Genre : campuran
Author : Risma Fitriyana
~Xi Luhan milik Tuhan, keluarga dan
SMEnt. Tapi cerita murni berasal dari otakku~
Kadang
hidup itu terlalu sulit untuk dilewati, terlalu banyak hal yang tidak masuk
akal membentang didepanku. Meskipun aku sudah mencoba berpikir lebih realistis
pada kenyataannya, teroi-teori para ilmuan tidak sepenuhnya dapat mengungkap
ketidak jelasan tentang hal gaib. Dan sekarang aku terperangkap didalamnya,
didalam ketidak jelasan itu, dalam mitos yang dibiarkan berkembang dalam
kehidupan modern saat ini. Ingin rasanya aku tidak mempercayai semuanya tapi
ini terlalu jelas dan nyata.
***
~Happy
Reading~
Kau percaya
tentang cinta dua dunia berbeda ? tidak percaya kan. Aku juga akan berpikir itu
tidak mungkin, jika saja aku tidak mengalami dan merasakannya sendiri. Aku
telah terjatuh kedalam perangkapnya, aku telah terkena tembakan panah
asmaranya, aku sudah terpenjara oleh semua tentangnya. Tentangnya yang kadang
tak terlihat jelas namun bisa kurasakan kehadirannya. Tentangnya dengan senyum
yang selalu membuatku takluk, tentang jari-jarinya yang piawai memaikan
tuts-tuts piano, tentang suaranya yang merdu, tentang gengaman tangannya yang
dingin namun tetap terasa hangat saat menyentuh kulitku. Aku benar-benar telah
jatuh cinta padanya. Dan aku tidak pernah ingin berpisah dengannya dengan cara
apapun.
***
Malam telah lama larut, aku masih
berada diruang musik melatih kemampuan bermain pianoku bersama guru sekaligus kekasihku.
Hanya sinar bulan yang menjadi satu-satunya penerangan diruangan musik, lantunan
musik yang keluar dari tuts-tuts piano seakan menjadi musik romantis yang
meambah keindahan malam ini untuk kami berdua.
“kemampuanmu semakin baik sekarang” ia menatapku tajam dengan senyum lembut dari balik
bibir pucatnya, namun masih menampakkan gairah kehidupan yang telah lama hilang
darinya.
“semua berkatmu kan ?” aku balik menatap matanya. Matanya yang tak pernah
bisa berkedip. Itulah yang kusuka, ia takkan pernah menutup matanya didepanku.
Ia tersenyum simpul, tangannya bergerak menggenggam erat tanganku. Aku
merasakan kehangatan disana, kehangatan diantara kebekuan tubuhnya.
“teruslah bermain, aku ingin
mendengarmu sekali lagi”
Aku
mengangguk pelan menuruti perintahnya, kembali meletakkan jari-jariku di
tuts-tust piano. Aku tak pernah merasakan rasa kantuk selama ini, selama aku
bersama Luhan. Kebanyakan malamku kuhabiskan bersamanya, menyanyikan lagu
tentang cinta. Ditengah malam, takkan ada yang bisa mengganggu kami. Semua
orang sudah tetidur lelap, dan takkan ada yang menyadari kalau aku disini
sepanjang malam. Bersamanya, kekasihku sesosok hantu dengan wajah putih pucat
namun mempesona yang samar. Aku bahkan tak mengerti kenapa aku bisa jatuh cinta
padanya, dan mengapa hanya aku yang dapat melihatnya dengan jelas dan sangat
nyata. Bahkan aku dapat merasakan kelembutan dan kehangatannya yang seharusnya
tak pernah ada padanya.
“sudah terlalu malam, kau perlu
istirahat” ia mengangkat tanganku
yang masih menyentuh piano dengan lembut. Tangannya kembali bermain dengan
rambutku yang kubiarkan terurai acak-acakan.
“aku tidak pernah mengantuk” tatapan kami bertemu ”selama bersamamu” lanjutku,tangannya masih bermain dipucuk kepalaku.
Sesaat kemudian ia menatapku dengan tajam, tak ada ekspresi diwajahnya namun
aku tau ia tak suka.
“baiklah, kurasa aku sudah
mengantuk sekarang, kau mau mengantarku”
aku tak ingin ia kecewa padaku, kuturuti apa keinginannya. Ia mengangguk pelan.
