Jumat, 31 Oktober 2014

GAYA BAHASA BERDASARKAN LANGSUNG TIDAKNYA MAKNA (TEORI TRADISIONAL)



Sumber adaptasi: Keraf
Gaya bahasa berdasarkan makna diukur dan langsung tidaknya makna, yaitu apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Bila acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Tetapi bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif atau sudah menyimpang jauh dan makna denotatifnya, maka acuan itu dianggap sudah memiliki gaya sebagai yang dimaksudkan di sini.
Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna ini biasanya disebut sebagai trope atau figure of speeeh. Istilah trope sebenarnya berarti “pembalikan” atau “penyimpangan”. Kata trope lebih dulu populer sampai dengan abad XVIII. Karena ekses yang tenjadi sebelumnya, trope dianggap sebagai penggunaan bahasa yang indah dan menyesatkan. Sebab itu, pada abad XVIII istilah itu mulai diganti dengan figure of speeeh.Terlepas dari konotasi kedua istilah itu, kita dapat mempergunakan kedua istilah itu dengan pengertian yang sama, yaitu suatu penyimpangan bahasa secara evaluatif atau secara emotif dan bahasa biasa, entah dalam (1) ejaan, (2) pembentukan kata, (3) konstruksi (kalimat, klausa, frasa), atau (4) aplikasi sebuah istilah, untuk memperoleh kejelasan, penekanan, hiasan, humor, atau sesuatu efek yang lain. Trope atau figure of speeeh dengan demikian memiliki bermacam-macam fungsi: menjelaskan, memperkuat, menghidupkan obyek mati, menstimulasi asosiasi, menimbulkan gelak ketawa, atau untuk hiasan.
Gaya bahasa yang disebut trope atau figure of speeeh dalam uraian ini dibagi atas dua kelompok, yaitu gaya bahasa retoris, yang semata-mata merupakan penyimpangan dan konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu, dan gaya bahasa kiasan yang merupakan penyimpangan yang lebih jauh, khususnya dalam bidang makna. Macam-macam gaya bahasa retoris seperti yang dimaksud di atas adalah:
a.  Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadangkadang dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan. Misalnya:
Takut titik lalu tumpah.
Keras-keras kerak kena air lembut juga.

b.  Asonansi
Asonansi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang juga dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekadar keindahan. Misalnya:
Ini muka penuh luka siapa punya.
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

e.  Anastrof
Anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.
Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya. Bersorak-sorak orang di tepi jalan memukul bermacam-macam bunyi-bunyian melalui gerbang dihiasi bunga dan panji berkibar.

d.  Apofasis atau Preterisio
Apofasis atau disebut juga preterisio merupakan sebuah gaya di mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenamya ia menekankan hal itu. Berpura-pura melindungi atau menyembunyikan sesuatu, tetapi sebenamya memamerkannya. Misalnya:
Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenartya saya ingin mengatakan bahwa anda pasti membiarkan anda menipu diri sendiri.
Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini hahwa saudara .telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.

e.   Apostrof
Adalah semacam gaya yang berbentuk pengalihan amanat dan para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara ini biasanya dipergunakan oleh orator klasik. Dalam pidato yang disampaikan kepada suatu massa, sang orator secara tiba-tiba mengarahkan pembicaraannya langsung kepada sesuatu yang tidak hadir: kepada mereka yang sudah meninggal, atau kepada barang atau obyek khayalan atau sesuatu yang abstrak, sehingga tampaknya ia tidak berbicara kepada para hadirin.
Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan bebaskanlah kami dan belenggu penindasan ini.
Hai kamu semuna yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air tercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kamu perjuangkan.

f.  Asindeton
Adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma, seperti ueapan terkenal dan Julius Eaesar: Vini, vidi, vici, “saya datang, saya lihat, saya menang”. Perhatikan pula contoh berikut:
Materi pengalaman diaduk-aduk, modus eksistensi dan cogito ergo sum dicoba, medium bahasa dieksploitmr, imaji-imaji, metode, prosedur dungkir batik, .masih itu-itu juga.
Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.

