semakin kuat Elena berusaha semakin
keras. Perlahan butuh kesabaran benang itu akhirnya putus. Tangan-tangan itu
kembali berpegangan. Mata-mata nanar itu saling berpandangan.
“ayo kita coba lagi”
Elena mengangguk,
kemudian memejamkan matanya kembali. Bibir kecil itu kembali bergerak, bicara
pelan untuk menemukan kesadaran. Perlahan Elena merasakan tubuhnya melayang,
terguncang dan ia berada dalam kegelapan.
Ia tersenyum, senang
akan pulang. Kembali menuju tubuhnya yang entah sudah berapa lama ia
tinggalkan. Ia berjalan perlahan menyusuri lorong gelap yang dingin, sesuatu
yang lembut ia rasakan merayap dikakinya. Kakinya terikat oleh benang-benang
halus berwarna hitam, ia panik saat matanya bertemu dengan sepasang mata merah
menyala, hanya itu yang dapat ia lihat pemilik mata itu mendorongnya hingga
tersungkur. Elena bangkit kembali berlari diruang hampa penuh kekosongan,
tubuhnya kembali melayang dan terguncang seberkas cahaya menyembul didepannya.
Elena semakin mendekati cahaya itu, ia merasakan tubuhnya dihempaskan dengan
keras. Ia bangun, darah segar keluar dari mulutnya. Tak lama ia muntah kembali
darah kental menggumpal keluar lagi, kemudian berubah menjadi seekor kupu-kupu
hitam yang terbang dan menghilang.
“Elena, kau tak apa”
Elena mengangguk, bibir
Azura dan Victoria juga basah. Oleh darah. Mereka kembali ketubuh masing-masing.
Mata Elena menatap tajam kaki Victoria, bekas gigitan tumbuhan Dionaea
muscipul masih membekas dikakinya.
“Victori kakimu”
“tak apa, nanti juga akan hilang
dalam beberapa hari”
“syukurlah, lihat benar merah itu
ternyata juga putus disini”
Elena mengangguk perlahan, ia
merasakan perih di telapak tangannya.
“Elena, tanganmu”
“tak apa hanya luka kecil”
“bukan itu, pergelangan kirimu”
Elena diam , menatap pergelangan
kirinya. Nafasnya kembali tak teratur, berkali-kali ia menghirup dan mebuang
nafas bersamaan. Dingin menyelimuti tubuhnya yang basah oleh keringat.
“kau simbol ketiga belas Elena, kau
pemilik simbol Edelweis”
Elena masih diam, ia kaget dengan
kenyataan baru yang ia dapatkan simbol bunga Edelwais perlidungan dan keabadian
terukir di pergelangan tanggannya.
“Eldorado membutuhkanmu Elena,
tempat ajaib itu membutuhkanmu”
“tidak Azura, tempat itu hampir
membunuh ku, membunuh kita. Eldorado hanya hayalan, kau yang bilang itu kan”
“tidak, aku salah.
Tempat itu nyata, real bukan hayalan atau mimpi”
“aku tidak akan pernah
kesana lagi. Ini pertama dan terakhir kali. Biarlah Eldorado, tempat Keajaiban
itu manjadi sebuah mimpi. Dan aku sudah bangun dari mimpiku”
“tapi Eldorado dalam
bahaya, Chris dan saudara-saudaranya membutukanmu”
Elena menggeleng,
menatap tajam Azura, tangannya bergerak menarik selimut bulu disampingnya.
Ditengah kebingungan
yang melanda ketiganya, sepasang mata dengan intens menatap mereka. Sebuah
seringai muncul dibalik jubah hitam yang berdiri diam disamping pintu, kemudian
perlahan menghilang bersamaan dengan padamnya lilin yang tersentuh oleh angin
yang berhembus lembut dari luar. Bulan tertutup kabut pekat, hanya deretan
temaram yang menjadi sumber cahaya yang perlahan menghilang dalam ketakutan.
Eldorado, tempat itu keajaiban yang nyata namun disamarkan dalam sebuah
kebohongan.
~THE
END~
