Selasa, 21 Oktober 2014

I miss You


 

Main cast : Lee Hyeri (OC),Xi Luhan
Genre : campuran
Author : Risma Fitriyana
            ~Xi Luhan milik Tuhan, keluarga dan SMEnt. Tapi cerita murni berasal dari otakku~


Kadang hidup itu terlalu sulit untuk dilewati, terlalu banyak hal yang tidak masuk akal membentang didepanku. Meskipun aku sudah mencoba berpikir lebih realistis pada kenyataannya, teroi-teori para ilmuan tidak sepenuhnya dapat mengungkap ketidak jelasan tentang hal gaib. Dan sekarang aku terperangkap didalamnya, didalam ketidak jelasan itu, dalam mitos yang dibiarkan berkembang dalam kehidupan modern saat ini. Ingin rasanya aku tidak mempercayai semuanya tapi ini terlalu jelas dan nyata.

***
~Happy Reading~


                Kau percaya tentang cinta dua dunia berbeda ? tidak percaya kan. Aku juga akan berpikir itu tidak mungkin, jika saja aku tidak mengalami dan merasakannya sendiri. Aku telah terjatuh kedalam perangkapnya, aku telah terkena tembakan panah asmaranya, aku sudah terpenjara oleh semua tentangnya. Tentangnya yang kadang tak terlihat jelas namun bisa kurasakan kehadirannya. Tentangnya dengan senyum yang selalu membuatku takluk, tentang jari-jarinya yang piawai memaikan tuts-tuts piano, tentang suaranya yang merdu, tentang gengaman tangannya yang dingin namun tetap terasa hangat saat menyentuh kulitku. Aku benar-benar telah jatuh cinta padanya. Dan aku tidak pernah ingin berpisah dengannya dengan cara apapun.

***
  
            Malam telah lama larut, aku masih berada diruang musik melatih kemampuan bermain pianoku bersama guru sekaligus kekasihku. Hanya sinar bulan yang menjadi satu-satunya penerangan diruangan musik, lantunan musik yang keluar dari tuts-tuts piano seakan menjadi musik romantis yang meambah keindahan malam ini untuk kami berdua.
“kemampuanmu semakin baik sekarang” ia menatapku tajam dengan senyum lembut dari balik bibir pucatnya, namun masih menampakkan gairah kehidupan yang telah lama hilang darinya.
“semua berkatmu kan ?” aku balik menatap matanya. Matanya yang tak pernah bisa berkedip. Itulah yang kusuka, ia takkan pernah menutup matanya didepanku. Ia tersenyum simpul, tangannya bergerak menggenggam erat tanganku. Aku merasakan kehangatan disana, kehangatan diantara kebekuan tubuhnya.
“teruslah bermain, aku ingin mendengarmu sekali lagi” 
Aku mengangguk pelan menuruti perintahnya, kembali meletakkan jari-jariku di tuts-tust piano. Aku tak pernah merasakan rasa kantuk selama ini, selama aku bersama Luhan. Kebanyakan malamku kuhabiskan bersamanya, menyanyikan lagu tentang cinta. Ditengah malam, takkan ada yang bisa mengganggu kami. Semua orang sudah tetidur lelap, dan takkan ada yang menyadari kalau aku disini sepanjang malam. Bersamanya, kekasihku sesosok hantu dengan wajah putih pucat namun mempesona yang samar. Aku bahkan tak mengerti kenapa aku bisa jatuh cinta padanya, dan mengapa hanya aku yang dapat melihatnya dengan jelas dan sangat nyata. Bahkan aku dapat merasakan kelembutan dan kehangatannya yang seharusnya tak pernah ada padanya.
“sudah terlalu malam, kau perlu istirahat” ia mengangkat tanganku yang masih menyentuh piano dengan lembut. Tangannya kembali bermain dengan rambutku yang kubiarkan terurai acak-acakan.
“aku tidak pernah mengantuk” tatapan kami bertemu ”selama bersamamu” lanjutku,tangannya masih bermain dipucuk kepalaku. Sesaat kemudian ia menatapku dengan tajam, tak ada ekspresi diwajahnya namun aku tau ia tak suka.
“baiklah, kurasa aku sudah mengantuk sekarang, kau mau mengantarku” aku tak ingin ia kecewa padaku, kuturuti apa keinginannya. Ia mengangguk pelan. Aku menggenggam tangannya dengan sangat erat.