g.  Polisindeton
Polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dan asindeton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.
Dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dirigin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?

h.  Kiasmus
Kiasmus (chiasmus) adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri dan dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.

i.   Elipsis
Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku.
Masihkah kau tidak percaya bahwa dan segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat; tetapi psikis…
Bila bagian yang dihilangkan itu berada di tengah-tengah kalimat disebut anakoluton, misalnya:
Jika anda gagal melaksanakan tugasmu … tetapi baiklah kita tidak membicarakan hal itu.
Bila pemutusan di tengah-tengah kalimat itu dimaksudkan untuk menyatakan secara tak langsung suatu peringatan atau karena suatu emosi yang kuat, maka disebut aposiopesis.

j.  Eufemismus
Kata eufeinisme atau eufeinismus diturunkan dan kata Yunani euphemizein yang berarti “mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik atau dengan tujuan yang baik”. Sebagai gaya bahasa, eufemisme adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Ayahya sudah tak ada di tengah-tengah mereka (mati).
Pikiran sehatnya semakin merosot saja akhir-akhir ini (gila).
Anak saudara memang tidak terlalu cepat mengikuli pelajaran seperti anak-anak lainnya (bodoh).

k. Litotes
Adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal diriyatakan kurang dan keadaan sebenamya. Atau suatu pikiran diriyatakan dengan menyangkal lawan katanya.
Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.
Saya tidak akan merasa bahagia bila men dapat warisan satu inilyar rupiah. Apa yang kami hadiahkan ini sebenamya tidak ada artinya sama sekali bagimu.
Rumah yang buruk inilahyang merupakan hasil usaha kami bertahun-tahun lamanya.

l.  Histeron Proteron
Adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dan sesuatu yang logis atau kebalikan dan sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Juga disebut hiperbaton.
Saudara-saudara, sudah lama terbukti bahwa Anda sekalian tidak lebih baik sedikit pun dan para pesuruh, hal itu tampak dan anggapan yang berkembang akhir-akhir ini.
Jendela ini telah memberi sebuah kamar padamu untuk dapat berteduh dengan tenang.
Kereta melaju dengan cepat di depan kuda yang menariknya. Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasirnya yang putih.

m. Pleonasme dan Tautologi
Pada dasamya pleonasme dan tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Walaupun secara praktis kedua istilah itu disamakan saja, namun ada yang ingin membedakan keduanya. Suatu acuan disebut pleonasme bila kata yang berlebihan itu dihilangkan, artinya tetap utuh. Sebaliknya, acuan itu disebut tautologi kalau kata yang berlebihan itu sebenamya mengandung perulangan dan sebuah kata yang lain. Misalnya:
Saja telah mendengar hal itu dengan telinga saja sendiri.
Saya telah melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri. Darah yang merah itu melumuri seluruh tubuhnya.

n.   Perifrasis
Sebenamya perifrasis adalah gaya yang mirip dengan pleonasme, yaitu mempergunakan kata lebih banyak dan yang diperlukan. Perbedaannya terletak dalam hal bahwa kata-kata yang berkelebihan itu sebenamya dapat diganti dengan satu kata saja.’ Misalnya:
Ia telah beristirahat dengan damai (mati, atau meninggal). Jawaban bagi perinintaan Saudara adalah tidak (ditolak).

o.   Prolepsis atau Antisipasi
Prolepsis atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Misalnya dalam mendeskripsikan peristiwa kecelakaan dengan pesawat terbang, sebelum sampai kepada peristiwa kecelakaan itu sendiri, penulis sudah mempergunakan kata pesawat yang sial itu. Padahal kesialan baru terjadi kemudian. Perhatikan pula kalimat-kalimat berikut yang mengandung gaya prolepsis atau antisipasi itu:
Almarhum Pardi pada waktu itu menyatakan bahwa ia tidak mengenal orang itu.
Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu.
Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.

p.   Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Erotesis atau pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Gaya ini biasanya dipergunakan sebagai salah satu alat yang efektif oleh para orator. Dalam pertanyaan retoris terdapat asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin.
Terlalu banyak komisi dan perantara yang masing-masing menghendaki pula imbalan jasa. Herankah Saudara kalau harga-harga itu terlalu tinggi? Apakah saya menjadi wali kakak saya?
Rakyatkah yang harus menanggung akibat semua korupsi dan manipulasi di negara ini?

q.   Silepsis dan Zeugma
Silepsis dan zeugma adalah gaya di mana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenamya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar.
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Fungsi dan sikap bahasa.
Konstruksi yang lengkap adalah kehilangan topi dan kehilangan semangat, yang satu memiliki makna denotasional, yang lain memiliki makna kiasan; demikian juga ada konstruksi fungsi bahasa dan sikap bahasa namun makna gramatikanya berbeda, yang satu berarti “fungsi dan bahasa” dan yang lain “sikap terhadap bahasa”.

r.  Koreksio atau Epanortosis
Koreksio atau epanorlosis adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali.

s.  Hiperbol
Adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pemyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.
Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak aku. Jika kau terlambat sedikit saja, pasti kau tidak akan diterima lagi.
Prajurit itu masih tetap berjuang dan sama sekali tidak tahu bahwa ia sudah mati.

t.  Paradoks
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya.
Musuh sering merupakan kawan yang akrab.
Ia mati kelaparan di tengah-lengah kekayaannya yang berlimpah-limpah.

u. Oksimoron
Oksimoron (okys = tajam, moros = gila, tolol) adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Atau dapat juga dikatakan, oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks.
Keramah-tamahan yang bengis.
Untuk menjadi manis seeeorang harus menjadi kasar.
flu sudah menjadi rahasia umum.
Dengan membisu seribu kala, mereka sebenamya berteriak-teriak agar diperlakukan dengan adil.

Cerpen, Cahaya di Palestina


Cahaya di PALESTINA
Oleh : Risma Fitriyana


            Palestina masih dilanda dengan berbagai serangan. Mulai dari darat, udara bahkan Laut jika ada. Semakin hari semakin banyak yang menjadi korban peperangan perebutan wilayah yang tak pernah usai. Tidak ada kata tenang untuk sebuah negara islam yang hampir lenyap dari peradaban. Meskipun sudah banyak yang menentang peperangan, demo oleh warga israel sendiri bahkan PBB yang selalu mengelu-elukan perdamaian tak dapat menghentikan serangan. Mungkin sekarang PBB sudah mulai tidak peduli dan mulai kehilangan rasa kemanusiannya.
            Allah SWT.  tidak akan pernah diam. Meskipun mati dengan serangan bom, tembakan dan kekerasan Palestina tidak akan kehilangan semangat dan cita-cita kemerdekaannya. Walaupun sudah sangat keras orang-orang yahudi itu mencoba mengusir kami dari tanah palestina ini, jika Allah tidak menghendakinya apalah daya mereka. Meskipun berkali-kali mereka mencoba melenyapkan penduduk tapi masih ada yang diselamatkan dan dibiarkan meneruskan generasi agar tidak ada kepunahan. Inilah kehidupan, bertahun-tahun aku hidup dalam gonjang-ganjing kekacauan dan ketakutan . 19 tahun telah berlalu, peperangan tak juga usai.
            Bulan bersinar terang dengan angkuhnya berhiaskan bintang yang terhampar diseluruh penjuru langit seolah ingin mengabaikan rasa was-was dan takut dari wajah-wajah polos anak-anak palestina yang kehilangan keluarga dan masa indah mereka.
            Malam ini kubiarkan diriku sejenak menikmati malam yang dingin dan sunyi yang sudah sangat langka terjadi disini, kurasakan hembusan lembut angin malam yang masuk menerobos melalui jendela kamarku.  Mataku tertuju pada seorang gadis kecil diujung perempatan jalan tak jauh dari tempat kediamanku, ia terdiam sambil memeluk lututnya kupikir mungkin ia sedang menangis tapi kenapa ?. takkan terjawab jika aku masih berdiri disini, dikamarku dan mengamatinya dari jendela aku tidak akan tahu apa yang terjadi padanya.Aku segera keluar dari kediamanku, menembus hawa dingin yang masuk kesum-sum tulang.
“kau mau kemana Shaba ?” seseorang memanggilku saat aku didepan pintu
“ada yang ingin aku lakukan, tidak akan lama” ucapku pada temanku Zainab
“ini sudah Malam, bahaya” ucapnya melarangku
“tidak apa-apa, hanya sebentar” aku meyakinkannya.
“ya sudah, cepat kembali ya” ucap Zainab lagi dengan wajah khawatir
“iya, assalamualaikum” sahut kemudian segera berlari menuju posisi gadis kecil yang aku lihat dari kamarku dilantai dua. Hanya ada beberapa lampu jalan yang menyala seadanya, cahayanya samar hampir redup namun cukup kalau hanya untuk menerangi jalan setapak diantara gedung-gedung usang yang menjadi perumahan kami.
            Ia sigadis kecil yang aku lihat tadi masih disana, tetap dengan posisnya. Memeluk kedua lututnya. Kucoba menghampirinya ia tak menghiraukan kedatanganku, air matanya mengalir perlahan menuruni lekut wajahnya. Kulihat bibirnya terus bergerak, kuperhatikan dengan jeli ia sedang melapalkan beberapa ayat suci Al-qur’an. Kudekatkan lagi diriku padanya, tak salah pendengaranku ia memang sedang membaca ayat suci Al-Quran. “kenapa ditempat seperti ini” batinku, aku terus bertanya pada diriku sendiri. Aku semakin medekat kearahnya ia berhenti kemudian menatap tajam kearahku, sesaat tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan pengharapan. Air matanya masih berguguran membasahi baju biru muda yang sudah kotor dipenuhi noda-noda lumpur dan  darah, rambutnya acak-acakan tak beraturan.
            Ada perasaan sedih bercampur marah dalam diriku, perlahan air mataku mengalir kurasakan sesak didadaku. Luka yang dulu sempat aku simpan kembali terbuka, gadis kecil didepanku ini  membuatku merasa bercermin pada masa laluku. Kurengkuh ia kurasakan dingin disekujur tubuhnya, ia tersenyum mulutnya kembali melapalkan ayat suci Al-Qur’am yang sempat terhenti.
“apa yang terjadi padamu ?” tanyaku padanya
Ia hanya menatapku, bibirnya tak berkata apa-apa selain ayat-ayat suci yang terus ia bacakan. Kulepaskan jaket yang menghangatkan ku dan kuberikan pada gadis kecil yang berada dipangkuanku.
            Kuperhatikan sekelilingnya tak ada apa-apa kecuali sesosok mayat perempuan yang terbujur kaku dengan kondisi sangat mengenaskan. Kakiku lemah tak kuasa untuk bergerak, kurasakan tubuhku hampir tumbang, dadaku terasa semakin sesak dan kurasakan pusing dikepalaku. Malam ini aku telah menemukan kemabali mozaik kelam hidupku 19 tahun yang lalu. Kepingan ingatan yang selama ini telah kucoba untuk kuhilangkan kembali terulang.
“apa ibu akan bahagia ?” gadis kecil itu bertanya, matanya berkaca-kaca penuh harap
“tentu, Allah akan memberikan tempat yang layak untuknya” ucapku, kulihat sebuah senyum kembali merekah diwajahnya. Aku bergerak mendekati mayat perempuan tanpa busana dengan wajah biru lebam dan penuh darah itu, kututup seadanya dengan beberapa helai baju dan kerudung miliknya yang terlapas tak jauh darinya. Aku tak kuasa melihat wajahnya yang sudah tak bisa dikenali lagi.
            Gadis ini mengingatkanku kembali pada kenangan kelam yang kualami dulu. Kenangan yang hampir membuatku kehilangan semangat hidupku dan telah berhasil merenggut keluargaku.
            Malam itu 19 tahun yang lalu, bulan dan bintang ikut bersembunyi dibalik kabut pekat yang menyelimuti malam. Aku masih berusia 8 tahun hanya bisa menangis melihat kekejaman Zionis Israel yang menerobos masuk kedalam rumahku, kemudian memperlakukan kedua orang tuaku seperti binatang. Mereka menyeret-nyeret ayah dan ibuku, menendang dan memukul mereka tanpa belas kasihan. Tidak peduli dengan ayah dan ibuku yang terus berontak.
“bunuh saja kami, tapi tolong lepaskan kedua putriku” ibuku memohon.
“untuk apa, kau sudah melakukan penghianatan. Inilah balasan untukmu” ucap salah seorang tentara israel kemudian menendang perut ibuku dengan sangat keras. Jika aku sedik lebih berani waktu itu ingin rasa aku mencakar-cakar wajahnya yang angkuh itu.
“tolong lepaskan mereka” ayahku kembali memohon, tangan yang biasanya terlihat kuat dan kokoh saat itu terlihat kerkulai lemah tanpa tenaga untuk melawan.
“seharusnya kau tidak menghianati kami, jadi ini tak perlu terjadi” kata laki-laki lainnya sambil menginjak perut ayahku dengan sangat keras hingga darah seger keluar dari mulutnya. Rasanya rasa sakit itu menjalar ketubuhku.
“baiklah satu penawaran lagi, apa kau menyesal sekarang. Masih ada waktu untukmu merubah pikiran” pria berbadan paling besar itu memberikan sebuah penawaran,
“tidak kami tidak menyesal. Kami tidak akan menyesal memilih ISLAM sebagai agama kami” ibu bersuara dengan terbata-bata namun lantang. Dapat kulihat sebuah kekuatan dan keyakinan terpancar dari matanya yang lembab oleh air mata.
“keparat, akan segera kubunuh kalian” pria berbadan besar itu sangat marah, ia mengambil pistolnya yang mengarahkan pelatuknya kepelipis kedua orang tuaku. Kakakku Yohana memelukku erat saat itu, badannya dingin tangan gemetar hebat tak ada jalan lari untuk kami. ia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sakit yang sama seperti yang dirasakan kedua orang tuaku.
“kau mungkin bisa menghancurkan dan membunuh kami. Tapi percayalah kalian tidakan akan bisa merampas keimanan kami” ucap ayahku, tak ada keraguan dari setiap kata-katanya.
            Dengan satu kali tembakan mereka membunuh ayah dan ibuku, suara tembakan pistol itu seakan suara kembang api yang biasanya dimainkan di tahun baru. Mereka terlihat senang, tidak sangat senang setelah melakukannya, percikan darah segar muncrat hingga kearahku. kemudian menendang mayatnya seenak hati mereka didepanku dan kakakku. Tak ada yang bisa kami lakukan saat itu selain menangis dan terus berdo’aa agar Tuhan masih  memberi kami kesempatan untuk hidup. Entah apa yang terjadi saat itu tiba-tiba kakakku berdiri dan berteriak dengan lantang didepan para tentara Zionis Israel.
“Asshaduallailahaillallah wa ashaduannamuhammadarasulullah” berulang kali ia meneriakkan kalimat syahadat itu di depan para tentara Zionis Israel.
            Mereka sangat marah mendengar kalimat-kalimat yang di teriakan ka Yohana. Mereka menyeretnya dan berlaku lebih keji padanya. Mereka, Zionis israel biadab itu membunuhnya secara perlahan, menyiksanya tanpa perasaan dan memeperlakukannya seperti bukan seorang manusia. Bagiku mereka adalah setan berwujud manusia karena itu tak ada rasa kasihan dalam diri mereka. Dengan nafsu setannya mereka merenggut kehormatan kakak perempuanku. Kemudian tidak puas dengan itu mereka menendang, memukul dan menyobek-nyobek kulinya sedikit demi sedikit mereka memainkan pisau kecil disekujur tubuhnya, seolah ia adalah kanvas hidup yang dapat dengan sesuka hati mereka lukis dengan ujung pisau yang selalu mereka bawa. Semakin keras kakakku mengucapkan Takbir semakin jadi ulah mereka. Setelah memastikan korbannya sudah tak bernyawa lagi, mereka meninggalkannya seperti sampah dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Tanpa perasaan takut akan dosa mereka pergi meninggalkan jejak luka yang sangat dalam untuk seorang anak. Shaba Kecil, ya itu aku. Aku telah mengalami banyak luka, tekanan dan penderitaan siksaan yang mereka buat menjadi sebuah memory menyakitkan bukan untuk fisikku tapi dijiwaku.
Kini kejadian itu terjadi lagi pada Shaba lainnya, luka itu terpatri lagi dalam hati gadis kecil di pangkuanku. Mungkin kejadiannya tidak sama, tapi luka dan kesedihannya tetaplah sama. Ada hal yang membuatku lebih baik dengan kejadian itu, sejak itu aku memilih menjadi seorang Muslimah seperti kedua orang tuaku dan kakak perempuanku. Karena kejadian itu, keinginanku dan keyakinanku meninggalkan agama Yahudi dan memeluk islam semakin kuat dan besar.
            Aku masih tak bergerak dari posisiku, kurasakan tubuh kecil gadis malang ini kembali menghangat matanya sudah terpejam, ia tertidur dengan lelap dan tenang. Tak ada wajah takut padanya, yang ada hanya sebuah senyum kemenangan. Ku bawa ia menuju rumahku agar dapat tidur dengan tenang dan nyaman.
            Ada satu hal yang membuatku senang, saat para Zionis itu bisa membuat kami merasa tertekan aku percaya seperti yang ayahku katakan Mereka tidak akan pernah menang. Meskipun mereka berhasil membunuh seluruh keluarga kami, merampas keindahan masa kecil kami dan menghancurkan kedamaian dan ketentraman yang pernah kami miliki. Mereka tidak akan pernah dapat mengusir kami dari tanah ini, tanah kelahiran kami walaupun aku tidak dilahirkan disini, Palestina akan selalu merindukan kedamaian dan kemerdekaanya. Mereka tidak akan pernah bisa merebut tanah ini karena cita-cita anak palestina sudah mengakar disini. Pengeboman, serangan, kekerasan, dan ancaman mungkin bisa membuat kami ketakutan tapi tidak bisa membuat kami menjauh. Kami mungkin akan kehilangan keluarga, tempat tinggal bahkan nyawa tapi mereka Zionis israel itu tidak akan pernah menang sampai kapanpun kerena kami pera penduduk palestina tidak akan pernah kehilangan sisi kemanusian, cinta, kasih sayang, dan Keimanan.
            Karena aku percaya Palestina tidak akan Malam selamanya, Matahari pasti akan muncul setelah malam yang gelap dan panjang berlalu. Cahaya tidak akan selamanya redup,  masih ada lampu yang tersisa dari semangat anak-anak Palestina yang akan segera menyala dan terus bercahaya sepanjang masa.

~END~

Perbedaan orang bodoh dan Orang Cerdas


50 Perbedaan Antara Orang Cerdas Dan Orang Bodoh 




  1. Perbedaan utama orang cerdas dan orang yang bodoh terletak pada kesadaran dan pengakuan. Orang cerdas menyadari dan mengakui kecerdasannya sehingga ia merasa bodoh di hadapan tuhannya, sedangkan orang bodoh tidak menyadari dan tidak mengakui kebodohan nya sehingga ia merasa cerdas dihadapan Tuhannya
  2. Orang cerdas bercermin  kepada kematian sedangkan orang bodoh becermin pada kehidupan.
  3. Orang cerdas lebih banyak menghitung-hitung kekurangannya, sedangkan orang bodoh lebih sring menghitung-hitung kelebihannya.
  4. Orang cerdas selalu menuntut dirinya untuk mengasihi, menyayangi, dan mencintai, sedangkan orang bodoh selalu menuntut untuk dikasihi, disayangi dan dicintai.
  5. Orang cerdas berharap dapat mengenal dirinya sendiri, sedangkan orang bodoh berharap orang lain untuk mengenal dirinya.
  6. Orang cerdas memikirkan bagaimana ,membalas kebaikan orang lain, sedangkan orang bodoh berpikir bagaimana agar orang lain membalas kebaikannya.
  7. Orang cerdas berpikir secara sistematis, metodologis, dan rasional, sedangkan orang bodoh berpikir dengan cara spekulatif dan emosional.
  8. Orang cerdas selalu berusaha untuk mewujudkan pemikirinnya, sedangkan orang bodoh larut dalam pemikirannya tanpa sempat untuk mewujudkannya.
  9. Orang cerdas bertindak sebelum menasehati, sedangkan orang bodoh menasehati sebelum bertindak.
  10. Orang bodoh selalu berKaca tanpa cermin, sedangkan orang bodoh selalu berkaca dengan cermin.
  11. Orang cerdas selalu berpikir berbagai cara untuk memuji, sedangkan orang bodoh selalu berpikir berbagai cara untuk di puji. 
  12. Orang cerdas selalu berusaha mencari dan mengumpulkan ilmu, Orang bodoh selalu berusaha mencari dan mengumpulkan harta.
  13. Orang cerdas memikul buku-buku didalam benaknya, sedangkan orang bodoh memikul buku-buku di kendaraannya.
  14. Orang cerdas lebih sering berbuat daripada berbicara, sedangkan orang bodoh lebih sering berbicara daripada berbuat.
  15. Orang cerdas merasa butuh memohon kepada Tuhannya, sedangkan orang orang bodoh merasa diminta dan diperlukan Tuhannya.
  16. Orang cerdas mengetahui adanya kemudahan di setiap kesulitan, orang bodoh merasa kesulitan menghadapi kemudahan.
  17. Orang cerdas mengumpulkan harta untuk di belanjakan di jalan-Nya, sedangkan orang bodoh mengumpulkan harta untuk dibelanjakan dijalannya.
  18. Orang cerdas selalu merasa malu untuk menolak pertolongan orang lain, sedangkan orang bodoh tanpa rasa malu selalu mengharapkan pertolongan orang lain.
  19. Orang cerdas bisa belajar dari kegagalan, sedangkan orang bodoh sering terbuai oleh keberhasilan.
  20. Orang cerdas memandang pasangan hidupnya sebagai mitra, sedangkan orang bodoh memandang pasangan hidupnya sebagai bawahan.
  21. Orang cerdas acapkali  membicarakan tentang kebesaran Tuhannya, sedangkan orang bodoh seringkali membicarakan kehebatan dirinya.
  22. Orang cerdas selalu menghindar dari ketidaktahuan, sedangkan orang bodoh sering menjerumuskan diri dalam ketidaktahuan.
  23. Orang cerdas memimpin dengan suri tauladan, sedangkan orang bodoh tak mampu untuk memimpin dirinya sendiri.
  24. Orang cerdas lebih sering memandang kebawah untuk urusan dunia, sedangkan orang bodoh selalu memandang kebawah untuk urusan akhirat.
  25. Orang cerdas berbicara dengan akal, sedangkan orang bodoh berbicara dengan lidah
  26. Orang cerdas selalu mudah untuk dipahami, sedangkan orang bodoh selalu sulit untuk dipahami.
  27. Orang cerdas hanya mencuri ilmu, sedangkan orang bodoh mencuri apapun yang dibutuhkannya.
  28. Orang cerdas mencintai apa yang di sukai Tuhannya, sedangkan orang bodoh membenci apa yang disukai Tuhannya.
  29. Orang cerdas selalu bersyukur disaat senang maupun susah, sedangkan orang bodoh tak mampu bersyukur walaupun di saat senang.  
  30. Orang cerdas  bersandar pada doanya, sedangkan orang bodoh bersandar pada kemampuannya.
  31. Orang cerdas mampu menertawakan musibah, sedangkan orang bodoh selalu dtertawakan musibah.
  32. Orang cerdas selalu mencari kebenaran, sedangkan orang bodoh selalu menutupi kebenaran.
  33. Orang cerdas selalu berupaya melupakan kebaikannya,sedangkan orang bodoh sibuk mengingatkan orang lain tentang kebaikannya.
  34. Orang cerdas mempersiapkan diri menuju kematian, sedangkan orang bodoh hanya menunggu waktu kematian.
  35. Orang cerdas memandang keturunannya sebagai amanah yang akan menyelamatkannya, sedangkan orang bodoh memandang keturunannya sebagai beban yang akan menyesatkannya.
  36. Orang cerdas selalu memohon ampun kepada Tuhannya, sedangkan orang bodoh merasa tak perlu memohon maaf kepada siapapun.
  37.  Orang cerdas mampu meminta maaf dan memaafkan orang lain, sedangkan orang bodoh bahkan tak mampu memaafkan dirinya sendiri.
  38. Orang cerdas merasa membutuhkan dan dibutuhkan masyarakat, sedangkan orang bodoh merasa tidak membutuhkan masyarakat, apalagi dibutuhkan masyarakat.
  39. Orang cerdas cukup dinasehati dengan musibah, sedangkan orang bodoh selalu minta dinasehati saat tertimpa musibah.
  40. Orang cerdas berpikir bagaimana caranya untuk memberi, sedangkan orang bodoh berpikir  bagaimana caranya untuk meminta.
  41. Orang cerdas tak mampu menolak pemberian karena merasa malu, sedangkan orang bodoh tak mampu memberi karena tak memiliki rasa malu.
  42. Orang cerdas berusaha untuk membantu orang lain untuk membayar utangnya, sedangkan orang bodoh selalu menanggguhkan pembayaran utangnya.
  43. Orang cerdas selalu berorientasi ke masa depannya, sedangkan orang bodoh dipenjara oleh masa lalunya.
  44. Orang cerdas tidak pernah memulai tanpa mengakhiri, sedangkan orang bodoh tidak mampu mengakhiri sesuatu yang dimulainya.
  45. Orang cerdas selalu merasa bebas dan bertanggung jawab, sedangkan orang bodoh mengginginkan kebebasan tanpa berani bertanggung jawab.
  46. Orang cerdas suka memandang isi dibanding kulit, sedangkan orang bodoh lebih suka memandang kulIt dibanding isi.
  47. Orang cerdas memndidik keluarganya dengan kepemimpinan spiritualistik, sedangkan orang bodoh mendidik keluarganya dengan kepemimpinan yang otoriter dan materilistik.
  48. Orang cerdas memandang kegagalan sebagai anak tangga menuju kesuksesan, sedangkan orang bodoh memandang kegagalan sebagai penghalang menuju kesuksesan.
  49. orang cerdas selalu ditunggu dan diharapkaN orang banyak, sedangkan orang bodoh selalu tak di inginkan kehadirannya oleh orang banyak.
  50. Orang cerdas meletakkan lidah di belakang akal, sedangkan orang bodoh  berbicara tanpa akal.
 Oleh : Nsr