Senin, 15 September 2014

cerpen, misteri gedung belakang sekolah



Misteri gedung belakang Sekolah
Oleh : Risma Fitriyana
           
Pagi ini aku begitu bersemangat untuk berangkat kesekolah bersama sahabatku namanya Naila. Sejak beberapa hari terakhir sekolah kami dihebohkan oleh berita bahwa gedung belakang sekolah kami adalah sebuah gedung tempat belajar para makhluk halus, gedung itu dulunya adalah sekolah untuk anak laki-laki orang belanda. Tapi berita itu hanya kabar angin yang diceritakan dari mulut kemulut yang belum tentu kebenarannya.
            “teng...teng...teng..” bel tanda pulang telah berbunyi para siswa dan siswi berhamburan keluar kelas untuk segera pulang kerumah, tapi hari ini aku dan Naila rencananya akan pergi kegedung dibelakang sekolah untuk menyelidiki kebenaran berita yang telah menyebar luas dikalangan para siswa.
“ayo kita harus segera kesana Ray sebelum si Idiot Dimas itu melihat kita” celoteh Naila sambil menarik tanganku sepertinya dia sangat tidak ingin kalau Dimas ikut dalam rencana ini.
“percuma kita cepat-cepat nay, dia sudah disana” kataku sambil menunjuk Dimas yang sudah berdiri didepan pintu sambil melambaikan tangannnya kearah kami.
“huh, aku tak yakin rencana kita akan berjalan lancar” keluh Naila sambil memukul-mukul kepalanya dengan pelan. Ia menyesal.
“ku dengar dari Ajeng hari ini kalian akan kegedung belakang sekolah kita ya ?” ucap Dimas sambil berjalan mengampiri kami.
“tidak, kami ingin segera pulang kan Raisa” ucap Naila ketus.
Sudah kuduga kalau kami bercerita sesuatu pada si tukang gosip ajeng itu satu sekolah pasti akan segera tahu dalam hitungan hari bahkan jam. Aku jadi heran bagaimana caranya anak itu menyebarkan informasi orang dengan sangat cepat.
“kau jangan bohong, kalau kau bohong kecantikanmu akan pudar princess Naila” kata Dimas. Jurus gombalnya telah keluar, aku jadi merinding mendengarnya pantas saja Naila tidak suka dengannya. Gayanya berlebihan.
“sudahlah kalau kau mau ikut jaga sikapmu” ucapku sambil menarik tangan Naila.
            Kami bertigapun segera menuju gedung yang ada dibelakang sekolah kami, setelah bersusah payah akhirnya kami bisa masuk dengan menaiki pagar besi yang mengelilingi gedung tua ini. Gedung ini memang sangat besar dan menyeramkan. Suhunya lembab, banyak sarang laba-laba disana-sini, debunya sangat tebal serta tikus dan kecoa yang berlarian menemani jalan-jalan kami disini. Yang aku heran kenapa gedung tak berpenghuni ini tidak di hancurkan saja, bukankah lebih baik begitu daripada dibiarkan tidak terawat seperti ini.
            Naila sudah mulai ketakutan kami mencoba memasuki satu persatu ruangan yang ada digedung ini. Gedung ini memiliki banyak ruangan dan tepat diatas pintu masuk setiap ruangan ada semacam papan bertuliskan huruf-huruf yang tidak aku mengerti, mungkin bertuliskan nama kelas seperti disekolah ku misalnya kelas X , XI, XII, Ipa, Ips, Bahasa dan lainnya entahlah, aku tak mengerti.
“gdbuk”
“suara apa itu ?” kata Dimas saat mendengar suara benda yang dihentakkan. Ia mulai panik sambil menengok karah kanan dan kiri mencari sumber bunyinya.
“sebaiknya kita pulang saja, aku takut nih” kata Naila semakin ketakutan.
Kami segera keluar dari salah satu ruangan yang kami masuki, saat kami keluar aku melihat seseorang didalam gedung ini selain kami bertiga.
disana ada orang” kataku sambil menarik kedua temanku untuk mengejar orang yang kulihat tadi.
“sudahlah Raisa, tidak mungkin ada orang lain selain kita disini. Sebaiknya kita pulang saja kasihan Naila” kata dimas menghentikanku.
“aku yakin sekali tadi ada orang disana, aku melihatnya dengan jelas. Aku juga melihat wajahnya”  kataku meyakinkan.
“kalau begitu kau cari saja sendiri, aku tidak mau. Aku ingin pulang” kata Naila menarik Dimas pergi.
“iya, iya kita pulang” kataku pasrah sambil mengejar dua temanku itu, tidak mungkin aku pergi sendirian aku juga takut.
            Malamnya, aku masih termenung dimeja belajarku sambil memikirkan orang yang aku lihat digedung tua itu. Aku yakin disana ada orang, tidak salah lagi. Kutengok jam dinding dikamarku masih menunjukkan pukul 9 malam, andai saja tadi Naila dan Dimas tidak mengajakku pulang aku pasti sudah tahu siapa orang yang aku lihat tadi. Mataku sudah mulai mengantuk tapi aku enggan untuk tidur aku masih ingin menulis semua yang aku lihat tadi dibuku harianku.
tok,tok,tok” seseorang mengetuk jendela kamarku.
“siapa ?” ucapku pelan sambil mengintip keluar jendela kamarku.
“Dimas dan Naila”
“ooh, kalian rupanya, kenapa malam-malam begini kesini” ucapku setelah membuka jendela kamarku.
“kami punya kabar bagus untukmu” kata Dimas yang masih diluar
“apa ? jangan bilang kalau kalian pacaran” kataku sedikit meremehkan berita dari Dimas.
“bukan, tadi kami melewati gedung Tua itu. Disana sangat Ramai” ucap Naila
“bagaimana kalau sekarang kita kesana ?” ucap Dimas bersemangat
“sekarang ? maksudmu malam ini ?” aku kaget mendengar ajakan mereka, apa yang terjadi bukankah tadi siang mereka sangat takut. Lalu kenapa sekarang malah bersemangat untuk kesana.
“tentu saja kapan lagi” kata Dimas
“baiklah, tunggu aku diluar aku ambil jaket dulu”ucapku sambil mengambil jaket hijau bergaris kesayanganku.
            Kami bertigapun segera kegendung tua itu dan benar disana sangat ramai, sama seperti biasanya disekolah kami. Banyak anak yang datang ada yang jalan kaki, bersepeda, diantar dengan mobil dan ada yang datang dengan terbang memakai sapu. Yang benar saja. Kami pun ikut masuk kedalam, yang aku heran sejak tadi yang aku lihat adalah anak laki-laki tidak ada seorangpun perempuan kecuali aku dan Naila. Aku terkagum-kagum melihat arsitektur bangunan ini sangatlah jauh berbeda dengan siang tadi tapi masih tetap dengan suasana seramnya.
“Bruk” seseorang menabrakku
maaf” ucapnya
“kau”
“cepat sembunyi” orang ini menariku, Dimas dan Naila masuk kedalam sebuah ruangan.
            Kuperhatikan wajahnya,tak salah lagi orang ini yang aku lihat siang tadi. Tapi aku tidak tahu kalau tingginya sekitar 170 cm, tapi tubuhnya persis sama. Ternyata dia sangat tampan bentuk wajahnya oval, matanya tidak galak juga tidak sipit, kulitnya putih, mungkin dia lebih mirip Luhan Exo jika model rambutnya sama.
“kenapa kalian ada disini. Kalian bukan murid disini kan ?” tanyanya
a,a,anu.. itu.aa” kata Dimas gagap tak bisa menjawab
“cepat bersembunyi kebawah meja, Prof. Van Dev datang” katanya mengagetkan kami, ia meminta kami bersembunyi lagi
“tadi saya lihat kamu bicara dengan seseorang. Siapa ?” tanya laki-laki bertubuh besar dan berkepala botak di bagian ubun-ubunnya yang baru saja datang.
“ah, itu tadi saya lagi latihan drama pak”kata laki-laki yang menabrakku tadi.
Entah apa yang mereka bicarakan kemudian aku tidak mendengarnya sampai laki-laki botak itu akhirnya pergi.
“sudah aman, kalian bisa keluar”
“hoahh, leganya. Aku boleh tanya tidak ?” kata dimas setelah keluar dari bawah meja.
“tanya apa ?” kata laki-laki itu
“orang tadi siapa ?, trus tempat ini tempat apa ?” tanya dimas
“bapak-bapak kepala botak tadi kepala sekolah kami disekolah sihir ini” ucap laki-laki itu menjelaskan.
“hah, sekolah shir. Yang benar saja, ini bukan novel Harry potter. Oh ayolah ini bukan negeri dongeng” ucapku tak percaya sambil tertawa remeh.
“tapi memang begitu kenyataanya” ucapnya
benarkah, berarti kamu bisa terbang, menghilang, dan memunculkan apa saja dari tanganmu” ucap Naila tak kalah kaget
“ehm begitulah. Lalu kalian sendiri kenapa bisa ada disini” tanya laki-laki itu pada kami
“hanya sekedar lewat saja, kemudian mampir kesini” kata ku
“ooh, tapi kaliankan perempuan. Sangat berbahaya kalau masuk kesini” ucapnya
“kenapa ?” tanya Naila
“entahlah,itu peraturan disekolah ini kalau ketahuan kalian akan ditangkap” ucapnya sambil menengok kekanan-kiri mungkin takut ada yang melihat kami
benarkah kalau begitu kita harus segera pulang. Oh ya, kenalkan aku Dimas, dia Naila dan ini Raisa” ucap Dimas memperkenalkan diri
“DISANA... PENYUSUP IT ADA DISANA” teriakan itu membuat kami kaget.
 Mendengar teriakan itu kami segera berlari agar orang itu tidak menangkap kami. Kugenggam terus tangan Naila dan laki-laki yang tadi menabrakku, dia berusaha menuntun kami menuju gerbang depan.
“apa yang terjadi. Apa kami ketahuan?” ucapku sambil terus berlari
“tentu saja. Kalau tidak, tidak mungkin mereka mengejar kita” kata laki-laki itu panik.
“lalu kami harus bagaimana”ucap dimas tak kalah panik.
“kalian harus keluar dari sini sebelum tertangkap” ucap laki-laki itu
aww, kaki ku” rintih Naila. Ia terjatuh karena salah satu anak panah mengenai kakinya.Aku mencoba menolongnya, tapi orang-orang yang mengejar kami semakin dekat.
“apa yang kau lakukan, cepat lari sebelum gerbang itu benar-benar tertutup” kata laki-laki yang bersama kami tadi sambil menarik tanganku dan dimas
“bagaimana bisa aku meninggalkannya sendirian, dia sahabatku” kataku sambil melepaskan tangan laki-laki itu
“sudah tak ada waktu lagi” laki-laki itu menarikku dan Dimas pergi.
“apa yang kau lakukan. Aku tidak akan meninggalkannya” kata Dimas melepaskan tangan laki-laki itu kemudian mengampiri Naila. Namun sayang semua sudah terlambat dengan mendekatnya Diman sama artinya dengan Ia menyerahkan nyawanya pada orang-orang yang mengejar kami itu.
“ayo cepat” laki-laki ini lagi-lagi menarikku. Aku hanya pasrah dan bisa menangis melihat sahabatku ditangkap oleh orang-orang itu.
“DISANA, PENGHIANAT ITU DISANA” teriak orang-orang itu semakin keras  dan kami hampir mendekati gerbang.
“awas” teriak laki-laki ini kemudian menggeser tubuhku dan menjadikan dirinya sebagai perisaiku , panah-panah dari orang-orang yang mengejar kami tadi mengenai belakangnya. Dia terjatuh saat panah keenam tepat mengenai belakang dadanya,
“cepat kau pergi Raisa” ucapnya sambil menahan rasa sakit.
“mana bisa aku meninggalkanmu sendrian” ucapku.
            Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, aku takut pulang sedirian. Apa yang harus kuceritakan nanti pada orang tua Naila dan Dimas, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang selain menangis didepan mayat seorang yang aku sendiri tidak tahu siapa namanya. Orang-orang yang mengejar kami tadi semakin mendekat, aku pasrah tidak apa-apa kalau aku harus ditangkap dan mati bersama teman-temanku yang lain. Ku pejamkan mataku, aku sudah siapa jika mereka memanahku dari belakang. Aku sudah siap mati disini.
“Raisa,,Raisa,,Raisa” sesorang memanggil namaku. Aku kenal suara ini, suara ka Danny. Kucoba membuka mataku perlahan, kulihat sekelilingku tampat yang sangat Familiar untukku “kamarku” batinku.
“cepat bangun, apa kau tidak sekolah hari ini” teriak ka Danny membuatku kaget, dan segera melompat kekamar mandi.
“untunglah yang tadi malam itu hanya Mimpi” ucapku lega, kemudian berangkat kesekolah.
            Aku seger mencari Naila dan Dimas untuk mamastikan bahwa mereka benar-benar baik-baik saja.
“Naila,,, Dimas” teriakku saat aku menemukan mereka didepan kelas dan aku segera memeluk mereka.
“hey, lepaskan” teriak dimas bingung.
“kau kenapa ?” ucap Naila tak kalah bingung. Aku hanya tersenyum lega menaggapi kebingungan mereka.
“Brukk” lagi-lagi aku menabrak orang
“kau tak apa-apa Raisa” ucap orang yang menabrakku ini sambil membantuku berdiri
“kau.....” ucapku heran saat melihat wajah orang yang kutabrak tadi,tak salah lagi dia adalah laki-laki yang tadi malam ada dimimpiku.  Aku hanya bisa melongo tak percaya kenapa aku bisa bertemu dengannya lagi dan ia tahu siapa namaku. “Apa jangan-jangan ini juga sebenarnya bagian dari mimpi ?” batinku.


~The END~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar