Oleh
: Riss_Fitr
Palestina masih dilanda dengan berbagai serangan. Mulai
dari darat, udara bahkan Laut jika ada. Semakin hari semakin banyak yang
menjadi korban peperangan perebutan wilayah yang tak pernah usai. Tidak ada
kata tenang untuk sebuah negara islam yang hampir lenyap dari peradaban.
Meskipun sudah banyak yang menentang peperangan, demo oleh warga israel sendiri
bahkan PBB yang selalu mengelu-elukan perdamaian tak dapat menghentikan
serangan. Mungkin sekarang PBB sudah mulai tidak peduli dan mulai kehilangan
rasa kemanusiannya.
Allah SWT. tidak
akan pernah diam. Meskipun mati dengan serangan bom, tembakan dan kekerasan
Palestina tidak akan kehilangan semangat dan cita-cita kemerdekaannya. Walaupun
sudah sangat keras orang-orang yahudi itu mencoba mengusir kami dari tanah
palestina ini, jika Allah tidak menghendakinya apalah daya mereka. Meskipun
berkali-kali mereka mencoba melenyapkan penduduk tapi masih ada yang
diselamatkan dan dibiarkan meneruskan generasi agar tidak ada kepunahan. Inilah
kehidupan, bertahun-tahun aku hidup dalam gonjang-ganjing kekacauan dan
ketakutan . 19 tahun telah berlalu, peperangan tak juga usai.
Bulan bersinar terang dengan angkuhnya berhiaskan bintang
yang terhampar diseluruh penjuru langit seolah ingin mengabaikan rasa was-was
dan takut dari wajah-wajah polos anak-anak palestina yang kehilangan keluarga
dan masa indah mereka.
Malam ini kubiarkan diriku sejenak menikmati malam yang
dingin dan sunyi yang sudah sangat langka terjadi disini, kurasakan hembusan
lembut angin malam yang masuk menerobos melalui jendela kamarku. Mataku tertuju pada seorang gadis kecil
diujung perempatan jalan tak jauh dari tempat kediamanku, ia terdiam sambil
memeluk lututnya kupikir mungkin ia sedang menangis tapi kenapa ?. takkan
terjawab jika aku masih berdiri disini, dikamarku dan mengamatinya dari jendela
aku tidak akan tahu apa yang terjadi padanya.Aku segera keluar dari kediamanku,
menembus hawa dingin yang masuk kesum-sum tulang.
“kau mau kemana Shaba
?” seseorang memanggilku saat aku didepan pintu
“ada yang ingin aku
lakukan, tidak akan lama” ucapku pada temanku Zainab
“ini sudah Malam,
bahaya” ucapnya melarangku
“tidak apa-apa, hanya
sebentar” aku meyakinkannya.
“ya sudah, cepat
kembali ya” ucap Zainab lagi dengan wajah khawatir
“iya, assalamualaikum”
sahutku kemudian segera berlari menuju posisi gadis kecil yang aku lihat dari
kamarku dilantai dua. Hanya ada beberapa lampu jalan yang menyala seadanya,
cahayanya samar hampir redup namun cukup kalau hanya untuk menerangi jalan
setapak diantara gedung-gedung usang yang menjadi perumahan kami.
Ia sigadis kecil yang aku lihat tadi masih disana, tetap
dengan posisnya. Memeluk kedua lututnya. Kucoba menghampirinya ia tak
menghiraukan kedatanganku, air matanya mengalir perlahan menuruni lekut
wajahnya. Kulihat bibirnya terus bergerak, kuperhatikan dengan jeli ia sedang
melapalkan beberapa ayat suci Al-qur’an. Kudekatkan lagi diriku padanya, tak
salah pendengaranku ia memang sedang membaca ayat suci Al-Quran. “kenapa
ditempat seperti ini” batinku, aku terus bertanya pada diriku sendiri. Aku
semakin medekat kearahnya ia berhenti kemudian menatap tajam kearahku, sesaat
tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan pengharapan. Air matanya masih
berguguran membasahi baju biru muda yang sudah kotor dipenuhi noda-noda lumpur
dan darah, rambutnya acak-acakan tak
beraturan.
Ada perasaan sedih bercampur marah dalam diriku, perlahan
air mataku mengalir kurasakan sesak didadaku. Luka yang dulu sempat aku simpan
kembali terbuka, gadis kecil didepanku ini
membuatku merasa bercermin pada masa laluku. Kurengkuh ia kurasakan
dingin disekujur tubuhnya, ia tersenyum mulutnya kembali melapalkan ayat suci
Al-Qur’am yang sempat terhenti.
“apa yang terjadi
padamu ?” tanyaku padanya
Ia hanya menatapku,
bibirnya tak berkata apa-apa selain ayat-ayat suci yang terus ia bacakan.
Kulepaskan jaket yang menghangatkan ku dan kuberikan pada gadis kecil yang
berada dipangkuanku.
Kuperhatikan sekelilingnya tak ada apa-apa kecuali
sesosok mayat perempuan yang terbujur kaku dengan kondisi sangat mengenaskan.
Kakiku lemah tak kuasa untuk bergerak, kurasakan tubuhku hampir tumbang, dadaku
terasa semakin sesak dan kurasakan pusing dikepalaku. Malam ini aku telah
menemukan kemabali mozaik kelam hidupku 19 tahun yang lalu. Kepingan ingatan
yang selama ini telah kucoba untuk kuhilangkan kembali terulang.
“apa ibu akan bahagia ?”
gadis kecil itu bertanya, matanya berkaca-kaca penuh harap
“tentu, Allah akan
memberikan tempat yang layak untuknya” ucapku, kulihat sebuah senyum kembali
merekah diwajahnya. Aku bergerak mendekati mayat perempuan tanpa busana dengan
wajah biru lebam dan penuh darah itu, kututup seadanya dengan beberapa helai
baju dan kerudung miliknya yang terlapas tak jauh darinya. Aku tak kuasa
melihat wajahnya yang sudah tak bisa dikenali lagi.
Gadis ini mengingatkanku kembali pada kenangan kelam yang
kualami dulu. Kenangan yang hampir membuatku kehilangan semangat hidupku dan
telah berhasil merenggut keluargaku.
Malam itu 19 tahun yang lalu, bulan dan bintang ikut
bersembunyi dibalik kabut pekat yang menyelimuti malam. Aku masih berusia 8
tahun hanya bisa menangis melihat kekejaman Zionis Israel yang menerobos masuk
kedalam rumahku, kemudian memperlakukan kedua orang tuaku seperti binatang.
Mereka menyeret-nyeret ayah dan ibuku, menendang dan memukul mereka tanpa belas
kasihan. Tidak peduli dengan ayah dan ibuku yang terus berontak.
“bunuh saja kami, tapi
tolong lepaskan kedua putriku” ibuku memohon.
“untuk apa, kau sudah
melakukan penghianatan. Inilah balasan untukmu” ucap salah seorang tentara israel
kemudian menendang perut ibuku dengan sangat keras. Jika aku sedik lebih berani
waktu itu ingin rasa aku mencakar-cakar wajahnya yang angkuh itu.
“tolong lepaskan
mereka” ayahku kembali memohon, tangan yang biasanya terlihat kuat dan kokoh saat
itu terlihat kerkulai lemah tanpa tenaga untuk melawan.
“seharusnya kau tidak
menghianati kami, jadi ini tak perlu terjadi” kata laki-laki lainnya sambil
menginjak perut ayahku dengan sangat keras hingga darah seger keluar dari
mulutnya. Rasanya rasa sakit itu menjalar ketubuhku.
“baiklah satu penawaran
lagi, apa kau menyesal sekarang. Masih ada waktu untukmu merubah pikiran” pria
berbadan paling besar itu memberikan sebuah penawaran,
“tidak kami tidak
menyesal. Kami tidak akan menyesal memilih ISLAM sebagai agama kami” ibu
bersuara dengan terbata-bata namun lantang. Dapat kulihat sebuah kekuatan dan
keyakinan terpancar dari matanya yang lembab oleh air mata.
“keparat, akan segera
kubunuh kalian” pria berbadan besar itu sangat marah, ia mengambil pistolnya
yang mengarahkan pelatuknya kepelipis kedua orang tuaku. Kakakku Yohana
memelukku erat saat itu, badannya dingin tangan gemetar hebat tak ada jalan
lari untuk kami. ia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sakit yang
sama seperti yang dirasakan kedua orang tuaku.
“kau mungkin bisa
menghancurkan dan membunuh kami. Tapi percayalah kalian tidakan akan bisa
merampas keimanan kami” ucap ayahku, tak ada keraguan dari setiap kata-katanya.
Dengan satu kali tembakan mereka membunuh ayah dan ibuku,
suara tembakan pistol itu seakan suara kembang api yang biasanya dimainkan di
tahun baru. Mereka terlihat senang, tidak sangat senang setelah melakukannya,
percikan darah segar muncrat hingga kearahku. kemudian menendang mayatnya
seenak hati mereka didepanku dan kakakku. Tak ada yang bisa kami lakukan saat
itu selain menangis dan terus berdo’aa agar Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk hidup. Entah
apa yang terjadi saat itu tiba-tiba kakakku berdiri dan berteriak dengan
lantang didepan para tentara Zionis Israel.
“Asshaduallailahaillallah
wa ashaduannamuhammadarasulullah” berulang kali ia meneriakkan kalimat syahadat
itu di depan para tentara Zionis Israel.
Mereka sangat marah mendengar kalimat-kalimat yang di
teriakan ka Yohana. Mereka menyeretnya dan berlaku lebih keji padanya. Mereka,
Zionis israel biadab itu membunuhnya secara perlahan, menyiksanya tanpa
perasaan dan memeperlakukannya seperti bukan seorang manusia. Bagiku mereka
adalah setan berwujud manusia karena itu tak ada rasa kasihan dalam diri
mereka. Dengan nafsu setannya mereka merenggut kehormatan kakak perempuanku.
Kemudian tidak puas dengan itu mereka menendang, memukul dan menyobek-nyobek
kulinya sedikit demi sedikit mereka memainkan pisau kecil disekujur tubuhnya,
seolah ia adalah kanvas hidup yang dapat dengan sesuka hati mereka lukis dengan
ujung pisau yang selalu mereka bawa. Semakin keras kakakku mengucapkan Takbir
semakin jadi ulah mereka. Setelah memastikan korbannya sudah tak bernyawa lagi,
mereka meninggalkannya seperti sampah dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
Tanpa perasaan takut akan dosa mereka pergi meninggalkan jejak luka yang sangat
dalam untuk seorang anak. Shaba Kecil, ya itu aku. Aku telah mengalami banyak
luka, tekanan dan penderitaan siksaan yang mereka buat menjadi sebuah memory
menyakitkan bukan untuk fisikku tapi dijiwaku.
Kini kejadian itu
terjadi lagi pada Shaba lainnya, luka itu terpatri lagi dalam hati gadis kecil
di pangkuanku. Mungkin kejadiannya tidak sama, tapi luka dan kesedihannya
tetaplah sama. Ada hal yang membuatku lebih baik dengan kejadian itu, sejak itu
aku memilih menjadi seorang Muslimah seperti kedua orang tuaku dan kakak
perempuanku. Karena kejadian itu, keinginanku dan keyakinanku meninggalkan
agama Yahudi dan memeluk islam semakin kuat dan besar.
Aku masih tak bergerak dari posisiku, kurasakan tubuh
kecil gadis malang ini kembali menghangat matanya sudah terpejam, ia tertidur
dengan lelap dan tenang. Tak ada wajah takut padanya, yang ada hanya sebuah
senyum kemenangan. Ku bawa ia menuju rumahku agar dapat tidur dengan tenang dan
nyaman.
Ada satu hal yang membuatku senang, saat para Zionis itu
bisa membuat kami merasa tertekan aku percaya seperti yang ayahku katakan
Mereka tidak akan pernah menang. Meskipun mereka berhasil membunuh seluruh
keluarga kami, merampas keindahan masa kecil kami dan menghancurkan kedamaian
dan ketentraman yang pernah kami miliki. Mereka tidak akan pernah dapat
mengusir kami dari tanah ini, tanah kelahiran kami walaupun aku tidak
dilahirkan disini, Palestina akan selalu merindukan kedamaian dan
kemerdekaanya. Mereka tidak akan pernah bisa merebut tanah ini karena cita-cita
anak palestina sudah mengakar disini. Pengeboman, serangan, kekerasan, dan
ancaman mungkin bisa membuat kami ketakutan tapi tidak bisa membuat kami
menjauh. Kami mungkin akan kehilangan keluarga, tempat tinggal bahkan nyawa
tapi mereka Zionis israel itu tidak akan pernah menang sampai kapanpun kerena
kami pera penduduk palestina tidak akan pernah kehilangan sisi kemanusian,
cinta, kasih sayang, dan Keimanan.
Karena aku percaya Palestina tidak akan Malam selamanya,
Matahari pasti akan muncul setelah malam yang gelap dan panjang berlalu. Cahaya
tidak akan selamanya redup, masih ada
lampu yang tersisa dari semangat anak-anak Palestina yang akan segera menyala
dan terus bercahaya sepanjang masa.
~END~