Aku menggenggam tangannya dengan sangat erat.
***
Mentari kembali kesinggasananya,
menyebarkan cahaya-cahaya nya keseluruh penjuru semesta. Tapi, aku lebih
menyukai sang bulan yang bersinar terang dimalam hari. Karena, kadang saat
siang sangat sulit untukku bertemu dengan luhan. ia kadang menjadi samar dan
transparan disaat siang, dan aku tidak pernah merasakan kehangatan tangannya
disiang hari meskipun ia sedang berdiri disamping atau didepanku. Aku bahkan
bisa menembusnya merasakan tubuh kami menyatu, yang aku rasakan saat itu hanya
semilir angin hangat yang lembuh menembus pori-pori kulitku.
Dan dipagi ini, sosok itu kembali
menjadi samar. Aku dapat melihatnya tapi tidak menyentuhnya. Ia masih berdiri
mematung disamping tempat tidurku. Entah berapa lama ia menungguku tidur hingga
aku terbangun di pagi harinya. Aku kadang berpikir kenapa malam tidak menjadi
sedikit lebih panjang, lebih lama. Atau paling tidak bisakah matahari sedikit
terlambat untuk muncul.
“aku ada tes vokal hari ini,
datanglah dan lihatlah aku menyanyi. Aku menunggumu”
“tidak akan kulewatkan”
“itu harus, aku tidak akan
memulainya sebelum aku melihatmu berdiri di samping meja guru” ucapku dalam hati
“aku mendengarnya. Aku akan datang,
tenanglah” aku lupa kalau ia bisa
mendengar apapun yang sedang aku pikirkan.
“berjanjilah” ia mengangguk pelan. Senyum indah itu kembali
terukir dibibirnya.
“Hyeri, apa yang kau lakukan ? kau
sedang bicara dengan siapa ?"
“apa kalian tak bisa kalau masuk
kekamarku mengetuk pintu terlebih dulu”
kenapa mereka selalu seperti ini, kalau mereka selalu melihatku bicara dengan
Luhan yang tak terlihat oleh mereka aku akan benar-benar dianggap sebagai orang
gila.
“mianhae, lagipula kau sendiri tak
mengunci kamarmu. Jadi aku langsung masuk saja” mereka selalu mencari alasan. Apa mereka tak sadar
kalau sudah hampir setiap hari aku mengatakan hal itu pada mereka. Lagi pula
bukankah mereka tahu kalau kunci kamarku rusak, kalau kukunci dari dalam aku
tidak akan bisa keluar sebelum seseorang membukanya dari luar.
“sudahlah ayo berangkat” aku menarik
tangan kedua temanku yang selalu seenaknya masuk kedalam kamarku dan terlalu
senang mengganggu kesenanganku.
Sebenarnya aku senang bersama
mereka, LeeAe dan Soojien tapi aku akan jauh lebih senang saat sendirian. Bersama
mereka terlalu berisik, juga mereka terlalu berlebihan dalam menterjemahkan
sosok hantu. Bagi mereka, hantu adalah makhluk menyeramkan dengan dua taring
dan wajah yang hancur, suka menakut-nakuti, bahkan sampai membunuh. Oh ayo lah,
pemikiran mereka jauh berbeda dengan sosok hantu yang sedang aku kenal. Luhan
tidak nampak seperti yang mereka ceritakan.
###
“Temanmu bermain
dengan baik” aku mendengarnya walau
samar, dan aku tahu suara itu milik siapa. Kenapa ia suka sekali mebuatku
cemburu, ia selalu memuji permainan piano Jesica, ya memang permainannya lebih baik dariku tapi
apa dia tidak bisa satu kali saja tidak memujinya.
“kemana ??” LeeAe menarik tanganku saat aku ingin berjalan
keluar.
“keluar” ucapku ketus
“yak, Hyeri
sebentar lagi kau tampil” sooJien menarik
tanganku untuk duduk kembali
“nanti saja
Moodku sedang rusak”aku berkata
tanpa menoleh kearh dua temanku, sesaat kemudian mereka melepaskan tanganku dan
membiarkanku pergi.
“moodnya memang mudah berubah, tadi juga dia bicara sendiri”ucap LeeAe bicara pelan tapi aku mendengarnya. Ah, sudahlah mereka mau bicara apapun aku tidak perduli.
