A. Kesesuaian
Pilihan Kata
Persoalan kedua dalam pendayagunaan kata-kata adalah kecocokan atau kesesuaian. Perbedaan antara ketepatan dan kecocokan pertama-tama mencakup soal kata mana yang akan digunakan dalam kesempatan tertentu, walaupun kadang-kadang masih ada perbedaan tambahan berupa perbedaan tata bahasa, pola kalimat, panjang atau kompleksnya sebuah alinea, dan beberapa segi yang lain.
Secara
singkat perbedaan antara persoalan ketepatan dan kesesuaian adalah: dalam
persoalan ketepatan kita bertanya apakah pilihan kata yang dipakai sudah
setepat-tepatnya, sehingga tidak akan menimbulkan interpretasi yang berlainan
antara pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca sedangkan dalam
persoalan kecocokan akan kesesuaian kita mempersoalkan apakah pilihan kata dan
gaya bahasa yang dipergunakan tidak merusak suasana atau menyinggung perasaan
orang yang hadir.
B.
Syarat-Syarat Kesesuaian Diksi
Bahasa mana pun di dunia ini selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan dan waktu ke waktu. Tingkat perubahan yang dialami tiap bahasa tergantung dan bermacam-macam fàktor: kebutuhan untuk menyerap teknologi baru yang belum dimiliki, tingkat kontak dengan bangsa-bangsa lain di dunia, kekayaan budaya asli yang dimiliki penutur bahasanya, dan macam-macam faktor yang lain.
Di samping
unsur-unsur bahasa yang dikuasai dan dikenal oleh seluruh anggota masyarakat
bahasa, ada juga unsur bahasa yang terbatas penuturnya, walaupun mereka berada
di dalam masyarakat bahasa yang sama. Unsur-unsur semacam itu dikenal dengan
pelbagai macam nama: bahasa slang, jargon, bahasa daerah atau unsur daerah, dan
sebagainya. Kata-kata yang termasuk dalam kelompok ini harus dipergunakan
secara hati-hati agar tidak merusak suasana. Bila suatu situasi yang formal
tiba-tiba dimasuki oleh kata-kata yang bersifat kedaerahan, maka suasana yang
formal tadi akan terganggu.
Sebab itu
ada beberapa hal yang perlu diketahui setiap penulis atau pembicara, agar
kata-kata yang dipergunakan tidak akan mengganggu suasana, dan tidak akan
menimbulkan ketegangan antara penulis atau pembicara dengan para hadirin atau
para pembaca. Syarat-syarat tersebut adalah:
- Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi yang formal.
- Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara meinpergunakan kata-kata populer.
- Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum.
- Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang.
- Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan.
- Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati).
- Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial.
C. Bahasa
Standar dan Substandar
Bahasa standar adalah semacam dialek kelas dan dapat dibatasi sebagai tutur dan mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Secara kasar kelas ini dianggap sebagai kelas terpelajar. Kelas ini meliputi pejabat-pejabat pemerintah, ahli-ahli bahasa, ahli-ahli hukum, dokter, pedagang, guru, penulis, penerbit, seniman, insinyur, serta semua ahli lainnya, bersama keluarganya.
Bahasa
nonstandar adalah bahasa dan mereka yang tidak memperoieh kedudukan atau
pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan
biasa, tidak dipakai dalam tulisan-tulisan. Kadang-kadang unsur nonstandar
dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda-gurau, berhumor, atau
untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Bahasa
nonstandar dapat juga berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah
bahasa standar tadi. Bila demikian, bahasa nonstandar itu disebut bahasa
substandar. Ada juga bahasa nonstandar yang dipakai hanya oleh rakyat jelata,
secara khusus oleh orang-orang buta huruf. Bahasa ini disebut bahasa vulger
(dan kata vulgus = rakyat jelata). Hendaknya dihindari anggapan bahwa bahasa
vulgar atau bahasa nonstandar itu adalah bahasa yang tidak senonoh atau bahasa
kasar.
Bahasa
standar lebih ekspresif dan bahasa nonstandar. Bahasa nonstandar biasanya cukup
untuk dipergunakan dalam kebutuhan-kebutuhan umum. Kata-katanya terbatas,
sehingga sukar dipakai dalam menjelaskan berbagai macam gagasan yang kompleks.
Penolakan bahasa nonstandar dalam pergaulan umum semata-mata bersifat sosial.
Dalam persoalan linguistik tidak ada bahasa yang lebih tinggi tingkatnya dan
bahasa yang lain. Penggunaan ungkapan-ungkapan atau unsur-unsur yang nonstandar
akan meneerminkan bahwa latar sosial-ekonomis si pemakai masih terbelakang atau
masih rendah. Itulah sebabnya, orang-orang yang terpelajar juga segan
mempergunakan unsur-unsur tadi.
C. Kata
Ilmiah dan Kata-Kata Populer
Bagian terbesar dan kosa kata sebuah bahasa terdiri dan kata-kata yang umum dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik yang terpelajar maupun oleh orang kebanyakan atau rakyat jelata. Kata-kata inilah yang merupakan tulang punggung dan setiap bahasa mana pun di dunia ini. Kata-kata ini yang selalu akan dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik antara mereka yang berada di lapisan atas maupun antara mereka yang di lapisan bawah atau antara lapisan atas dan lapisan bawah. Karena kata-kata ini dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat, maka kata ini diriamakan kata-kata populer.
Di samping
kata-kata populer tersebut, ada sejumlah kata yang biasa dipakai oleh kaum
terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah. Di samping tulisan-tulisan
ilmiah, kata-kata itu juga dipakai dalam pertemuan-pertemuan resmi, dalam
diskusi-diskusi yang khusus, teristimewa dalam diskusi-diskusi ilmiah.
Kata-kata ini disebut kata-kata ilmiah.
Perbedaan
antara kedua jenis kelompok kata ini dapat digambarkan secara sederhana dengan
mempertentangkan pasangan yang secara kasar dianggap mempunyai makna yang sama:
|
Kata
Populer
|
Kata
Ilmiah
|
|
sesuai
peeahan
aneh
bukti
kesimpulan
kiasan
rasa benei
|
harmonis
fraksi
eksentrik
argumen
konklusi
analogi
antipati
|
Harus
diingat bahwa kategori kata-kata populer dan kata-kata ilmiah itu setiap saat
dapat bergeser dan kategori yang satu ke kategori yang lain. Sebuah kata asing
yang mula-mula dipakai oleh golongan terpelajar, karena sering dipakai lambat
laun meresap ke lapisan bawah, akhirnya berubah statusnya menjadi kata-kata
populer. Sebaliknya sebuah kata populer pada suatu waktu dapat diberi nilai
yang khusus sehingga bisa memperoleh status kata-kata ilmiah, atau kata yang
hanya dipakai oleh golongan terpelajar dengan pengertianpengertian yang sangat
terbatas.
E. Jargon
Kata jargon mengandung beberapa pengertian. Pertama-tama jargon mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap kurang sopan atau aneh. Tetapi istilah itu dipakai juga untuk mangaeu semacam bahasa atau dialek hibrid yang timbul dan percampuran bahasa-bahasa, dan sekaligus dianggap sehagai bahasa perhubungan atau lingua franea. Makna yang ketiga mempunyai ketumpangtindihan dengan bahasa ilmiah. Dalam hal ini, jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya.
F. Kata
Percakapan
Yang dimaksud dengan kata percakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang-orang yang terdidik. Termasuk di dalam kategori ini adalah ungkapan-ungkapan umum dan kebiasaan menggunakan bentuk-bentuk gramatikal tertentu oleh kalangan ini. Pengertian percakapan di sini sama sekali tidak boleh disejajarkan dengan bahasa yang tidak benar, tidak terpelihara atau yang tidak disenangi.
G. Kata
Slang
Kata-kata slang adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau murni. Kata slang adalah kata-kata nonstandar yang informal, yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbilrer; atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadangkala kata slang dihasilkan dan salah ueap yang disengaja, atau kadangkala berupa pengrusakan sebuab kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain.
H. Idiom
Biasanya idiom disejajarkan dengan pengertian peribahasa dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya pengertian idiom itu jauh lebih luas dan peribahasa. Yang disebut idiom adalah pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya.
I. Bahasa
Artifisial
Yang dimaksud bahasa artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannya untuk menyatakan suatu maksud. Fakta dan pernyataan-pernyataan yang sederhana dapat diungkapkan dengan sederhana dan langsung tak penlu disembunyikan.
Artifisial
: Ia mendengar kepak sayap kelelawar dan guyuran sisa hujan dan dedaunan,
karena angin pada kemuning. Iamendengar resah kuda serta langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh.
Biasa
: Ia mendengar hunyi sayap
kelelawar dan sisa hujan yang ditiup angin di daun. Ia mendengar derap kuda dan
pedati ketika langit mulai terang.
Sumber:
Keraff, sastra Indonesia, Susastra.blog
Tidak ada komentar:
Posting Komentar