***
            Mentari kembali kesinggasananya, menyebarkan cahaya-cahaya nya keseluruh penjuru semesta. Tapi, aku lebih menyukai sang bulan yang bersinar terang dimalam hari. Karena, kadang saat siang sangat sulit untukku bertemu dengan luhan. ia kadang menjadi samar dan transparan disaat siang, dan aku tidak pernah merasakan kehangatan tangannya disiang hari meskipun ia sedang berdiri disamping atau didepanku. Aku bahkan bisa menembusnya merasakan tubuh kami menyatu, yang aku rasakan saat itu hanya semilir angin hangat yang lembuh menembus pori-pori kulitku.
            Dan dipagi ini, sosok itu kembali menjadi samar. Aku dapat melihatnya tapi tidak menyentuhnya. Ia masih berdiri mematung disamping tempat tidurku. Entah berapa lama ia menungguku tidur hingga aku terbangun di pagi harinya. Aku kadang berpikir kenapa malam tidak menjadi sedikit lebih panjang, lebih lama. Atau paling tidak bisakah matahari sedikit terlambat untuk muncul.


“aku ada tes vokal hari ini, datanglah dan lihatlah aku menyanyi. Aku menunggumu” 
“tidak akan kulewatkan” 
“itu harus, aku tidak akan memulainya sebelum aku melihatmu berdiri di samping meja guru” ucapku dalam hati
“aku mendengarnya. Aku akan datang, tenanglah” aku lupa kalau ia bisa mendengar apapun yang sedang aku pikirkan.
“berjanjilah” ia mengangguk pelan. Senyum indah itu kembali terukir dibibirnya.

“Hyeri, apa yang kau lakukan ? kau sedang bicara dengan siapa ?"
“apa kalian tak bisa kalau masuk kekamarku mengetuk pintu terlebih dulu” kenapa mereka selalu seperti ini, kalau mereka selalu melihatku bicara dengan Luhan yang tak terlihat oleh mereka aku akan benar-benar dianggap sebagai orang gila.
“mianhae, lagipula kau sendiri tak mengunci kamarmu. Jadi aku langsung masuk saja” mereka selalu mencari alasan. Apa mereka tak sadar kalau sudah hampir setiap hari aku mengatakan hal itu pada mereka. Lagi pula bukankah mereka tahu kalau kunci kamarku rusak, kalau kukunci dari dalam aku tidak akan bisa keluar sebelum seseorang membukanya dari luar.
sudahlah ayo berangkat” aku menarik tangan kedua temanku yang selalu seenaknya masuk kedalam kamarku dan terlalu senang mengganggu kesenanganku.
            Sebenarnya aku senang bersama mereka, LeeAe dan Soojien tapi aku akan jauh lebih senang saat sendirian. Bersama mereka terlalu berisik, juga mereka terlalu berlebihan dalam menterjemahkan sosok hantu. Bagi mereka, hantu adalah makhluk menyeramkan dengan dua taring dan wajah yang hancur, suka menakut-nakuti, bahkan sampai membunuh. Oh ayo lah, pemikiran mereka jauh berbeda dengan sosok hantu yang sedang aku kenal. Luhan tidak nampak seperti yang mereka ceritakan.

            ###
“Temanmu bermain dengan baik” aku mendengarnya walau samar, dan aku tahu suara itu milik siapa. Kenapa ia suka sekali mebuatku cemburu, ia selalu memuji permainan piano Jesica,  ya memang permainannya lebih baik dariku tapi apa dia tidak bisa satu kali saja tidak memujinya.
“kemana ??” LeeAe menarik tanganku saat aku ingin berjalan keluar.
“keluar” ucapku ketus
“yak, Hyeri sebentar lagi kau tampil” sooJien menarik tanganku untuk duduk kembali
“nanti saja Moodku sedang rusak”aku berkata tanpa menoleh kearh dua temanku, sesaat kemudian mereka melepaskan tanganku dan membiarkanku pergi.

            “moodnya memang mudah berubah, tadi juga dia bicara sendiri”ucap LeeAe bicara pelan tapi aku mendengarnya. Ah, sudahlah mereka mau bicara apapun aku tidak perduli. 
Aku tak mengerti kenapa aku bisa bertingkah sangat kekanak-kanakan. Entahlah aku sedikit sensitif dengan yang namanya Jesica, bukan karena ia lebih cantik dan kebih unggul bermain musik dibanding aku tapi karena sikapnya terhadapku tidak pernah menunjukkan rasa bersahabat sedikitpun. Selama aku pindah kesekolah ini belum pernah aku melihatnya tersenyum padaku, bahkan ia dan geng nya selalu berusaha untuk mencari masalah dengan ku. Oh, ayolah Lee Hye-ri bersikaplah santai.
“kau marah padaku” makhluk samar itu mulai mendekat ia mencoba meraih tanganku, tak bisa. Tapi terasa, sesuatu menembus kulitku.
“kenapa tidak disana. Permainannya bagus kan ??” aku mengucapkannya dengan nada mengejek, kulihat ia menarik nafas. Bukan nafas juga sebenarnya, mungkin hanya terbawa kebiasaannya saat ia masih hidup.
“kau cemburu” suara samar itu menembus telingaku. Hey, aku tidak cemburu, sedikitpun. Hanya sedikit tak suka ia selalu memuji Jesica didepanku. Kurasa hantu itu menyukainya, kalau saja Jesica juga bisa melihatnya mungkin ia akan memilihnya.
“Menurutmu ?, apa aku terlihat seperti anak kecil. Tentu saja tidak, untuk apa aku cemburu pada orang yang tidak melihatmu”
Hye-ri, kau lebih hebat darinya” 
“aku tau, lihatlah hari ini aku akan mengalahkannya” aku kemudian kembali kedalam ruang musik, bersikap sangat tenang jangan sampai ada yang mengetahui kegugupanku. Ini memang bukan pertama kalinya aku tampil untuk pengambilan nilai. Tapi ini sangat menentukan untukku agar aku bisa ikut kompetisi diseoul.


Kumainkan tuts-tuts piano seperti yang telah diajarkan oleh Luhan padaku, ku lirik kearah tempat semula ia berdiri tapi ia menghilang, kucoba memperjelas pandanganku mungkin saja ia sedikit samar tapi aku tidak menemukannya. Baiklah, ia mengingkari janjinya tapi aku harus tetap fokus dengan permainanku. Aku tak boleh salah, tidak kali ini.
“tetap fokus” 
Aku sedikit menengok kearah kiriku, arah sumber suara samar yang baru kudengar. Ya, dia ternyata sudah berada disampingku sejak tadi memeperhatikanku bermain dengan kurang fokus.
Aku akan membuktikan padanya bahwa permainanku jauh lebih baik daripada jesica, lihat dan tunggulah sampai selesai Xi Luhan. dan kau takkan percaya nanti.

***

Bulan bersinar terang menembus kulitnya, ia tak berhenti memainkan jarinya di tuts-tuts piano. Kulirik sebentar wajah pucatnya, ia masih tersenyum. Entah karena apa aku bahkan tidak begiteu mengerti. Apa karena aku meraih nilai tertinggi saat main piano kemarin, mungkin saja. Tapi seharusnya ia sedih, bukankah aku akan keseoul selama beberapa hari untuk mewakili sekolahku mengikuti perlombaan. Kalau aku pergi bukankah seharusnya ia sedih karena tak dapat melihatku beberapa hari. Sial, atau jangan-jangan ia ingin berduaan nanti dengan jesika. Takkan ku biarkan.
“berhentilah berpikir buruk tentangku” ia berbicara tanpa berhenti memainkan piano.
aku lupa kalau dia bisa mengetahui apa yang aku pikirkan. Bukankah bagus itu artinya aku tidak harus mengeluarkan suaraku saat bicara dengannya dengan begitu aku tidak akan dibilang orang aneh yang suka berbircara dengan tembok.
“kau harus menang nanti, jangan mengecewakanku” kini ia berhenti bermain, tangannya yang dingin meneyentuh kulitku. 
Aku menatap matanya, sorot tajam namun perlahan berubah menunjukkan kelembutan. Bibirnya kembali membentuk sesimpul senyum menawan. “kenapa ?” aku bertanya tanpa mengalihkan pandanganku darinya. Sedetikpun.
“karena dulu itu adalah impianku, menjadi pianis dan penyanyi terbaik adalah impianku” ia berhenti sejenak, seperti mencoba menarik nafas yang panjang. tapi bukan, itu hanya kebiasaanya dulu.
“sewaktu aku masih HIDUP” suaranya yang lembut berubah lirih, aku tau ia sedih. Mimpinya, takkan pernah lagi bisa ia miliki. Siapa yang telah dengan tega merenggut mimpi itu darinya.
“ehm. Lu, sebenarnya siapa yang membuatmu gentayangan seperti ini ?”
gentayangan ??hahahaha, apa maksudmu” ia tertawa, huh sungguh aneh sejenak ia sedih kemudian tertawa seperti ada yang lucu saja. Beginikah hantu ?? tak memiliki perasaan yang nyata.
“bukan itu, maksudku kenapa dulu kau mati ??apa seseorang membunuhmu ?”
“entahlah, aku tidak tau siapa yang membuatku begini. Yang kuingat dulu aku ditabrak oleh mobil. Dan ketika sadar aku sudah seperti ini” matanya mencoba menerawang kearah rembulan yang bersinar terang. Namun tetap gelap baginya.
“kau melihat orang yang menabrakmu ?” aku bertanya, kini aku sedikit lebih serius. Ia menggeleng, artinya ia tidak mengetahui siapa yang menabraknya.
“kapan itu terjadi ?”
“ musim gugur empat tahun yang lalu. Saat aku akan pergi kekompetisi piano” matanya kembali menerawang kemasa lalunya, masa yang indah untuknya. Masa dimana ia akan segera menggapai mimpi-mimpinya.
“aku akan memenangkan kompetisi ini untukmu” ia tersenyum menanggapi janji yang aku buat untuknya, aku tidak akan mengecewakannya kali ini. Mimpinya adalah mimpiku juga karna kami sudah ditakdirkan untuk bersama walaupun dalam dunia berbeda. 
This Destiny for Me and You; Lu-Han

____

            Ia masih ada disana, berdiri di ujung jalan. Samar namun, tetap nyata untukku. Datang dan lihatlah aku disana, akan kubawa kau menuju mimpimu walau tidak dengan tanganmu sendiri. Kau harus datang Lu, karena kau adalah obat yang bisa membuatku tenang dan bisa berkonsentrasi karena kau aku memilih musik sebagai pilihan hidupku.
ayo Hye-ri, cepat masuk nanti terlambat” LeeAe menarik tanganku yang masih berdiri mematung didepan bus.
“ ya” kulangkahkan kakiku masuk kedalam bus tanpa mengalihkan pandanganku dari sosok samar yang masih berdiri diujung jalan dengan wajah tersenyum lebar.
“datanglah dan lihat aku disana”batinku dan aku yakin Ia mendengarnya. Impian mu akan segera terwujud kekasihku, takkan pernah ada hari gelap untukmu lagi. Tak masalah kupinjamkan diriku jika kau mau, seluruh hidupku sudah kau miliki. Karena aku merasa kita adalah satu jika aku raga maka kau jiwanya, jika kau menghilang aku akan hidup tanpa jiwa.


Seoul, south korea
           
            Malam itu, ditengah terangnya bulan dan kilauan bintang yang terhapar di langit biru gelap memecah kesunyian menjadi malam tersuram dalam hidupku. Bukan karena aku kalah dikompetesi dan tidak dapat memenuhi janjiku pada Luhan, bukan karena itu. Tapi karena terkuaknya sebuah kenyataan menyakitkan, kenyataan yang tidak sanggup aku terima sekarang. Kenapa kakakku Lee MinHyuk harus terlibat dalam kasus kematian Luhan ? kenapa baru sekarang aku mengetahuinya dan kenapa semua itu bisa terjadi. Tak bisakah aku kembali kemasa lalu dan menebusnya, menebus dosa kakakku empat tahun yang lalu. Kenapa harus Luhan, dan kenapa harus Luhan.
“maafkan aku Hyeri” ucap kak Minhyuk dengan penuh penyesalan, kebohongan yang selama empat tahun disimpannya telah habis terbongkar. 
“kenapa dulu kau tak bilang kalau telah menabrak orang. Bukankah dulu kau bilang hanya seekor kucing. Lalu kenapa sekarang” aku masih berontak, aku tak bisa menerima kenyataan kalau aku juga terlibat dalam kecelakaan waktu itu. Tapi itu bukan sepenuhnya salahku.
“aku tak bisa bilang, karena saat itu aku sedang panik” 
“seandainya, dulu kau segera membawanya kerumah sakit. Mungkin ia akan selamat
aku tak bisa menahan air mata yang terus mengalir di wajahku. Walau bagaimanapun aku juga terlibat didalamnya, andai saja waktu bisa diputar kembali namun kenyataanya kehidupan bukan sebuah drama atau dongeng dimana semuanya bisa berakhir dengan indah. 
\
            Kepingan hatiku sudah hancur, aku malu bertemu dengan Luhan bersama dengan kenyataan yang baru kuterima ini. Kulirik perlahan, aku sadar pemilik sepasang mata samar masih berdiri tegak disana mendengarkan semuanya kemudian perlahan menghilang dengan cara gaib. Hanya sisa-sisa angin yang membawanya sampai kesini yang aku rasakan mengalir lembut melewati celah-celah kulitku. Sepasang mata samar yang aku rindukan menghilang dengan kekecewaan dan rasa penghianatan dimalam penuh kenangan ini. Semuanya kembali terulang, rekaman kejadian empat tahun lalu yang terbungkus dan tersimpan telah terbuka dengan jelas. 
            Pada kenyataannya  Tak pernah ada kisah yang berakhir dengan bahagia, klise memang. Kehidupan tak pernah indah selamanya, terhampar begitu banyak jurang-jurang curam penuh kekosongan dan duri-duri tajam kesedihan yang tak pernah berakhir hingga napas berhenti berhembus dan hati taklagi bisa membela. Bahkan cinta bisa salah memilih, kepantasan tak pernah terpikirkan untuk menjadi pertimbangan. Tapi cinta membuat semua samar dan menjadi indah, ketika itu sebuah penantian panjang takkan menjadi penghalang. Meskipun rindu telah menjerat dan membuat napas terasa tercekat cinta itu tidak menghilang tapi semakin mendalam. Mekipun Semakin menyakitkan, semakin tertekan dan semakin lama penantian terasa semakin panjang. hatiku tak pernah berontak untuk berhenti,  karena keyakinan membuatku kuat menjalani hari-hariku sebagai raga yang kosong tanpa jiwa. Keyakinan bahwa kau akan kembali aku percaya itu, kalaupun kau tak kembali aku yakin aku akan menyusulmu ketempat dimana aku bisa menemukanmu Xi Luhan.

7 Years later.

“apa yang menginspirasi anda membuat lagu-lagu yang begitu indah”
“seseorang yang spesial untukku” 
“siapa ?, apa dia kekasih anda”
“ya”
“tapi kenapa anda tidak memperkenalkannya, pasti dia pria yang hebat bisa menaklukan hati seorang pianis dan penyanyi berbakat seperti anda Lee Hyeri”
“ya, dia memang hebat. Bahkan dia sedang mengetesku”
“benarkah, tes apa ??”
“apakah aku sanggup menahan rinduku untuk beberapa waktu tanpa dia sisiku”


            Sebuah cerita romantis ditengah kehilang tetaplah dibutuhkan. Terlebih lagi dalam sebuah penantian panjang, karena itu ibarat sebuah penawar untuk luka yang telah lama terabaikan.
            Bulan masih terang, sekarang setelah sekian lama barulah aku merasa malam semakin panjang. waktu terasa sangat lambat berlalu. Mataku masih menerawang, menanti sebuah langkah samar dari sang pemilik yang telah aku tunggu.  Langkah kaki yang ringan tanpa getaran bahkan nyaris tak terdengar. Seperti angin yang mendesir, menerbangkan helaian rambutku yang kubiarkan terurai. Malam tak lagi hening, ku mainkan beberapa nada dan kunyanyikan bebapa lagu yang telah aku ciptakan untuk sang jiwa dari raga yang kosong.

Aku mencintai mu, walaupun hati ini sakit
Walaupun
Seperti orang-orangan sawah, seperti boneka yang sedih
Aku akan selalu menunggu mu

Seperti datangnya siang dan malam, cinta pun menemukanku
Pada penghujung hari yang sunyi, di dalam mimpi
Pertemuanku denganmu


Menjauh dan menghilang, terbang dihembus angin
Sedih karena tak bisa menggenggam cinta
Harapan yang ku lepas, hilang layaknya buih
Dekapanku yang sepi dalam kepedihan yang mematikan
Cinta layaknya racun yang manis, kesedihan bagaikan mawar berduri
Dalam hati yang hancur, menangis sendirian, terluka sendirian
Aku haus akan cinta, hati ini begitu sakit

Ketika angin berhembus, kerinduan pun berhembus pula
Saat hujan menitik, air mata pun ikut menitik

Aku akan selalu menunggu mu

Aku merasa kesepian
Aku merasa ketakutan
Seperti matahari di waktu siang, seperti bintang di waktu malam
Yang akan datang dan pergi

malam ini begitu sepi
Bukan saatnya mencinta, malam ini kita bahkan berjauhan
Bagiku, 24 jam dalam siang dan malam itu tidak cukup
Malam ini, aku merindukanmu sebesar aku mencintaimu
Jalan telah hilang, sekarang aku tersesat
Sinarilah aku, bimbinglah aku
Saat-saat tanpa mu membuat ku ketakutan
Saat-saat tanpa mu membuat ku kesepian
 (T-ara Day and Night)


            Angin berhembus, bukan lagi hembusan angin malam yang dingin. tapi benar-benar tampak nyata, sentuhan tangan yang telah lama aku rindukan telah kembali. Genggaman tangan yang selama ini menghilang aku rasakan lagi, ini bukan mimpi. Apakah sudah saatnya, kurasan lagi desiran angin lembut semakin mendekat diwajahku. Sesuatu  yang lembut menyentuh bibirku, kurasakan dengan sangat jelas. Perlahan kubuka mataku, sosok samar yang aku tunggu telah kembali. Hanya sebentar kemudian mengilang namun kehangatan dan sentuhannya masih kurasakan. 
Mungkin inilah saatnya, ia telah datang untuk mengajakku pergi bersamanya. Menuju tempat dimana aku bisa merasakannya dan melihatnya dengan jelas, setelah 7 tahun lamanya menghilang ia kembali menjemputku untuk kembali bersamanya. 
“Mimpimu telah kuwujudkan. Sekarang saatnya kau yang mewujudkan mimpiku”
Ia kembali muncul ditengah sinar bulan yeng menerobos masuk melalui celah jedela. Hanya tersenyum.
aku telah lama kehilanganmu, aku juga telah lama menunggumu. Sekarang saatnya aku menyusulmu. Aku akan segera menemukanmu” 
Aku menggapai tangannya, tidak lagi dingin ia tak juga sekarang jelas tak lagi samar. Aku meninggalkan sebuah tubuh yang tertidur di datas piano yang tak lagi mengeluarkan nada, kuperhatikan wajah itu tersenyum penuh kebahagiaan seperti telah menemukan kembali sesuatu yang telah lama menghilang. Kutatap lagi Luhan, ia tersenyum mencoba memberiku sebuah penawaran. Aku terseyum sambil menatapnya, ku biarkan ia menarikku membawaku bersamanya menjauh dari tempat musikku. 
            Penantianku telah selesai, aku kembali bersamanya. Menyanyikan lagu-lagu indah dengan cara yang jelas berbeda dari dulu. Sekarang jauh lebih baik, karena cinta telah menemukan tempatnya kembali. Terbang bersama hembusan angin menuju sinar bulan yang perlahan memudar dari sebuah kehidupan tanpa bayang-bayang takut kehilangan dan kesepian. Karena cinta tak membutuhkan raga tapi cukup satu jiwa yang saling mencinta.

~THE AND~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar