Rabu, 03 Desember 2014

ELDORADO




oleh ; Risma Fitriyana


Angin malam masih tidak berhenti bermain disekitar horden, sesekali menyusup ketubuh layu yang masih berusaha tegak. Tangannya bergerak dengan cepat mengambil selimut yang terjatuh disampingnya sebelum dingin membalut tubuhnya dan membuat efek malas yang sejak tadi menggerogotinya. Diluar sedang gerimis, seharusnya ini adalah saat yang pas untuk bermalas-malasan. Bahkan Laron-laronpun dengan enggan terbang menuju sinar lampu yang temaran karena hawa dingin yang mencekam.

            Didalam sinaran lampu neon yang keemasan jari-jari lentik itu masih lihai bermain di keyboart notebook yang sejak tadi dinyalakan. Beberapa kali tangan-tangan itu mengucek mata yang sudah mulai lelah, sekali lagi angin malam mendesir menerbangkan horden-horden berwarna terang hingga terlihat seolah ada yang dengan sengaja menariknya. Suara jendela yang ikut berdecit, ditambah lagi dengan suara-suara piring dan sendok yang jatuh karena ulah tikus-tikus liar yang mencari makan dari dapur seolah menambah susana mistis diruangan itu. Deretan buku-buku usang tertata rapi di atas rak besi berwarna perak mengkilat disamping tempat tidur sedangkan beberapa yang lainnya terlihat diletakkan begitu saja diatas meja kayu jati . Tiga pasang mata masih berusaha menahan rasa kantuk, sesekali mengerjap kemudian menutup, lebih lama. Kemudian segera membuka kembali. Ya mereka adalah Elena, Azura dan Victoria. 

“bagaimana, apa sudah temukan caranya ?” Victoria bertanya sambil memalingkan wajahnya hingga rambut pirang panjangnya mengibas dengan cepat.

“sudah, tapi ini aneh”

“aneh kenapa ?”

“entahlah, hanya saja. Aku rasa ini tidak seperti cara yang kemarin kita baca”

“bagaimana mungkin, bagaimana menurutmu ini Elena”

Elena mengangguk pelan kemudian menarik nafasnya berat, angin berhebus dengan peralahan dari hidungnya. Tangannya bergerak mengambil coklat panas yang dibuat ibunya sejak tadi. Kemudian ia bergerak malas menuju tempat tidurnya. Sejenak ia memejamkan matanya kembali, hanyut dalam nyanyian malam yang sepi dan dingin.

“kita bisa melakukannya, lagipula ini hanya permainan pikiran kan ?” suaranya terdengar tegas dan meyakinkan.

“ya, kurasa tak ada salahnya kita mencoba terlebih dahulu”

“bagaimana dengan Lilin dan benang merahnya. Apa kalian memilikinya ?”

“jangan khawatirkan tentang itu, semuanya ada didalam laci kayu”
 Gadis berambut pirang sebahu itu berjalan malas menuju laci kayu yang ada disebrang meja,
tangannya menggapai dengan lembut beberapa batang lilin putih dan sepintal benar wol merah.

“baiklah, Victoria bisa kau bacakan langkah-langkannya”

“hanya dimerlukan 3 batang lilin putih dan meletakkannya di samping tangan kanan pastikan lilin-lilin itu menyala. Gunakan selehai benang merah untuk mengikatnya dipergelangan tangan kiri kalian. Dan pastikan juga hanya ada cahaya lilin yang menjadi satu-satunya penerangan disana...”

“cukup Victori, sisanya kita hanya perlu berbaring dan konsentrasikan ?”

Kedua pasang mata saling berpandangan, kemudia mengangguk pelan bersamaan. Elena bergerak menuju sakelar lampu yang ada di balik pintu, cahaya lampu neon keemasan yang menerangi tempat itu padam dalam sekejap. Tangannya bergerak dengan cepat menyalakan lilin-lilin putih yang berdiri tegak disamping mereka.

“bersiaplah, akan ada banyak makhluk alam bunian yang akan mengganggu kita nantinya”


 Ketiganya berbaring didalam sinaran lilin yang samar, tubuh mereka menyatu dengan lantai kayu tua yang dibuat oleh kakek buyut Elena pertengahan abab ke 18 belas. Cukup lama untuk bisa bertahan dari kelapukan. Mata-mata itu sesekali mengerjap, kemudian kembali terpejam. Cukup lama, genggaman tangan-tangan kurus dan layu itu terlihat kuat, bibir mereka perlahan bergerak seolah membacakan sebuah mantra untuk menuju dunia baru yang telah lama mereka bicarakan.

Perlahan kepala mereka bergoyang seolah mencari sumber penerang yang menghilang, lilin-lilin itu meleleh dengan lambat bergoyang saat semilir lembut angin menyentuh namun tetap menyala. Mereka menyebut hal yang mereka lakukan adalah astral projection, dimana seharusnya pikiran dan alam bawah sadar merekalah yang bekerja menciptakan dan membentuk tubuh astral untuk mereka sendiri yang akan digunakan menjelajahi tempat-tempat Fantasi yang mereka buat. Elena merasakan tubuhnya semakin ringan dan perlahan melayang, matanya terasa semakin berat namun ia dapat melihat tubuhnya dan kedua temannya serta benda disekitarnya dengan detail, ia telah mencapai titik puncak sedetik kemudian dia sudah berada ditempat gelap, tak ada cahaya, tak ada apa-apa yang ada hanya sebuah kegelapan. 

Dengan pelan kaki kurusnya berjalan mundur , perlahan ia menemukan cahaya sejenak ia menutup rapat matanya menghindari penyinaran  yang mendadak menyilaukannya. Keningnya berkerut, ia menapaki tanah basah dan lembap sesekali kakinya tergores oleh ranting-ranting rapuh  yang berjatuhan.

 Matanya menyiratkan kekaguman deretan pohon-pohon oak dengan berbagai jenis, salah satunya oak hitons setinggi 67 kaki berjejer rapi. oak Mayor yang biasanya hanya tumbuh dipotugis, spanyol dan maroko tumbuh subur ditempat itu, batangnya kokoh, daun yang rindang dan anggun serta untai panjang cabang-cabangnya yang besar, benar-benar merupakan keindahan alam yang amat mempesona. Keriap rerimbunan pohon oak adalah langgam harmoni senar-senar gitar yang perlahan mendesir mengerluarkan bunyi-bunyi sakral disaat angin menghembusnya perlahan, pohon-pohon willow dengan daun hijau menjuntainya yang hampir meyentuh permukaan tanah yang basah menjadikan tempat itu bak sebuah lukisan yang agung . Serta puluhan pohon mpingo yang tumbuh subur ditempat itu ditambah lagi pohon-pohon maple yang menerbangkan daun-daun jingganya ketanah. Tempat itu adalah keajaiban.

“kau lihat pohon mpingo itu, butuh waktu 70-200 tahun untuk menjadi dewasa dan tingginya hanya mencapai 9 kaki, tapi disini tingginya hampir mencapai 20 kaki”

“benar, pohon-pohon willow itu lebih indah dari yang kupikirkan Elena”

Elena menarik nafas dengan cepat dadanya naik turun seolah ia baru saja berlari menuju tempat itu.

“kalian menciptakan tempat yang tepat” ia berucap matanya tak berhenti membuka

“aku tidak memikirkan tentang tempat ini sejak tadi”

“Aku juga tidak Azura, kupikir kalian berdua yang memikirkannya”

Tatapan heran mereka bertemu, kening mereka berkerut Elena menatap tajam Azura dan Victoria. Tangannya dengan ringan menggapai daun-daun maple yang berjatuhan didepan mereka.

“ini Hutan yang menakjubkan, apa kalian yakin kalau yang kita lakukan tadi adalah astral projection ?”
“entahlah, kau juga merasakan keanehannya Elena” 

Ia mengangguk pelan, sejenak ia ragu namun kemudian menghilang setelah setetes salju yang mencair mengenai wajahnya.
 
“lupakan tentang keanehan itu Elena, Victoria. Tempat apapun ini kita nikmati saja, tempat ini adalah keajaiban teman”

Kaki-kaki kurus tanpa alas itu berjalan perlahan meninggalkan tempat mereka berdiri, tetes salju yang mencair sebelum mencapai tanah membuat suhu udara disana menjadi lembab dan dingin. Tidak jauh mereka berjalan mereka sudah menemukan Sabana dan Steppa yang menakjubkan, hamparan permadani hijau telah digelar di lapangan luas itu disana hanya terdapat beberapa pohon akasia yang menjulang kelangit.

Lagi, mereka kembali berdecak kagum. Deru napas mereka beradu dengan cepat, beberapa kali dada mereka naik turun menarik dan membuang nafas secara bersamaan. Tangan-tangan kecil mereka tak berhenti bermain dirumput-rumput setinggi pinggang mereka.

“bagaimana bisa Hutan gugur dan Sabana bersebelahan seperti ini” bibir merah kecilnya kembali menanyakan hal-hal yang meragukan. 

“ini dunia Astral Elena, ini hanya hayalan” 

“tidak kurasa Azura, ini real. Nyata. Kau bisa merasakannya Elena ?”

Ia mengangguk, sebuah kebenaran bersanding dengan kebohongan apa jadinya. Mereka melakukan perjalanan astral tapi tempat itu terlihat sangat nyata dan jelas. 

“kau tau Victori, dalam astral projection kita juga membawa kelima indra kita. Mereka ikut berperan itulah yang membuatnya tampak nyata” 

Elena diam meresapi setiap kata-kata Azura mencerna dengan baik kemudian mengangguk ia mengerti, tentang apa yang ada dipikiran temannya. 

Cukup lama mereka terdiam, berdiri, duduk kemudian berdiri lagi tak ada yang dapat mereka lakukan lagi. Selain diam sambil menatap rumput-rumput hijau yang bergoyang disampu oleh angin musim yang tidak jelas arah kedatangannya. Langkah mereka kembali mundur, memasuki hutan gugur menakjubkan dengan deretan pohon-pohon yang mereka kagumi. 
 
Mereka terdiam, ranting-ranting rapuh yang berjatuhan bagaikan jari-jemari penari bali yang bergoyang memenuhi pijakan. Kaki mereka terluka dan tergores tapi tidak terasa sakit, lembaran daun maple seolah menjadikan jalan mereka terasa nyaman dan hangat. Gumpalan-gumpalan salju putih mulai berjatuhan perlahan, mereka merasakan pergantian musim di dunia khayalan buatan itu. Genggaman tangan mereka semakin erat, rasa dingin mulai menyelinap ketubuh-tubuh layu yang masih berdiri tegak itu. Semilir angin membawa aroma bunga Gardenia yang memikat, bunga putih indah yang menjadi lambang kesucian bagi bangsa Romawi pada masa silam.

“kita datang diwaktu yang tepat, bahkan disini juga terjadi pergantian musim”

“bagaimana bisa dibilang tepat, kita datang di saat musim dingin tiba”

Elena menarik nafasnya dalam, kepalanya menggelang pelan melihat pertikaian kecil Victoria dan Azura. Ia memicingkan matanya menatap tajam kebalik pohon oak jepang yang berada tak jauh dari mereka, disaat bersamaan angin hangat mengalir lembut dari tempat itu melewati mereka. Elena menatap semakin tajam, orang itu mulai berjalan mendekat.

“kau yang memikirkannya Azura” 

“bukan, mungkin Elena”

Elena kembali menggeleng, keningnya berkerut mengikuti langkah ringan orang dengan jubah merah maroon yang mendekat kearah mereka. Lagi, ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dengan keras.

“aku tidak pernah memikirkan orang misterius itu teman-teman. Ini bukan tipe ku, sungguh”

Elena bicara sambil menggeleng, bukan gayanya memikirkan orang-orang aneh yang tak membawa keuntungan untuknya. Saat ini terutama. Orang itu kembali mendekat, semakin dekat kakinya terasa ringan semakin dekat angin hangat semakin terasa, mengalir disekeliling tubuh tiga gadis yang diam membisu.

“sudah berapa lama kalian berada disini ?”

“untuk apa kau bertanya orang berjubah ?”

“pulanglah, banyak yang mengincar raga kalian”

Elena menyiritkan keningnya, menatap tajam kaki orang asing dengan jubah merah maroon yang tak juga memperlihatkan wajahnya. Kaki orang itu tidak benar-benar menginjak ditanah, ia melayang sekitar beberapa centi dari tanah.

“apa maksudmu ?”
Elena bicara, orang itu tak menjawab tangannya bergerak melepaskan jubah yang menutup wajahnya. Sesosok pria dengan wajah  perpaduan asia-eropa muncul dengan senyum mengembang giginya berjejer rapi. Pria itu mengerutkan keningnya.

“kalian tak mengerti, kalau kalian terlambat kembali kalian akan terperangkap disini”

“kami benar-benar tak mengerti dengan apa yang kau bicarakan..”

“Chris, panggil aku Chris”

“ya oke, Chris. Kalau kami terperangkap disini tidak masalah. Ini tempat yang bagus”

“Victori, jaga bicaramu”
 Azura angkat bicara, matanya mengikuti Elena. Mentap tajam sosok yang ada didepannya. Takut, berubah menjadi sebuah keraguan.

“Eldorado tidak seperti yang kalian lihat, disini penuh tipuan”

Tempat itu, tempat menakjubkan itu bernama Eldorado. Nama yang tepat menggambarkan sebuah tempat yang penuh dengan keajaiban menakjubkan.

“kau sendiri kenapa tak pulang”

“ini tempat tinggalku, disana dibalik gunung disebelah barat sabana ada kerajaan disana”

“kerajaan ?, dimana rakyat-rakyatnya tinggal. Sejak tadi aku tidak melihat seorang pun disini selain kau Chris”

“Eldorado dalam masalah. Sepertinya saudaraku memanggil orang yang salah”

“apa maksudmu”

“pulanglah, tak ada gunanya aku bercerita pada kalian”

“tapi temanmu yang memanggil kami kesini”

Elena mencengkram kuat sebuat tangan dibalik jubah, keras dan egois. Elena tak terima, ia terjebak dalam tempat menakjubkan benama Eldorado tapi tidak diberi kesempatan untuk diberi tahu. Jelas itu bukan sebuah keadilan, jika tempat itu berbahaya maka mereka bertigalah yang akan terluka.segera. Matanya menatap tajam, kepalanya menggeleng tetes air berjatuhan dari rambut pirang sebahunya yang basah karena salju. Sekali lagi, sebuah hembusan nafas kasar keluar dari hidungnya.

“ikuti aku, ada banyak hal yang harus kalian ketahui tentang tempat ini”

Ketiga kepala itu mengangguk bersamaan, melangkah pelan mengikuti intruksi. Mata mereka berjuang tak berkedip agar tak menyapu bersih lukisan hidup di disamping mereka, puluhan bahkan ratusan pohon cemara kipas melambai menyambut langkah kaki dan deru napas yang terus beradu dipadukan dengan deretan pohon akasia menjulang bagaikan tangan-tangan kurus mayat korban peperangan, ranting-ranting nya menyeruak seperti jemari pemain gitar yang berusa memetik senar gitar yang dibuat oleh angin membentuk sebuah harmoni musik kehidupan yang menakjubkan.

Ketiga pasang mata itu semakin tercengan, bibir-bibir kecil itu diam seribu bahasa hanya kekaguman, ya hanya kekaguman yang terlintas saat ratusan jenis bunga terhampar di depan mereka. Menyeruak membentuk sebuah fondasi kehidupan dengan keindahannya yang tak terperikan. Juataan warna terkumpul, kontras seharusnya. Tapi vibrasi-vibrasi warna itu membentuk sebuah formasi keindahan tentang kenyamanan dan kesucian. Bunga lily of the velly menampakan keindahannya,putih bersih menggantung diantara batang-batang kurus yang menjadi tempatnya hidup. Serta oleander merah jambu yang bermekaran seakan membuat siapa saja tertarik memetiknya. Dan puluhan jenis rose, sweet pea, jasmine, frangifani, wisteria dan ratusan jenis bunga yang lain bahkan bunga choclate cosmos yang telah dianggap punah ratusan tahun lalu tumbuh subur disini.

“jangan pernah tertipu, mereka memang cantik tapi menyimpan racun yang mematikan”

Suara itu, bukan sebuah peringatan tapi kalimat penyadaran tentang keindahan yang mereka lihat bukanlah satu-satunya yang akan mereka rasakan. Salah melangkah sedikit bunga-bunga indah dan cantik itu akan membunuh mereka dengan kejam.

“tempat tinggalku, masuklah” tangan putih kurus itu menunjukkan tempat tinggalnya, satu pohon oak besar ditengah hamparan bunga. 

“kau tinggal disini Chris ?”

Sebuah pertanyaan meragukan dari ketiga orang asing yang pertama kali menginjakkan kakinya di Eldorado. Laki-laki berjubah itu mengangguk, sebuah senyum bangga terukir diwajah putihnya. Tangannya bergerak menyentuh kulit pohon oak besar didepannya bibirnya bergerak membaca sesuatu, sebuah mantra. Pintu terbuka langkah kaki ringan masuk dengan tenang tanpa ketakutan, keraguan namun penuh kecanggungan.
Ketiga gadis remaja itu mencoba menghirup udara dengan cepat lewat mulut mereka seolah mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan oksigen dan menghembuskannya dengan cepat, berulang kali mereka melakukannya.

“ini menakjubkan”

Lagi sebuah kekaguman menyelimuti mereka, deretan meja, kursi dan lemari yang terbuat dari kayu pohon oak yang biasanya banyak ditemukan dirumah-rumah tua inggris yang megah dan bergaya tudor dan Victoria tersusun disana. Deretan buku-buku usang berwarna kuning tertata rapi disekeliling mereka serta lukisan-lukisan kuno terpajang memenuhi ruangan.

“Chris simbol apa itu ?”

Elena memalingkan wajah kearah salah satu gambar yang ditunjuk oleh Victoria, gambar 12 simbol yang berjejer mengelilingi sebuah bunga Edelweis. Seperti deretan rapi planet-planet yang mengelilingi matahari. 12 simbol yang terlukis didalam selembar kertas kayu tua yang sudah menguning.

“itu simbol kekuatan Eldorado, setiap simbol melambangkan satu kekuatan.”

 Tangan laki-laki itu bergerak melepas gambar  dari dinding dan meletakkannya diatas meja kayu, langkahnya terhenti diantara deretan buku-buku tua miliknya. Jarinya bermain diujung buku, bibirnya bergerak mengeja satu persatu judul buku-buku itu. Tangannya terhenti disalah satu buku tua dengan sampul coklat kusam.

“ini dia, 12 simbol kekuatan Eldorado. pertama Teleportation, yaitu kekuatan untuk berpindah tempat dalam waktu yg ditentukan oleh pemilik kekuatan. Pyrokinetis disimbolkan dengan Phoenix  identik degan api, yaitu kekutan pikiran untuk mengendalikan api. Simbol dloplet/ tetes air disebut Hydrokinesis adalah kekuatan mengendalikan air. Terrakinesis disimbolkan dengan semut yaitu kemampuan pikiran untuk mengendalikan unsur bumi. Simbol Matahari melambangkan cahaya. Yaitu pengendali cahaya disebut Lunarkinesis. Ini, lambang seorang pengendali udara yang disebut Aerokinesis. Kekutan mengendalikan suatu benda dengan mind power, disebutnya Telekinesis. Simbol selanjutnya Dragon api kekuatannya  bisa terbang/lawan gravitasi nama kekuatannya Levitation. Simbol pegasus ini nunjukkin kalau kekuatan itu kepulihan. Nama kekuatannya disebut Vitakinesis. Maksud dari kepulihan itu, kembali sehat, jadi pemilik lambang ini bisa menyembuhkan apa-apa yang sakit/layu. Simbol Hourglass, itu jam pasir. Kekuatannya sendiri adalah time controller, lebih tepatnya Chronokinesis. Simbol Lighting (Scorpion) kekuatannya adalah mengendalikan petir (lightning/thunder), disebutnya Electrokonesis. terakhir simbol Frost menunjukan kalau pemiliknya memiliki kekuatan mengendalikan es, bisa membuat sekitarnya beku. Disebutnya Cryokinesis

Elena diam, keningnya mengkerut. Pikirannya masih melayang, mencoba memahami maksud setiap simbol-simbol yang di paparkan pria berjubah didepannya. matanya menatap tajam kerah tangan putih yang tertutup jubah panjang pemiliknya.

“apa kau pemilik kekuatan Levitation ?”

“darimana kau tau ?”

“simbol dipunggung tangan kirimu”

“ya kau benar”

“lalu simbol apa yang ada ditengah ini ?”

“itu simbol perlindungan dan keabadian. Pemiliknya masih belum ditemukan”

“apa maksudmu ?”

“sudah cukup. Dengar tempat ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Disini banyak makhluk yang hidup tanpa raga, kalian manusia akan menjadi incaran utama mereka. Jadi sekarang pulanglah sebelum makhluk-makhluk itu mengambil tubuh kalian. Aku harus mencari pemilik simbol bunga Edelweis itu”

“kau tidak bisa meminta kami pulang begitu saja, sebenarnya ada apa dengan Eldorado”

Elene,Victoria dan Azura menatap tajam pria didepannya. 

“penguasa kami berada didalam pengaruh mantra Hitam, 10 pemilik simbol masih terperangkap di penjara Eldorado mereka terpaksa mengikuti perintah, sedangkan aku dan saudaraku melarikan diri untuk mencari simbol terakhir agar kami bisa melawannya. Jadi kalian pulanglah, satu lagi. Jangan pernah percaya pada siapapun di Eldorado”

“apa Eldorado sebahaya itu ?” 

“kau meragukannya. Pergilah” 

Elena tersenyum. Kakinya melangkah keluar meninggalkan rumah menakjubkan didalam pohon oak mayor besar yang sempat menaunginya. tangannya bergerak cepat menarik kedua orang disampingnya Azura dan Victoria.

Perlahan kaki-kaki itu menjauh melewati deretan bunga-bunga indah yang membuat mereka terperangah, mereka berjalan tanpa bicara. Masing-masing mata mencoba meresapi keindahan yang mereka lihat dengan seksama. Terlalu banyak yang mereka lewatkan sejak tadi, semilir angin hangat kembali berhembus. Bukan dari Chris tapi benar-benar dari angin musim panas yang datang.

Kaki-kaki itu terhenti, mata Elena mengerjap. Tangannya mencengkam kuat kedua orang disampingnya, puluhan Dionaea muscipul, tanaman herbivora dengan ukuran besar berada didepannya. tingginya hampir menyamai tubuh mereka sepuluh kali lipat lebih tinggi dan besar dari yang mereka ketahui. 

“pelan-pelan mundur kebelakang” 

Elena mengangguk mengikuti intruksi Azura, berjalan pelan mundur kembali. Kemudian beralik dan mencoba untuk lari. Ia merasakan sesuatu merayap dikakinya. Terlambat, tanaman pemakan daging itu mengikat kakinya ia berontak Victoria dan Azura membantunya untuk lepas namun mereka juga diserang. Ketiganya panik, tubuh mereka bermandikan keringat. Mereka berusaha melepaskan tumbuhan-tumbuhan itu dari kaki kurus mereka. 

“Victoria kakimu..”

“tak apa, sudah lepas. Ayo lari lagi”

Nafas mereka tak beraturan, berkali-kali mereka mencoba untuk berhenti sejenak sekedar untuk menghirup oksigen. Cukup jauh mereka berlari, darah-darah segar mengalir dikaki kiri Victoria. Ya, kakinya tergigit oleh tumbuhan itu. Tidak parah hanya bekas yang cukup dalam akan segera terbentuk di kaki kurusnya.

“kau sungguh tak apa Victori ?”

“tak apa, hanya sedikit perih”

“kita kedanau itu dulu, bersihkan lukamu”

Langkah mereka beberiringan menuju danau besar berwarna bening, di dasarnya terlihat ratusan ikan berenang bebas didanau itu. Elena dan Azura membantu Victoria membersihkan kakinya yang terluka, kemudian membasuh wajah mereka dengan air didanau itu. Hangat, mereka merasakan airnya hangat dan menenangkan. Ada perasaan aneh yang Elena rasakan, bola matanya memutar seolah mencari sumber ketidak nyamanan yang ia rasakan.

“apa kalian merasa kalau kita sedang diawasi ?”

“entahlah, sepertinya” Azura merasakan hal yang sama

“lihat itu”

Pandangan mereka tertuju pada ribuan kupu-kupu hitam yang terbang melintas didepan mereka, tangan-tangan lemah itu melambai seolah ingin ikut terbang dan merasakan keramaian dan keakraban didalamnya. Seekor kupu-kupu mendekat, hinggap di jari-jari lentik Elene, hanya sebentar kemudian jatuh keatas tanah dan memudar sendirian. Mata mereka bertemu, heran. Apa yang terjadi dengan kupu-kupu hitam itu, tiba-tiba mati dan menghilang seakan ia baru saja hinggap ditempat beracun mematikan. Jari Elena. Nafas mereka kembali tak beraturan. 

“kalian membunuhnya”
 
Suara itu datang, penuh tuntutan dan kemarahan namun tetap tenang.
Elena, Azura dan Victoria berbalik menghadap sang pemilik suara. Seorang wanita dengan rambut panjang terurai mendekat, jubah putih panjangnya terhampar di tanah basah. Pipinya tirus, hidungnya mancung bak nonik-nonik rusia yang mempesona. Matanya menyiratkan ketidak sukaan.

“kami tak melakukan apa-apa, kupu-kupu itu yang mendekat dan tiba-tiba mati. Bagaimana bisa kami membunuhnya” 

Elena mengangguk, membenarkan pembelaan yang dituturkan Victoria. 

“tapi ia mati didepan kalian, tepat setelah hinggap ditanganmu” 

Elena menyiritkan keningnya, wajahnya merah tak terima dengan tuduhan tak masuk akal yang jelas mengada-ada baginya.

“baiklah lupakan tentang itu teman-teman, mungkin sebaiknya aku pergi dari sini”

Tatapan wanita itu berubah menjadi bersahabat, tidak bukan bersahabat tapi lebih tepatnya meremehkan. Seolah ia akan segera mendapatkan apa yang ia inginkan.

“jangan lepaskan benang merah ditangan kalian. Jika kalian ingin terus disini teman” 

Wanita itu menyeringai, sangat mengerikan perlahan menghilang disapu oleh angin musim yang berhembus lembut seperti hilangnya kupu-kupu hitam dijari Elena. Kebingungan, menyelimuti ketiga gadis yang masih berdiri ditepian danau yang tenang. 

“mungkin kita memang harus kembali sekarang”

Elena mengangguk, membenarkan saran Azura. Tangan-tangan layu itu kembali berpegangan sangat erat. Mata mereka kembali terpejam, lama. Bibir itu terus bergerak bersuara pelan menyadarkan diri mereka sendiri dari negeri buatan yang menakjubkan itu.

Lama, tak terjadi apa-apa mata-mata itu kembali membuka. Saling berpandangan heran, mereka masih berada ditempat itu ditepian danau kristal Eldorado. Rasa panik menyerang, kekaguman berubah menjadi sebuah ketakutan. Ketakutan akan tidak bisa kembali. Mata-mata itu menatap nanar, jari-jari itu berpegangan semakin kuat.

“apa yang terjadi”

“entahlah, kuharap kita tidak terperangkap disini”

Elena diam, ia masih tak bicara apa-apun, tangannya melepas genggaman dengan pelan. Kaki-kaki kurusnya menyelinap diantara rerumputan yang masih basah, tangannya bergerak mengambil sesuatu. ranting pohon blackwark berduri, kemudian kembali kebibir danau.

“kau dengar wanita tadi bicara apa ?”

“dia hanya bicara menuduh kita”

“bukan, yang terakhir”

Mata-mata itu berpandangan.

“ya, jangan lepaskan benang merah itu jika kalian ingin tetap disini”

Tangannya bergerak, mengayunkan ranting berduri untuk memutuskan benang merah ditangan Azura dan Victoria. Cukup lama, perlahan benang ditangan Victoria putus. Kemudian tangannya beralih ke benang pergelangan Azura, perlu perjuangan untuknya melepaskan ikat-ikatan itu darah-darah segar mengalir dari telapak tangan Elene. Ia menggenggam ranting berduri itu terlalu kuat, tidak sangat kuat. Azura terbebas, benangnya putus bercampur darah Elena.

“milikmu, yang terakhir”

Elena mengangguk, mengarahkan ranting itu ketangan kirinya. Sama sulitnya seperti milik Azura dan Victoria, matanya mengerjap menahan perih luka ditelapak tangannya. Darah segara semakin banyak mengalir, ikatannya semakin kuat Elena berusaha semakin keras. Perlahan butuh kesabaran benang itu akhirnya putus. Tangan-tangan itu kembali berpegangan. Mata-mata nanar itu saling berpandangan.

“ayo kita coba lagi”

Elena mengangguk, kemudian memejamkan matanya kembali. Bibir kecil itu kembali bergerak, bicara pelan untuk menemukan kesadaran. Perlahan Elena merasakan tubuhnya melayang, terguncang dan ia berada dalam kegelapan.

Ia tersenyum, senang akan pulang. Kembali menuju tubuhnya yang entah sudah berapa lama ia tinggalkan. Ia berjalan perlahan menyusuri lorong gelap yang dingin, sesuatu yang lembut ia rasakan merayap dikakinya. Kakinya terikat oleh benang-benang halus berwarna hitam, ia panik saat matanya bertemu dengan sepasang mata merah menyala, hanya itu yang dapat ia lihat pemilik mata itu mendorongnya hingga tersungkur. Elena bangkit kembali berlari diruang hampa penuh kekosongan, tubuhnya kembali melayang dan terguncang seberkas cahaya menyembul didepannya. Elena semakin mendekati cahaya itu, ia merasakan tubuhnya dihempaskan dengan keras. Ia bangun, darah segar keluar dari mulutnya. Tak lama ia muntah kembali darah kental menggumpal keluar lagi, kemudian berubah menjadi seekor kupu-kupu hitam yang terbang dan menghilang.

“Elena, kau tak apa”

Elena mengangguk, bibir Azura dan Victoria juga basah. Oleh darah. Mereka kembali ketubuh masing-masing. Mata Elena menatap tajam kaki Victoria, bekas gigitan tumbuhan Dionaea muscipul masih membekas dikakinya.

“Victori kakimu”

“tak apa, nanti juga akan hilang dalam beberapa hari”

“syukurlah, lihat benar merah itu ternyata juga putus disini”

Elena mengangguk perlahan, ia merasakan perih di telapak tangannya. 

“Elena, tanganmu”

“tak apa hanya luka kecil”

“bukan itu, pergelangan kirimu” 

Elena diam , menatap pergelangan kirinya. Nafasnya kembali tak teratur, berkali-kali ia menghirup dan mebuang nafas bersamaan. Dingin menyelimuti tubuhnya yang basah oleh keringat.

“kau simbol ketiga belas Elena, kau pemilik simbol Edelweis”

Elena masih diam, ia kaget dengan kenyataan baru yang ia dapatkan simbol bunga Edelwais perlidungan dan keabadian terukir di pergelangan tanggannya.

“Eldorado membutuhkanmu Elena, tempat ajaib itu membutuhkanmu”

“tidak Azura, tempat itu hampir membunuh ku, membunuh kita. Eldorado hanya hayalan, kau yang bilang itu kan”

“tidak, aku salah. Tempat itu nyata, real bukan hayalan atau mimpi”

“aku tidak akan pernah kesana lagi. Ini pertama dan terakhir kali. Biarlah Eldorado, tempat Keajaiban itu manjadi sebuah mimpi. Dan aku sudah bangun dari mimpiku”

“tapi Eldorado dalam bahaya, Chris dan saudara-saudaranya membutukanmu”

Elena menggeleng, menatap tajam Azura, tangannya bergerak menarik selimut bulu disampingnya.
Ditengah kebingungan yang melanda ketiganya, sepasang mata dengan intens menatap mereka. Sebuah seringai muncul dibalik jubah hitam yang berdiri diam disamping pintu, kemudian perlahan menghilang bersamaan dengan padamnya lilin yang tersentuh oleh angin yang berhembus lembut dari luar. Bulan tertutup kabut pekat, hanya deretan temaram yang menjadi sumber cahaya yang perlahan menghilang dalam ketakutan. Eldorado, tempat itu keajaiban yang nyata namun disamarkan dalam sebuah kebohongan.

~THE END~