“moodnya memang mudah berubah, tadi juga dia bicara sendiri”ucap LeeAe bicara pelan tapi aku mendengarnya. Ah, sudahlah mereka mau bicara apapun aku tidak perduli.
Aku tak mengerti kenapa aku bisa bertingkah sangat
kekanak-kanakan. Entahlah aku sedikit sensitif dengan yang namanya Jesica,
bukan karena ia lebih cantik dan kebih unggul bermain musik dibanding aku tapi
karena sikapnya terhadapku tidak pernah menunjukkan rasa bersahabat sedikitpun.
Selama aku pindah kesekolah ini belum pernah aku melihatnya tersenyum padaku,
bahkan ia dan geng nya selalu berusaha untuk mencari masalah dengan ku. Oh,
ayolah Lee Hye-ri bersikaplah santai.
“kau marah
padaku” makhluk samar itu
mulai mendekat ia mencoba meraih tanganku, tak bisa. Tapi terasa, sesuatu
menembus kulitku.
“kenapa tidak
disana. Permainannya bagus kan ??”
aku mengucapkannya dengan nada mengejek, kulihat ia menarik nafas. Bukan nafas
juga sebenarnya, mungkin hanya terbawa kebiasaannya saat ia masih hidup.
“kau cemburu” suara samar itu menembus telingaku. Hey, aku tidak
cemburu, sedikitpun. Hanya sedikit tak suka ia selalu memuji Jesica didepanku.
Kurasa hantu itu menyukainya, kalau saja Jesica juga bisa melihatnya mungkin ia
akan memilihnya.
“Menurutmu ?,
apa aku terlihat seperti anak kecil. Tentu saja tidak, untuk apa aku cemburu pada
orang yang tidak melihatmu”
“Hye-ri, kau
lebih hebat darinya”
“aku tau,
lihatlah hari ini aku akan mengalahkannya”
aku kemudian kembali kedalam ruang musik, bersikap sangat tenang jangan sampai ada
yang mengetahui kegugupanku. Ini memang bukan pertama kalinya aku tampil untuk
pengambilan nilai. Tapi ini sangat menentukan untukku agar aku bisa ikut
kompetisi diseoul.
Kumainkan tuts-tuts piano seperti yang telah
diajarkan oleh Luhan padaku, ku lirik kearah tempat semula ia berdiri tapi ia
menghilang, kucoba memperjelas pandanganku mungkin saja ia sedikit samar tapi
aku tidak menemukannya. Baiklah, ia mengingkari janjinya tapi aku harus tetap
fokus dengan permainanku. Aku tak boleh salah, tidak kali ini.
“tetap fokus”
Aku sedikit menengok kearah kiriku, arah sumber
suara samar yang baru kudengar. Ya, dia ternyata sudah berada disampingku sejak
tadi memeperhatikanku bermain dengan kurang fokus.
Aku akan membuktikan padanya bahwa permainanku jauh
lebih baik daripada jesica, lihat dan tunggulah sampai selesai Xi Luhan. dan
kau takkan percaya nanti.
***
Bulan
bersinar terang menembus kulitnya, ia tak berhenti memainkan jarinya di
tuts-tuts piano. Kulirik sebentar wajah pucatnya, ia masih tersenyum. Entah
karena apa aku bahkan tidak begiteu mengerti. Apa karena aku meraih nilai
tertinggi saat main piano kemarin, mungkin saja. Tapi seharusnya ia sedih, bukankah
aku akan keseoul selama beberapa hari untuk mewakili sekolahku mengikuti
perlombaan. Kalau aku pergi bukankah seharusnya ia sedih karena tak dapat melihatku
beberapa hari. Sial, atau jangan-jangan ia ingin berduaan nanti dengan jesika.
Takkan ku biarkan.
“berhentilah berpikir buruk
tentangku” ia berbicara tanpa
berhenti memainkan piano.
aku
lupa kalau dia bisa mengetahui apa yang aku pikirkan. Bukankah bagus itu
artinya aku tidak harus mengeluarkan suaraku saat bicara dengannya dengan
begitu aku tidak akan dibilang orang aneh yang suka berbircara dengan tembok.
“kau harus menang nanti, jangan
mengecewakanku” kini ia
berhenti bermain, tangannya yang dingin meneyentuh kulitku.
Aku
menatap matanya, sorot tajam namun perlahan berubah menunjukkan kelembutan.
Bibirnya kembali membentuk sesimpul senyum menawan. “kenapa ?” aku bertanya tanpa mengalihkan pandanganku darinya.
Sedetikpun.
“karena dulu itu adalah impianku,
menjadi pianis dan penyanyi terbaik adalah impianku” ia berhenti sejenak, seperti mencoba menarik nafas
yang panjang. tapi bukan, itu hanya kebiasaanya dulu.
“sewaktu aku masih HIDUP” suaranya yang lembut berubah lirih, aku tau ia
sedih. Mimpinya, takkan pernah lagi bisa ia miliki. Siapa yang telah dengan
tega merenggut mimpi itu darinya.
“ehm. Lu, sebenarnya siapa yang
membuatmu gentayangan seperti ini ?”
“gentayangan ??hahahaha, apa maksudmu” ia
tertawa, huh sungguh aneh sejenak ia sedih kemudian tertawa seperti ada yang
lucu saja. Beginikah hantu ?? tak memiliki perasaan yang nyata.
“bukan itu, maksudku kenapa dulu
kau mati ??apa seseorang membunuhmu ?”
“entahlah, aku tidak tau siapa yang
membuatku begini. Yang kuingat dulu aku ditabrak oleh mobil. Dan ketika sadar
aku sudah seperti ini” matanya
mencoba menerawang kearah rembulan yang bersinar terang. Namun tetap gelap
baginya.
“kau melihat orang yang menabrakmu
?” aku bertanya, kini aku
sedikit lebih serius. Ia menggeleng, artinya ia tidak mengetahui siapa yang
menabraknya.
“kapan itu terjadi ?”
“ musim gugur empat tahun yang
lalu. Saat aku akan pergi kekompetisi piano”
matanya kembali menerawang kemasa lalunya, masa yang indah untuknya. Masa dimana
ia akan segera menggapai mimpi-mimpinya.
“aku akan memenangkan kompetisi ini
untukmu” ia tersenyum
menanggapi janji yang aku buat untuknya, aku tidak akan mengecewakannya kali
ini. Mimpinya adalah mimpiku juga karna kami sudah ditakdirkan untuk bersama
walaupun dalam dunia berbeda.
This
Destiny for Me and You; Lu-Han
____
Ia masih ada disana, berdiri di
ujung jalan. Samar namun, tetap nyata untukku. Datang dan lihatlah aku disana,
akan kubawa kau menuju mimpimu walau tidak dengan tanganmu sendiri. Kau harus
datang Lu, karena kau adalah obat yang bisa membuatku tenang dan bisa
berkonsentrasi karena kau aku memilih musik sebagai pilihan hidupku.
“ayo Hye-ri, cepat masuk nanti terlambat”
LeeAe menarik tanganku yang masih berdiri mematung didepan bus.
“ ya” kulangkahkan kakiku masuk kedalam bus tanpa
mengalihkan pandanganku dari sosok samar yang masih berdiri diujung jalan
dengan wajah tersenyum lebar.
“datanglah dan lihat aku disana”batinku dan aku yakin Ia mendengarnya. Impian mu
akan segera terwujud kekasihku, takkan pernah ada hari gelap untukmu lagi. Tak
masalah kupinjamkan diriku jika kau mau, seluruh hidupku sudah kau miliki.
Karena aku merasa kita adalah satu jika aku raga maka kau jiwanya, jika kau
menghilang aku akan hidup tanpa jiwa.
Seoul,
south korea
Malam itu, ditengah terangnya bulan
dan kilauan bintang yang terhapar di langit biru gelap memecah kesunyian
menjadi malam tersuram dalam hidupku. Bukan karena aku kalah dikompetesi dan
tidak dapat memenuhi janjiku pada Luhan, bukan karena itu. Tapi karena
terkuaknya sebuah kenyataan menyakitkan, kenyataan yang tidak sanggup aku
terima sekarang. Kenapa kakakku Lee MinHyuk harus terlibat dalam kasus kematian
Luhan ? kenapa baru sekarang aku mengetahuinya dan kenapa semua itu bisa terjadi.
Tak bisakah aku kembali kemasa lalu dan menebusnya, menebus dosa kakakku empat
tahun yang lalu. Kenapa harus Luhan, dan kenapa harus Luhan.
“maafkan aku Hyeri” ucap kak Minhyuk dengan penuh penyesalan,
kebohongan yang selama empat tahun disimpannya telah habis terbongkar.
“kenapa dulu kau tak bilang kalau
telah menabrak orang. Bukankah dulu kau bilang hanya seekor kucing. Lalu kenapa
sekarang” aku masih berontak,
aku tak bisa menerima kenyataan kalau aku juga terlibat dalam kecelakaan waktu
itu. Tapi itu bukan sepenuhnya salahku.
“aku tak bisa bilang, karena saat
itu aku sedang panik”
“seandainya, dulu kau segera
membawanya kerumah sakit. Mungkin ia akan selamat”
aku
tak bisa menahan air mata yang terus mengalir di wajahku. Walau bagaimanapun
aku juga terlibat didalamnya, andai saja waktu bisa diputar kembali namun
kenyataanya kehidupan bukan sebuah drama atau dongeng dimana semuanya bisa
berakhir dengan indah.
\
\
Kepingan hatiku sudah hancur, aku
malu bertemu dengan Luhan bersama dengan kenyataan yang baru kuterima ini.
Kulirik perlahan, aku sadar pemilik sepasang mata samar masih berdiri tegak
disana mendengarkan semuanya kemudian perlahan menghilang dengan cara gaib.
Hanya sisa-sisa angin yang membawanya sampai kesini yang aku rasakan mengalir
lembut melewati celah-celah kulitku. Sepasang mata samar yang aku rindukan
menghilang dengan kekecewaan dan rasa penghianatan dimalam penuh kenangan ini.
Semuanya kembali terulang, rekaman kejadian empat tahun lalu yang terbungkus
dan tersimpan telah terbuka dengan jelas.
Pada kenyataannya Tak pernah ada kisah yang berakhir dengan
bahagia, klise memang. Kehidupan tak pernah indah selamanya, terhampar begitu
banyak jurang-jurang curam penuh kekosongan dan duri-duri tajam kesedihan yang
tak pernah berakhir hingga napas berhenti berhembus dan hati taklagi bisa
membela. Bahkan cinta bisa salah memilih, kepantasan tak pernah terpikirkan
untuk menjadi pertimbangan. Tapi cinta membuat semua samar dan menjadi indah,
ketika itu sebuah penantian panjang takkan menjadi penghalang. Meskipun rindu
telah menjerat dan membuat napas terasa tercekat cinta itu tidak menghilang
tapi semakin mendalam. Mekipun Semakin menyakitkan, semakin tertekan dan
semakin lama penantian terasa semakin panjang. hatiku tak pernah berontak untuk
berhenti, karena keyakinan membuatku kuat
menjalani hari-hariku sebagai raga yang kosong tanpa jiwa. Keyakinan bahwa kau
akan kembali aku percaya itu, kalaupun kau tak kembali aku yakin aku akan
menyusulmu ketempat dimana aku bisa menemukanmu Xi Luhan.
7
Years later.
“apa yang menginspirasi anda
membuat lagu-lagu yang begitu indah”
“seseorang yang spesial untukku”
“siapa ?, apa dia kekasih anda”
“ya”
“tapi kenapa anda tidak
memperkenalkannya, pasti dia pria yang hebat bisa menaklukan hati seorang
pianis dan penyanyi berbakat seperti anda Lee Hyeri”
“ya, dia memang hebat. Bahkan dia
sedang mengetesku”
“benarkah, tes apa ??”
“apakah aku sanggup menahan rinduku
untuk beberapa waktu tanpa dia sisiku”
Sebuah cerita romantis ditengah
kehilang tetaplah dibutuhkan. Terlebih lagi dalam sebuah penantian panjang,
karena itu ibarat sebuah penawar untuk luka yang telah lama terabaikan.
Bulan masih terang, sekarang setelah
sekian lama barulah aku merasa malam semakin panjang. waktu terasa sangat
lambat berlalu. Mataku masih menerawang, menanti sebuah langkah samar dari sang
pemilik yang telah aku tunggu. Langkah
kaki yang ringan tanpa getaran bahkan nyaris tak terdengar. Seperti angin yang
mendesir, menerbangkan helaian rambutku yang kubiarkan terurai. Malam tak lagi
hening, ku mainkan beberapa nada dan kunyanyikan bebapa lagu yang telah aku
ciptakan untuk sang jiwa dari raga yang kosong.
Aku mencintai mu, walaupun hati ini
sakit
Walaupun
Seperti orang-orangan sawah, seperti
boneka yang sedih
Aku akan selalu menunggu mu
Seperti datangnya siang dan malam,
cinta pun menemukanku
Pada penghujung hari yang sunyi, di
dalam mimpi
Pertemuanku denganmu
Menjauh dan menghilang, terbang
dihembus angin
Sedih karena tak bisa menggenggam
cinta
Harapan yang ku lepas, hilang
layaknya buih
Dekapanku yang sepi dalam kepedihan
yang mematikan
Cinta layaknya racun yang manis,
kesedihan bagaikan mawar berduri
Dalam hati yang hancur, menangis
sendirian, terluka sendirian
Aku haus akan cinta, hati ini begitu
sakit
Ketika angin berhembus, kerinduan
pun berhembus pula
Saat hujan menitik, air mata pun
ikut menitik
Aku akan selalu menunggu mu
Aku merasa kesepian
Aku merasa ketakutan
Seperti matahari di waktu siang,
seperti bintang di waktu malam
Yang akan datang dan pergi
malam ini begitu sepi
Bukan saatnya mencinta, malam ini
kita bahkan berjauhan
Bagiku, 24 jam dalam siang dan malam
itu tidak cukup
Malam ini, aku merindukanmu sebesar
aku mencintaimu
Jalan telah hilang, sekarang aku
tersesat
Sinarilah aku, bimbinglah aku
Saat-saat tanpa mu membuat ku
ketakutan
Saat-saat tanpa mu membuat ku
kesepian
(T-ara Day
and Night)
Angin berhembus, bukan lagi hembusan
angin malam yang dingin. tapi benar-benar tampak nyata, sentuhan tangan yang
telah lama aku rindukan telah kembali. Genggaman tangan yang selama ini
menghilang aku rasakan lagi, ini bukan mimpi. Apakah sudah saatnya, kurasan
lagi desiran angin lembut semakin mendekat diwajahku. Sesuatu yang lembut menyentuh bibirku, kurasakan
dengan sangat jelas. Perlahan kubuka mataku, sosok samar yang aku tunggu telah
kembali. Hanya sebentar kemudian mengilang namun kehangatan dan sentuhannya
masih kurasakan.
Mungkin inilah saatnya, ia telah datang untuk
mengajakku pergi bersamanya. Menuju tempat dimana aku bisa merasakannya dan
melihatnya dengan jelas, setelah 7 tahun lamanya menghilang ia kembali
menjemputku untuk kembali bersamanya.
“Mimpimu telah kuwujudkan. Sekarang
saatnya kau yang mewujudkan mimpiku”
Ia
kembali muncul ditengah sinar bulan yeng menerobos masuk melalui celah jedela.
Hanya tersenyum.
“aku telah lama kehilanganmu, aku juga telah
lama menunggumu. Sekarang saatnya aku menyusulmu. Aku akan segera menemukanmu”
Aku
menggapai tangannya, tidak lagi dingin ia tak juga sekarang jelas tak lagi
samar. Aku meninggalkan sebuah tubuh yang tertidur di datas piano yang tak lagi
mengeluarkan nada, kuperhatikan wajah itu tersenyum penuh kebahagiaan seperti
telah menemukan kembali sesuatu yang telah lama menghilang. Kutatap lagi Luhan,
ia tersenyum mencoba memberiku sebuah penawaran. Aku terseyum sambil
menatapnya, ku biarkan ia menarikku membawaku bersamanya menjauh dari tempat
musikku.
Penantianku telah selesai, aku
kembali bersamanya. Menyanyikan lagu-lagu indah dengan cara yang jelas berbeda
dari dulu. Sekarang jauh lebih baik, karena cinta telah menemukan tempatnya
kembali. Terbang bersama hembusan angin menuju sinar bulan yang perlahan memudar
dari sebuah kehidupan tanpa bayang-bayang takut kehilangan dan kesepian. Karena
cinta tak membutuhkan raga tapi cukup satu jiwa yang saling mencinta.
~THE
AND~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar