Sabtu, 31 Oktober 2015

Cahaya di PALESTINA




Oleh : Riss_Fitr

            Palestina masih dilanda dengan berbagai serangan. Mulai dari darat, udara bahkan Laut jika ada. Semakin hari semakin banyak yang menjadi korban peperangan perebutan wilayah yang tak pernah usai. Tidak ada kata tenang untuk sebuah negara islam yang hampir lenyap dari peradaban. Meskipun sudah banyak yang menentang peperangan, demo oleh warga israel sendiri bahkan PBB yang selalu mengelu-elukan perdamaian tak dapat menghentikan serangan. Mungkin sekarang PBB sudah mulai tidak peduli dan mulai kehilangan rasa kemanusiannya. 

            Allah SWT.  tidak akan pernah diam. Meskipun mati dengan serangan bom, tembakan dan kekerasan Palestina tidak akan kehilangan semangat dan cita-cita kemerdekaannya. Walaupun sudah sangat keras orang-orang yahudi itu mencoba mengusir kami dari tanah palestina ini, jika Allah tidak menghendakinya apalah daya mereka. Meskipun berkali-kali mereka mencoba melenyapkan penduduk tapi masih ada yang diselamatkan dan dibiarkan meneruskan generasi agar tidak ada kepunahan. Inilah kehidupan, bertahun-tahun aku hidup dalam gonjang-ganjing kekacauan dan ketakutan . 19 tahun telah berlalu, peperangan tak juga usai.

            Bulan bersinar terang dengan angkuhnya berhiaskan bintang yang terhampar diseluruh penjuru langit seolah ingin mengabaikan rasa was-was dan takut dari wajah-wajah polos anak-anak palestina yang kehilangan keluarga dan masa indah mereka.

            Malam ini kubiarkan diriku sejenak menikmati malam yang dingin dan sunyi yang sudah sangat langka terjadi disini, kurasakan hembusan lembut angin malam yang masuk menerobos melalui jendela kamarku.  Mataku tertuju pada seorang gadis kecil diujung perempatan jalan tak jauh dari tempat kediamanku, ia terdiam sambil memeluk lututnya kupikir mungkin ia sedang menangis tapi kenapa ?. takkan terjawab jika aku masih berdiri disini, dikamarku dan mengamatinya dari jendela aku tidak akan tahu apa yang terjadi padanya.Aku segera keluar dari kediamanku, menembus hawa dingin yang masuk kesum-sum tulang.

“kau mau kemana Shaba ?” seseorang memanggilku saat aku didepan pintu

“ada yang ingin aku lakukan, tidak akan lama” ucapku pada temanku Zainab

“ini sudah Malam, bahaya” ucapnya melarangku

“tidak apa-apa, hanya sebentar” aku meyakinkannya.

“ya sudah, cepat kembali ya” ucap Zainab lagi dengan wajah khawatir

“iya, assalamualaikum” sahutku kemudian segera berlari menuju posisi gadis kecil yang aku lihat dari kamarku dilantai dua. Hanya ada beberapa lampu jalan yang menyala seadanya, cahayanya samar hampir redup namun cukup kalau hanya untuk menerangi jalan setapak diantara gedung-gedung usang yang menjadi perumahan kami.

            Ia sigadis kecil yang aku lihat tadi masih disana, tetap dengan posisnya. Memeluk kedua lututnya. Kucoba menghampirinya ia tak menghiraukan kedatanganku, air matanya mengalir perlahan menuruni lekut wajahnya. Kulihat bibirnya terus bergerak, kuperhatikan dengan jeli ia sedang melapalkan beberapa ayat suci Al-qur’an. Kudekatkan lagi diriku padanya, tak salah pendengaranku ia memang sedang membaca ayat suci Al-Quran. “kenapa ditempat seperti ini” batinku, aku terus bertanya pada diriku sendiri. Aku semakin medekat kearahnya ia berhenti kemudian menatap tajam kearahku, sesaat tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan pengharapan. Air matanya masih berguguran membasahi baju biru muda yang sudah kotor dipenuhi noda-noda lumpur dan  darah, rambutnya acak-acakan tak beraturan.

            Ada perasaan sedih bercampur marah dalam diriku, perlahan air mataku mengalir kurasakan sesak didadaku. Luka yang dulu sempat aku simpan kembali terbuka, gadis kecil didepanku ini  membuatku merasa bercermin pada masa laluku. Kurengkuh ia kurasakan dingin disekujur tubuhnya, ia tersenyum mulutnya kembali melapalkan ayat suci Al-Qur’am yang sempat terhenti.

“apa yang terjadi padamu ?” tanyaku padanya

Ia hanya menatapku, bibirnya tak berkata apa-apa selain ayat-ayat suci yang terus ia bacakan. Kulepaskan jaket yang menghangatkan ku dan kuberikan pada gadis kecil yang berada dipangkuanku.

            Kuperhatikan sekelilingnya tak ada apa-apa kecuali sesosok mayat perempuan yang terbujur kaku dengan kondisi sangat mengenaskan. Kakiku lemah tak kuasa untuk bergerak, kurasakan tubuhku hampir tumbang, dadaku terasa semakin sesak dan kurasakan pusing dikepalaku. Malam ini aku telah menemukan kemabali mozaik kelam hidupku 19 tahun yang lalu. Kepingan ingatan yang selama ini telah kucoba untuk kuhilangkan kembali terulang.

“apa ibu akan bahagia ?” gadis kecil itu bertanya, matanya berkaca-kaca penuh harap

“tentu, Allah akan memberikan tempat yang layak untuknya” ucapku, kulihat sebuah senyum kembali merekah diwajahnya. Aku bergerak mendekati mayat perempuan tanpa busana dengan wajah biru lebam dan penuh darah itu, kututup seadanya dengan beberapa helai baju dan kerudung miliknya yang terlapas tak jauh darinya. Aku tak kuasa melihat wajahnya yang sudah tak bisa dikenali lagi.

            Gadis ini mengingatkanku kembali pada kenangan kelam yang kualami dulu. Kenangan yang hampir membuatku kehilangan semangat hidupku dan telah berhasil merenggut keluargaku.

            Malam itu 19 tahun yang lalu, bulan dan bintang ikut bersembunyi dibalik kabut pekat yang menyelimuti malam. Aku masih berusia 8 tahun hanya bisa menangis melihat kekejaman Zionis Israel yang menerobos masuk kedalam rumahku, kemudian memperlakukan kedua orang tuaku seperti binatang. Mereka menyeret-nyeret ayah dan ibuku, menendang dan memukul mereka tanpa belas kasihan. Tidak peduli dengan ayah dan ibuku yang terus berontak.

“bunuh saja kami, tapi tolong lepaskan kedua putriku” ibuku memohon.

“untuk apa, kau sudah melakukan penghianatan. Inilah balasan untukmu” ucap salah seorang tentara israel kemudian menendang perut ibuku dengan sangat keras. Jika aku sedik lebih berani waktu itu ingin rasa aku mencakar-cakar wajahnya yang angkuh itu.

“tolong lepaskan mereka” ayahku kembali memohon, tangan yang biasanya terlihat kuat dan kokoh saat itu terlihat kerkulai lemah tanpa tenaga untuk melawan.

“seharusnya kau tidak menghianati kami, jadi ini tak perlu terjadi” kata laki-laki lainnya sambil menginjak perut ayahku dengan sangat keras hingga darah seger keluar dari mulutnya. Rasanya rasa sakit itu menjalar ketubuhku. 

“baiklah satu penawaran lagi, apa kau menyesal sekarang. Masih ada waktu untukmu merubah pikiran” pria berbadan paling besar itu memberikan sebuah penawaran,

“tidak kami tidak menyesal. Kami tidak akan menyesal memilih ISLAM sebagai agama kami” ibu bersuara dengan terbata-bata namun lantang. Dapat kulihat sebuah kekuatan dan keyakinan terpancar dari matanya yang lembab oleh air mata.

“keparat, akan segera kubunuh kalian” pria berbadan besar itu sangat marah, ia mengambil pistolnya yang mengarahkan pelatuknya kepelipis kedua orang tuaku. Kakakku Yohana memelukku erat saat itu, badannya dingin tangan gemetar hebat tak ada jalan lari untuk kami. ia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sakit yang sama seperti yang dirasakan kedua orang tuaku.

“kau mungkin bisa menghancurkan dan membunuh kami. Tapi percayalah kalian tidakan akan bisa merampas keimanan kami” ucap ayahku, tak ada keraguan dari setiap kata-katanya. 

            Dengan satu kali tembakan mereka membunuh ayah dan ibuku, suara tembakan pistol itu seakan suara kembang api yang biasanya dimainkan di tahun baru. Mereka terlihat senang, tidak sangat senang setelah melakukannya, percikan darah segar muncrat hingga kearahku. kemudian menendang mayatnya seenak hati mereka didepanku dan kakakku. Tak ada yang bisa kami lakukan saat itu selain menangis dan terus berdo’aa agar Tuhan masih  memberi kami kesempatan untuk hidup. Entah apa yang terjadi saat itu tiba-tiba kakakku berdiri dan berteriak dengan lantang didepan para tentara Zionis Israel. 

“Asshaduallailahaillallah wa ashaduannamuhammadarasulullah” berulang kali ia meneriakkan kalimat syahadat itu di depan para tentara Zionis Israel. 

            Mereka sangat marah mendengar kalimat-kalimat yang di teriakan ka Yohana. Mereka menyeretnya dan berlaku lebih keji padanya. Mereka, Zionis israel biadab itu membunuhnya secara perlahan, menyiksanya tanpa perasaan dan memeperlakukannya seperti bukan seorang manusia. Bagiku mereka adalah setan berwujud manusia karena itu tak ada rasa kasihan dalam diri mereka. Dengan nafsu setannya mereka merenggut kehormatan kakak perempuanku. Kemudian tidak puas dengan itu mereka menendang, memukul dan menyobek-nyobek kulinya sedikit demi sedikit mereka memainkan pisau kecil disekujur tubuhnya, seolah ia adalah kanvas hidup yang dapat dengan sesuka hati mereka lukis dengan ujung pisau yang selalu mereka bawa. Semakin keras kakakku mengucapkan Takbir semakin jadi ulah mereka. Setelah memastikan korbannya sudah tak bernyawa lagi, mereka meninggalkannya seperti sampah dan tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Tanpa perasaan takut akan dosa mereka pergi meninggalkan jejak luka yang sangat dalam untuk seorang anak. Shaba Kecil, ya itu aku. Aku telah mengalami banyak luka, tekanan dan penderitaan siksaan yang mereka buat menjadi sebuah memory menyakitkan bukan untuk fisikku tapi dijiwaku.

Kini kejadian itu terjadi lagi pada Shaba lainnya, luka itu terpatri lagi dalam hati gadis kecil di pangkuanku. Mungkin kejadiannya tidak sama, tapi luka dan kesedihannya tetaplah sama. Ada hal yang membuatku lebih baik dengan kejadian itu, sejak itu aku memilih menjadi seorang Muslimah seperti kedua orang tuaku dan kakak perempuanku. Karena kejadian itu, keinginanku dan keyakinanku meninggalkan agama Yahudi dan memeluk islam semakin kuat dan besar. 

            Aku masih tak bergerak dari posisiku, kurasakan tubuh kecil gadis malang ini kembali menghangat matanya sudah terpejam, ia tertidur dengan lelap dan tenang. Tak ada wajah takut padanya, yang ada hanya sebuah senyum kemenangan. Ku bawa ia menuju rumahku agar dapat tidur dengan tenang dan nyaman.

            Ada satu hal yang membuatku senang, saat para Zionis itu bisa membuat kami merasa tertekan aku percaya seperti yang ayahku katakan Mereka tidak akan pernah menang. Meskipun mereka berhasil membunuh seluruh keluarga kami, merampas keindahan masa kecil kami dan menghancurkan kedamaian dan ketentraman yang pernah kami miliki. Mereka tidak akan pernah dapat mengusir kami dari tanah ini, tanah kelahiran kami walaupun aku tidak dilahirkan disini, Palestina akan selalu merindukan kedamaian dan kemerdekaanya. Mereka tidak akan pernah bisa merebut tanah ini karena cita-cita anak palestina sudah mengakar disini. Pengeboman, serangan, kekerasan, dan ancaman mungkin bisa membuat kami ketakutan tapi tidak bisa membuat kami menjauh. Kami mungkin akan kehilangan keluarga, tempat tinggal bahkan nyawa tapi mereka Zionis israel itu tidak akan pernah menang sampai kapanpun kerena kami pera penduduk palestina tidak akan pernah kehilangan sisi kemanusian, cinta, kasih sayang, dan Keimanan. 

            Karena aku percaya Palestina tidak akan Malam selamanya, Matahari pasti akan muncul setelah malam yang gelap dan panjang berlalu. Cahaya tidak akan selamanya redup,  masih ada lampu yang tersisa dari semangat anak-anak Palestina yang akan segera menyala dan terus bercahaya sepanjang masa.

~END~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar