Misteri gedung belakang
Sekolah
Oleh : Risma Fitriyana
Pagi ini aku begitu bersemangat untuk berangkat
kesekolah bersama sahabatku namanya Naila. Sejak beberapa hari terakhir sekolah
kami dihebohkan oleh berita bahwa gedung belakang sekolah kami adalah sebuah
gedung tempat belajar para makhluk halus, gedung itu dulunya adalah sekolah
untuk anak laki-laki orang belanda. Tapi berita itu hanya kabar angin yang
diceritakan dari mulut kemulut yang belum tentu kebenarannya.
“teng...teng...teng..”
bel tanda pulang telah berbunyi para siswa dan siswi berhamburan keluar kelas
untuk segera pulang kerumah, tapi hari ini aku dan Naila rencananya akan pergi
kegedung dibelakang sekolah untuk menyelidiki kebenaran berita yang telah
menyebar luas dikalangan para siswa.
“ayo kita harus segera kesana Ray
sebelum si Idiot Dimas itu melihat kita”
celoteh Naila sambil menarik tanganku sepertinya dia sangat tidak ingin kalau
Dimas ikut dalam rencana ini.
“percuma kita cepat-cepat nay, dia
sudah disana” kataku sambil menunjuk
Dimas yang sudah berdiri didepan pintu sambil melambaikan tangannnya kearah
kami.
“huh, aku tak yakin rencana kita
akan berjalan lancar” keluh Naila
sambil memukul-mukul kepalanya dengan pelan. Ia menyesal.
“ku dengar dari Ajeng hari ini
kalian akan kegedung belakang sekolah kita ya ?” ucap Dimas sambil berjalan mengampiri kami.
“tidak, kami ingin segera pulang
kan Raisa” ucap Naila ketus.
Sudah kuduga kalau kami bercerita sesuatu pada si
tukang gosip ajeng itu satu sekolah pasti akan segera tahu dalam hitungan hari
bahkan jam. Aku jadi heran bagaimana caranya anak itu menyebarkan informasi
orang dengan sangat cepat.
“kau jangan bohong, kalau kau
bohong kecantikanmu akan pudar princess Naila” kata Dimas. Jurus gombalnya telah keluar, aku jadi
merinding mendengarnya pantas saja Naila tidak suka dengannya. Gayanya
berlebihan.
“sudahlah kalau kau mau ikut jaga sikapmu” ucapku sambil menarik tangan Naila.
Kami bertigapun segera menuju gedung
yang ada dibelakang sekolah kami, setelah bersusah payah akhirnya kami bisa
masuk dengan menaiki pagar besi yang mengelilingi gedung tua ini. Gedung ini
memang sangat besar dan menyeramkan. Suhunya lembab, banyak sarang laba-laba
disana-sini, debunya sangat tebal serta tikus dan kecoa yang berlarian menemani
jalan-jalan kami disini. Yang aku heran kenapa gedung tak berpenghuni ini tidak
di hancurkan saja, bukankah lebih baik begitu daripada dibiarkan tidak terawat
seperti ini.
Naila sudah mulai ketakutan kami
mencoba memasuki satu persatu ruangan yang ada digedung ini. Gedung ini
memiliki banyak ruangan dan tepat diatas pintu masuk setiap ruangan ada semacam
papan bertuliskan huruf-huruf yang tidak aku mengerti, mungkin bertuliskan nama
kelas seperti disekolah ku misalnya kelas X , XI, XII, Ipa, Ips, Bahasa dan
lainnya entahlah, aku tak mengerti.
“gdbuk”
“suara apa itu ?” kata Dimas saat mendengar suara benda yang
dihentakkan. Ia mulai panik sambil menengok karah kanan dan kiri mencari sumber
bunyinya.
“sebaiknya kita pulang saja, aku
takut nih” kata Naila semakin
ketakutan.
Kami segera keluar dari salah satu ruangan yang kami
masuki, saat kami keluar aku melihat seseorang didalam gedung ini selain kami
bertiga.
“disana ada orang” kataku sambil menarik
kedua temanku untuk mengejar orang yang kulihat tadi.
“sudahlah Raisa, tidak mungkin ada
orang lain selain kita disini. Sebaiknya kita pulang saja kasihan Naila” kata dimas menghentikanku.
“aku yakin sekali tadi ada orang
disana, aku melihatnya dengan jelas. Aku juga melihat wajahnya” kataku
meyakinkan.
“kalau begitu kau cari saja
sendiri, aku tidak mau. Aku ingin pulang”
kata Naila menarik Dimas pergi.
“iya, iya kita pulang” kataku pasrah sambil mengejar dua temanku itu,
tidak mungkin aku pergi sendirian aku juga takut.
Malamnya, aku masih termenung dimeja
belajarku sambil memikirkan orang yang aku lihat digedung tua itu. Aku yakin
disana ada orang, tidak salah lagi. Kutengok jam dinding dikamarku masih
menunjukkan pukul 9 malam, andai saja tadi Naila dan Dimas tidak mengajakku
pulang aku pasti sudah tahu siapa orang yang aku lihat tadi. Mataku sudah mulai
mengantuk tapi aku enggan untuk tidur aku masih ingin menulis semua yang aku
lihat tadi dibuku harianku.
“tok,tok,tok” seseorang mengetuk jendela
kamarku.
“siapa ?” ucapku pelan sambil mengintip keluar jendela kamarku.
“Dimas dan Naila”
“ooh, kalian rupanya, kenapa
malam-malam begini kesini” ucapku setelah
membuka jendela kamarku.
“kami punya kabar bagus untukmu” kata Dimas yang masih diluar
“apa ? jangan bilang kalau kalian
pacaran” kataku sedikit
meremehkan berita dari Dimas.
“bukan, tadi kami melewati gedung
Tua itu. Disana sangat Ramai”
ucap Naila
“bagaimana kalau sekarang kita
kesana ?” ucap Dimas bersemangat
“sekarang ? maksudmu malam ini ?” aku kaget mendengar ajakan mereka, apa yang terjadi
bukankah tadi siang mereka sangat takut. Lalu kenapa sekarang malah bersemangat
untuk kesana.
“tentu saja kapan lagi” kata Dimas
“baiklah, tunggu aku diluar aku
ambil jaket dulu”ucapku sambil
mengambil jaket hijau bergaris kesayanganku.
Kami bertigapun segera kegendung tua
itu dan benar disana sangat ramai, sama seperti biasanya disekolah kami. Banyak
anak yang datang ada yang jalan kaki, bersepeda, diantar dengan mobil dan ada
yang datang dengan terbang memakai sapu. Yang benar saja. Kami pun ikut masuk
kedalam, yang aku heran sejak tadi yang aku lihat adalah anak laki-laki tidak
ada seorangpun perempuan kecuali aku dan Naila. Aku terkagum-kagum melihat
arsitektur bangunan ini sangatlah jauh berbeda dengan siang tadi tapi masih
tetap dengan suasana seramnya.
“Bruk” seseorang menabrakku
“maaf” ucapnya
“kau”
“cepat sembunyi” orang ini menariku, Dimas dan Naila masuk kedalam
sebuah ruangan.
Kuperhatikan wajahnya,tak salah lagi
orang ini yang aku lihat siang tadi. Tapi aku tidak tahu kalau tingginya
sekitar 170 cm, tapi tubuhnya persis sama. Ternyata dia sangat tampan bentuk
wajahnya oval, matanya tidak galak juga tidak sipit, kulitnya putih, mungkin
dia lebih mirip Luhan Exo jika model rambutnya sama.
“kenapa kalian ada disini. Kalian
bukan murid disini kan ?” tanyanya
“a,a,anu.. itu.aa” kata Dimas gagap tak
bisa menjawab
“cepat bersembunyi kebawah meja,
Prof. Van Dev datang” katanya
mengagetkan kami, ia meminta kami bersembunyi lagi
“tadi saya lihat kamu bicara dengan
seseorang. Siapa ?” tanya laki-laki
bertubuh besar dan berkepala botak di bagian ubun-ubunnya yang baru saja
datang.
“ah, itu tadi saya lagi latihan
drama pak”kata laki-laki yang
menabrakku tadi.
Entah apa yang mereka bicarakan kemudian aku tidak
mendengarnya sampai laki-laki botak itu akhirnya pergi.
“sudah aman, kalian bisa keluar”
“hoahh, leganya. Aku boleh tanya
tidak ?” kata dimas setelah
keluar dari bawah meja.
“tanya apa ?” kata laki-laki itu
“orang tadi siapa ?, trus tempat
ini tempat apa ?” tanya dimas
“bapak-bapak kepala botak tadi
kepala sekolah kami disekolah sihir ini”
ucap laki-laki itu menjelaskan.
“hah, sekolah shir. Yang benar
saja, ini bukan novel Harry potter. Oh ayolah ini bukan negeri dongeng” ucapku tak percaya sambil tertawa remeh.
“tapi memang begitu kenyataanya” ucapnya
“benarkah, berarti kamu bisa terbang,
menghilang, dan memunculkan apa saja dari tanganmu” ucap Naila tak kalah
kaget
“ehm begitulah. Lalu kalian sendiri
kenapa bisa ada disini” tanya laki-laki
itu pada kami
“hanya sekedar lewat saja, kemudian
mampir kesini” kata ku
“ooh, tapi kaliankan perempuan.
Sangat berbahaya kalau masuk kesini”
ucapnya
“kenapa ?” tanya Naila
“entahlah,itu peraturan disekolah
ini kalau ketahuan kalian akan ditangkap”
ucapnya sambil menengok kekanan-kiri mungkin takut ada yang melihat kami
“benarkah kalau begitu kita harus segera
pulang. Oh ya, kenalkan aku Dimas, dia Naila dan ini Raisa” ucap Dimas
memperkenalkan diri
“DISANA... PENYUSUP IT ADA DISANA” teriakan itu membuat kami kaget.
Mendengar
teriakan itu kami segera berlari agar orang itu tidak menangkap kami. Kugenggam
terus tangan Naila dan laki-laki yang tadi menabrakku, dia berusaha menuntun
kami menuju gerbang depan.
“apa yang terjadi. Apa kami
ketahuan?” ucapku sambil terus
berlari
“tentu saja. Kalau tidak, tidak
mungkin mereka mengejar kita”
kata laki-laki itu panik.
“lalu kami harus bagaimana”ucap dimas tak kalah panik.
“kalian harus keluar dari sini
sebelum tertangkap” ucap laki-laki
itu
“aww, kaki ku” rintih Naila. Ia terjatuh
karena salah satu anak panah mengenai kakinya.Aku mencoba menolongnya, tapi
orang-orang yang mengejar kami semakin dekat.
“apa yang kau lakukan, cepat lari
sebelum gerbang itu benar-benar tertutup”
kata laki-laki yang bersama kami tadi sambil menarik tanganku dan dimas
“bagaimana bisa aku meninggalkannya
sendirian, dia sahabatku” kataku sambil
melepaskan tangan laki-laki itu
“sudah tak ada waktu lagi” laki-laki itu menarikku dan Dimas pergi.
“apa yang kau lakukan. Aku tidak
akan meninggalkannya” kata Dimas
melepaskan tangan laki-laki itu kemudian mengampiri Naila. Namun sayang semua
sudah terlambat dengan mendekatnya Diman sama artinya dengan Ia menyerahkan
nyawanya pada orang-orang yang mengejar kami itu.
“ayo cepat” laki-laki ini lagi-lagi menarikku. Aku hanya pasrah
dan bisa menangis melihat sahabatku ditangkap oleh orang-orang itu.
“DISANA, PENGHIANAT ITU DISANA” teriak orang-orang itu semakin keras dan kami hampir mendekati gerbang.
“awas” teriak laki-laki ini kemudian menggeser tubuhku dan
menjadikan dirinya sebagai perisaiku , panah-panah dari orang-orang yang
mengejar kami tadi mengenai belakangnya. Dia terjatuh saat panah keenam tepat
mengenai belakang dadanya,
“cepat kau pergi Raisa” ucapnya sambil menahan rasa sakit.
“mana bisa aku meninggalkanmu
sendrian” ucapku.
Aku tak tahu apa yang harus
kulakukan, aku takut pulang sedirian. Apa yang harus kuceritakan nanti pada
orang tua Naila dan Dimas, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang
selain menangis didepan mayat seorang yang aku sendiri tidak tahu siapa
namanya. Orang-orang yang mengejar kami tadi semakin mendekat, aku pasrah tidak
apa-apa kalau aku harus ditangkap dan mati bersama teman-temanku yang lain. Ku
pejamkan mataku, aku sudah siapa jika mereka memanahku dari belakang. Aku sudah
siap mati disini.
“Raisa,,Raisa,,Raisa” sesorang memanggil namaku. Aku kenal suara ini,
suara ka Danny. Kucoba membuka mataku perlahan, kulihat sekelilingku tampat
yang sangat Familiar untukku “kamarku”
batinku.
“cepat bangun, apa kau tidak sekolah
hari ini” teriak ka Danny
membuatku kaget, dan segera melompat kekamar mandi.
“untunglah yang tadi malam itu
hanya Mimpi” ucapku lega, kemudian
berangkat kesekolah.
Aku seger mencari Naila dan Dimas
untuk mamastikan bahwa mereka benar-benar baik-baik saja.
“Naila,,, Dimas” teriakku saat aku menemukan mereka didepan kelas
dan aku segera memeluk mereka.
“hey, lepaskan” teriak dimas bingung.
“kau kenapa ?” ucap Naila tak kalah bingung. Aku hanya tersenyum
lega menaggapi kebingungan mereka.
“Brukk” lagi-lagi aku menabrak orang
“kau tak apa-apa Raisa” ucap orang yang menabrakku ini sambil membantuku
berdiri
“kau.....” ucapku heran saat melihat wajah orang yang kutabrak
tadi,tak salah lagi dia adalah laki-laki yang tadi malam ada dimimpiku. Aku hanya bisa melongo tak percaya kenapa aku
bisa bertemu dengannya lagi dan ia tahu siapa namaku. “Apa jangan-jangan ini juga sebenarnya bagian dari mimpi ?”
batinku.
~The END~